Ke Bali dengan Murah dan Efektif

JANJI saya membawa anak-anak dan isteri ke Bali akhirnya kesampaian juga. Setelah hampir setahun ditagih-tagih ke dua anak saya, akhirnya kami berlima, saya, istri dan tiga anak saya pergi ke Denpasar pada akhir Desember 2007.  Ini perjalan saya dan istri kedua. Pertama, kami ke Pulau Dewata ini pada 1995, sekitar dua minggu setelah perkawinan. Ya, perjalanan berbulan madu. Jadi, anggap saja sekarang napak tilas, sekaligus mengunjungi tempat-tempat yang dulu, sepuluah tahun silam lebih itu,  belum pernah kami datangi berdua.

Berangkat di akhir tahun ini jauh dari efektif sebenarnya. Ini akhir tahun dan siapa pun tahu hotel-hotel di Bali sudah dipesan jauh hari oleh para turis asing. Tapi, apa boleh buat, demikian waktu cuti yang bisa saya dapat: akhir tahun. Yang Penting Murah, Ramai, dan Lengkap

Saya lantas membuat daftar yang wajib dikunjungi. Pertama-tama, saya memperioritaskan tempat wisata yang anak-anak wajib untuk mengetahuinya berhubung nama-nama itu sudah sangat terkenal. Yakni, Pantai Kuta, Tanah Lot, Sangeh, Pura Besakih.  Anak saya perempuan,  Chanisyah Lintang Bagaskari,  yang berumur delapan tahun punya usul  lain. “Candi yang ada di uang Rp 50 ribu itu,” ujarnya.  Yang ia maksud: adalah Pura Ulun Danu di Danau Brantan.

Tapi, yang paling penting tentu saja piknik ke Bali ini memakai metode  biaya seminimal mungkin, tapi tempat yang dikunjungi adalah selengkap-lengkapnya. Lantaran waktu cuti yang terbatas, maka waktu untuk berada di Bali hanya empat hari. 

Pilihan Tempat Menginap.
Saya memutuskan untuk menginap di seputar Pantai Kuta. Setelah tanya kiri-kanan dan menginterogasi sejumlah teman-teman yang pernah pergi ke Bali dengan cara “murah-meriah,” akhirnya saya tetapkan tempat menginap adalah di Jalan Poppies Line II.

Poppies Line bisalah disebut dengan “kampung bule.” Di sini terdapat banyak tempat penginapan murah, kendati ada pula sejumlah hotel berbintang seperti Hotel Barong atau Hotel Bounty. Yang pasti jika kita masuk daerah ini, maka pemandangan yang ada semata-mata yang orang bule melulu. Terutama, dari Australia. Suasana seperti ini mengingatkan saya pada Jalan Sosrowijayan di Yogyakarta atau Jalan Jaksa di Jakarta.  Bedanya, wilayah Poppies Line II lebih luas. Kesamaannya: di mana-mana yang terlihat para bule jalan atau duduk-duduk sembari menggenggam botol bier. Dan yang penting jaraknya dekat dengan Pantai Kuta. Cukup jalan kaki sudah sampai di pantai berpasir putih itu.

Jelas satu botol bir di wilayah seperti ini jauh lebih murah ketimbang di hotel berbintang. Di cafe-cafe yang bertebaran di Poppies Line harga  sebotol bir itu sekitar Rp 15 ribu. Dengan dua atau tiga botol, seorang bule  bisa menghabiskan malam di cafe sembari cekakak-cekikik bersama gerombolannya.

Penginapan atau hotel klas Melati di Poppies Line II selain murah, bersih, juga terutama aman. Ada beberapa hotel di sana yang sempat saya kunjungi dan masuki. Antara lain, Losmen Cempaka, atau  Ronta Bungalow. Saya sempat menginap di losmen Balin In.  Per malam Rp 70 .000. Harga ini, jika bukan hari libur semalam bisa Rp 50. 000.

Ini hotel-hotel jika ingin menginap di Pantai Kuta.
Hotel berbintang, terbilang mewah. Ada kolam renang, kamar AC,
1.Indah Beach (Poppies Lane II Kuta No. 8 telepon: 0361 753327
2.Hotel Bounty (0361 753030)  lebih mewah ketimbang Indah Beach
3. Hotel Barong  (0361 751804)
4.Bendesa Accomodation- ini hotel ful gaya tradisional Bali. Per malam sekitar Rp 250.000-Rp 300.000)

Yang murah, bersih, dan nyaman losmen di Pantai Kuta:
Losmen Cempaka (0361 754744
Ronta Bungalow (0361) 754246

*

Nah, turun dari pesawat di Bandara Ngurah Rai, saya langsung naik taxi, sekitar Rp 25 000 ke Poppies Line ini. Awalnya saya menginap di Hotel Barong. Ini hotel terbilang mewah. Ada kolam renang, ada bath up dengan harga per malam Rp 350.000. Maklum, peakseason, padahal biasanya sekitar Rp 250-300 ribu. Sempat dua malam saya di hotel ini sebelum akhirnya saya harus keluar karena memang jatahnya cuma dua hari. Ya, maklum menjelang tahun baru. Dari sinilah saya lalu menginap di beberapa hotel -tepatnya losmen- yang murah. Prinsipnya waktu itu, toh lebih banyak pergi jalan-jalan. Jadi kenapa harus membuang uang untuk hotel yang hanya tidur beberapa jam itu?
Yang pasti, dengan menginap di sini, saya dan anak-anak tiap pagi bisa jalan-jalan ke Kuta atau malamnya jalan-jalan ke Tugu peringatan Bom Bali. Tugu itu memang dekat dengan daerah Poppies Line.

Makan  Murah, Enak, halal di Kuta,  Bali

Makan adalah sesuatu yang gampang-gampang susah di Kuta. Banyak memang cafe, atau orang-orang jualan di Pantai Kuta. Tapi, kalau pagi? Atau malam? Ada memang McDonald. Tapi, selain jika tiap hari makan-makanan seperti ini, selain bosan, jelas bisa membobol kantong. Untuk lima orang, bisa-bisa sekali makan habis sekitar  seratus ribu.
Nah, di Poppies Line, ada warung namanya Restoran Indonesia. Selain halal, pelayanannya cepat, juga murah. Dengan Rp 15. 000 perut kenyang dan menunya pun beragam. Ikan, ayam, tempe, sambal dll. Selama menginap di daerah Kuta, setiap malam, saya dan anak-anak selalu makan malam di Restoran Indonesia ini. Letaknya di Jalan Ronta, dekat Ronta  Bungalow. Di sebelah Restoran Indonesia ini ada warung padang dan juga restoran yang khusus menjual menu-menu seperti “berbau mie.” Mereka yang hobby merat dengan masakan Cina, mungkin cocok untuk makan di restoran ini.

Nah, di depan  Restoran Indonesia ini ada tempat tatto. Namanya Mr. Liack Bali. Bisa tatto temporer atau “tatto tetap” di sini. Tarifnya tergantung sulit atau mudah gambarnya. Kalau yang temporer sekitar Rp 35 ribu, Yang tetap sekitar Rp 70 ribu.

Menyusun  Jadwal

Saya datang ke Denpansar saat kota ini sedang dihajar hujan terus menerus. Dari  Bandara,  hujan lebat terus mengguyur. Dengan taxi, kami menuju Hotel Barong, yang sebelumnya sudah saya pesan dari Jakarta  (dan hanya bisa diisi selama dua hari itu). Begitu tiba di Hotel ini, air sudah semata kaki. Aku menggendong anakku yang berumur tiga tahun untuk langsung masuk kamar.
Ya, malam ini kami, lima beranak hanya meringkuk di kamar hotel. Nonton TV  dan baru tahu dari TV lokal: Denpasar dilandai badai dan hujan. Alamak…..

Hari pertama
Rencana hari ini adalah jalan-jalan di seputar Kuta saja. Antara lain, lihat-lihat pertokoan Kuta Square, lihat Pantai Kuta, jalan-jalan di Legian dan sekitarnya. Ya, sembari ngelemesin kaki.
Bangun jam empat, sholat dan maunya jalan-jalan ke Pantai Kuta. Tapi, hujan turun terus. Sekitar pukul 11 baru reda. Akhirnya, kami buru-buru keluar kamar. Hari ini, kami makan di McDonald di tepi jalan Pantai Kuta. Dari restoran amerika ini, kita bisa melihat debur pantai Kuta. Rencana untuk mandi-mandi di Pantai Kuta dibatalkan lantaran angin kencang yang gila-gilaan. Pantai hari itu benar-benar lengang.

Hari kedua.
Alhamdullilah udara cerah. Kemarin malam, saya sudah pesan lewat petugas hotel  -tepatnya dia yang menawarkan-  mobil untuk keliling-keliling Bali. Tapi lantaran tidak jadi datang, akhirnya saya batalkan. Kesal juga mendapat kenyataan seperti ini. SARAN: Jika cari mobil sewaan. Cari sendiri. Periksa mobil itu sendiri. Jangan pakai perantara.
Akhirnya saya dapat mobil juga. Saya pilih mobil Katana. Sewanya Rp 150  ribu sehari. Bensin isi sendiri. Dengan bekal peta saya meluncur. Setelah diskusi dengan istri saya, maka  rute kali ini saya tetapkan sebagai berikut: tujuan kali ini adalah melihat obyek wisata Ubud,  Pasar Seni Sukowati, Istana Presiden Tampak Siring, Danau Batur yang di sana terkenal dengan suku Trunyannya itu, dan kalau bisa ke Pura Besakih, pura terbesar di Bali itu.

Nah, akhirnya rute ke Bali hari pertama demikian: Hotel-  Danau Batur-Pura Besakih-Tampak Siring-Ubud-Pasar Sukowati-Hotel. Saya berangkat sekitar pukul 9 pagi.

Ternyata pilihan ini tepat. Saya tancap gas dulu ke Danau Batur. Lihat-lihat sebentar, kemudian turun dan memotong  jalan menuju Pura Besakih. Masuk Pura ini wajib memakai selendang. Akhirnya beli selendang Rp 5.000. Masuk Pura membayar Rp 8.000. Betul-betul pemandangan indah di sini. Saya naik ke tangga teratas dan berfoto bersama keluarga.

Nah, dari Pura ini, saya kemudian “naik” kembali ke Danau Batur, setelah itu rutenya baru menurun. Ke Istana Tampak Siring. Melihat sebentar istana, kemudian turun lagi ke Ubud, dan langsung ke Pasar Sukowati. Dari Ubud sampai Sukowati, kita melintasi Desa Celuk. Ini pusat kerajinan  perak. Di Sukowati, istri saya memborong kaos yang rata-rata harganya sekitar Rp 10 ribu. Dari Sukowati, saya langsung pulang ke Hotel. Sampai  Hotel sekitar pukul 7 malam. Maklum, jalanan macet.  Alhasil: yang bikin lama memang di dalam kota itu sendiri.

SARAN: hati-hati jika dari Danau Batur ke Pura Besakih. Jalan cukup berlika-liku dan agak curam. Pakailah jenis mobil yang benar-benar dikuasai. Tapi, jika biasa  ke Puncak, Bogor, ya, lewat daerah ini sih, dijamin lolos.
Hari ketiga:
Kali ini wisatanya adalah masih wilayah  pegunungan. Sasaran utama: Bedugul, Danau Bratan dan Pura Ulun Danau. Saya merencanakan ngebut ke tempat itu dulu, baru kemudian, seperti hari pertama, turun, sembari singgah ke tempat wisata lainnya, yakni  tempat “kerajaan monyet,”  Sangeh, dan Pura Taman Ayun, Mengwi.

Lantaran Bedugul  terletak di “atas.” Saya berangkat agak pagi. Bensin diisi Rp 100 ribu, lantas sekitar dua setengah jam, santai saja, sampai di Danau Bratan. Tanda masuk untuk anak-anak Rp 5 ribu dan dewasa Rp 7. 500.  Dari sini lantas perjalanan turun ke Sangeh. Menuju ke  Sangeh, kita melewati Pura Taman Ayun.

Tapi, tujuan utama tentu saja Sangeh dulu. Inilah pengalaman paling mendebarkan. Setelah membayar Rp 5 ribu, Anda akan ditemani seorang pawang. Sang pawang ini pandai memanggil kera-kera yang sebenarnya jinak itu. Seorang jurufoto siap mengabadikan para monyet yang bertemu dengan “saudaranya” itu. Untuk foto yang langsung jadi, kita membatar per foto Rp 10. ribu, ada pun untuk pawang seiklasnya. Saya memberinya Rp 10. ribu.

Dari Sangeh, saya kembali ke rute semula, melewati Pura Taman Ayun. Ini pura tua yang terletak di kolam dan peninggalan dari Kerajaan Mengwi. Kolam di Pura Taman Ayun itu, dulu konon tempat mandi para dayang-dayang raja.  Saya mampir sebentar, tidak masuk, untuk berfoto dengan latar belakang Pura Taman Ayun itu. Hari menjelang sore. Angin semilir. Jika tidak ingat bahwa harus secepatnya pulang ke Hotel untuk menikmati Kuta di waktu malam, ingin rasanya masuk ke Pura itu.   Malamnya, saya, istri dan anak-anak  jalan-jalan ke  Tugu peringatan tragedi bom Bali.

Hari ke Empat:
Tanah Lot! Ini jadwal untuk menikmati sunset. Kata orang, kurang lengkap ke Bali tanpa  ke Tanah Lot. Pagi-pagi, sekitar jam lima, setelah sholat subuh, kami jalan-jalan dulu ke Pantai Kuta. Anak saya, yang tertua, Rabbani Mahatma Bagaskara, alias Bagas, ingin nyebur ke pantai. Tidak berlama-lama, tentu, sembari masih berbasah-basah dengan air laut, kami berlari ke hotel. Yap, perjalanan ke Tanah Lot segera dimulai. Berangkat jam sembilan, perjalanan ke Tanah Lot sekitar tiga jam. Untuk masuk ke sana setiap pengunjung membayar Rp 7.500.

Tanah Lot adalah tempat yang tepat jika ingin menikmati Sunset. Dibanding sepuluh tahun silam, saya banyak melihat hal yang sudah berubah. Sekarang lebih rapi, dan ahai….tetap saja ada ular di dalam gua yang dipertontonkan. Pengunjung membayar sukarela untuk menuntuk seekor ular yang disebut suci itu.

Di Tanah Lot ini banyak dijual beragam cinderamata. Harus pandai-pandai menawar. Harga kaos per helai Rp 25.000. Lebih mahal dibanding Pasar Sukawati memang. Tapi, kualitasnya memang lebih baik. Anak saya, Bagas, membeli sebuah sovenir biola. Sebagai pemain biola, ia ingin punya suvenir berbentuk alat musik kesayangannya itu. Saya tersenyum melihat keuletannya anak kelas satu SMP itu menawar biola yang awalnya seharga Rp 40 ribu itu bisa menjdi Rp 15 ribu.

Ya, akhirnya, sebelum menatap Sunset, kami pulang. Bagas ingin mandi di Pantai Kuta. Sampai hotel, berganti celana pendek, kami menyerbu Pantai Kuta. Di sini disewakan papan peluncur seharga, yang kecil Rp 15 ribu dan besar Rp 25.000.  Bagi Anda yang baru ke Kuta dan ingin menyewa alat ini, lebih baik tanya kiri-kanan dulu harga sewanya. Para pedagang di Kuta sangat agresif, termasuk ibu-ibu yang memberi jasa membuat rambut keriting-keriting kecil itu. Seorang ibu mengejar tanpa putus asa istri saya, agar memakai jasanya mengeriting rambut anak perempuan saya, Lintang. Akhirnya si ibu ini berhasil juga. Sementara saya dan Bagas bermain ombak, Lintang rambutnya dipermak, dan tampilannya menjadi lucu. Ya, ke Bali, memang untuk bersenang-senang. Inilah salah satu, mungkin, kenangan hidup kami, yang tak terlupakan. ***

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s