Bentrokan di Universitas Nasional

BENTROKAN yang terjadi antara polisi dan mahasiswa di kampus Universitas  Nasional, Jakarta,  sebenarnya bisa dihindarkan  jika aparat tak terpancing provokasi. Peristiwa yang terjadi pada Sabtu dini hari dua pekan lalu itu sangat disesalkan. Untuk kesekian kalinya kita melihat tidak profesionalnya aparat ”korps baju coklat  muda” ini menangani demonstran

Insiden ini, seperti kita ketahui, memakan korban. Tidak hanya di pihak mahasiswa, juga aparat. Polisi menyatakan sejumlah anggotanya luka-luka terkena lemparan batu dan bom molotov. Sementara puluhan mahasiswa luka-luka akibat gebukan polisi. Selain itu, puluhan kendaraan remuk dan fasilitas belajar-mengajar porak-poranda karena peristiwa ”Sabtu kelabu” tersebut. Kini, dari seratus mahasiswa yang diperiksa, polisi masih menahan 30-an di antaranya.

Mahasiswa berdemo adalah hal biasa.  Undang-Undang menjamin siapa pun boleh berunjuk rasa karena ini merupakan hak politik dan bagian dari kebebasan menyatakan pendapat. Jumat malam  dua pekan lalu itu,  para mahasiswa berdemo menentang kenaikan bahan bakar minyak. Kenaikan itu mereka anggap hanya menambah kesengsaraan masyarakat bawah yang hidupnya sudah termehek-mehek, telah teramat susah.  Unjuk rasa digelar beberapa saat setelah Pemerintah malam itu mengumumkan kenaikan BBM sebesar 28, 7 persen.

Polisi punya alasan untuk membubarkan demo tersebut. Unjuk rasa itu dianggap kelewatan, sudah mengganggu ketertiban masyarakat. Selain menutup akses jalan umum, para mahasiswa memang mewarnai unjuk rasa mereka dengan membakar ban dan melakukan orasi sepanjang malam. Menurut polisi, warga tidak bisa istirahat akibat ulah para mahasiswa.  Alih-alih membujuk para mahasiswa menghentikan aksi mereka, polisi justru bentrok dengan mahasiswa Mahasiswa yang terdesak masuk ke kampus. Polisi mengejar dan melakukan sweeping. Siapa pun di dalam kampus ditangkap, diseret dan dikumpulkan di lapangan. Polisi kemudian mengumumkan menemukan dua granat, puluhan botol minuman keras, dan ganja di dalam kampus tersebut.

Jika kemudian muncul ”hujan kecaman” terhadap cara polisi menangani demo di Universitas Nasional itu, tentu hal yang wajar. Menyerbu, menangkapi, dan memukuli mahasiswa dengan brutal jelas tindakan tak patut dilakukan oleh korps yang menjuluki dirinya ”pengayom masyarakat” ini. Polisi tentu punya cara lebih jitu untuk ”menjinakkan” mahasiswa ketimbang dengan tindakan represif yang mereka tunjukan itu. Tindakan polisi terhadap para mahasiswa memang telah mencoreng citra polisi sendiri.

Sebuah tim pencari fakta (fact finding) harus dibentuk untuk mengungkap kasus ini. Anggota tim ini bisa berasal dari kepolisian sendiri, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, pihak kampus, warga sekitar, dan Komisi Kepolisian Nasional. Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) perlu dilibatkan karena mereka memiliki tanggung jawab untuk  membentuk polisi yang profesional. Dengan anggota beragam itu, tentunya akan didapat hasil yang obyektif.

Siapa pun yang bersalah dalam kasus ini harus mendapat hukuman setimpal. Mahasiswa dan lingkungan kampus tidaklah  kebal hukum. Jika terbukti ada pelanggaran pidana, termasuk menyimpan granat atau memakai obat terlarang, para mahasiswa harus mempertanggungjawabkannya. Demikian pula polisi. Perlu diusut kenapa polisi sampai bertindak demikian anarkis. Jika itu perintah atasan, jelas atasannya tidak bisa lepas tangan. Kita tak ingin dalam kasus ini yang kemudian jadi korban hanya polisi berpangkat rendah dan sekadar menjalankan perintah.

Kita sepakat unjuk rasa adalah perlu dan hak setiap orang. Asal tertib dan tak melanggar hak orang lain juga.(LR.Baskoro)

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s