Opini: Kasus Sudjiono Timan dan Mahkamah Agung

Oleh L.R. Baskoro

Mahkamah Agung mengabulkan Peninjauan Kembali Sudjiono Timan, terpidana korupsi yang berstatus buron. Melukai rasa keadilan masyarakat.

Komisi Yudisial harus segera memeriksa lima hakim yang memutus perkara Sudjiono Timan. Jika mereka, atau di antara mereka, terbukti melakukan pelanggaran etika atau hukum dalam menangani kasus bekas Direktur Utama PT Bahana Pembinaan Usaha Indonesia itu, maka sanksi seberat-beratnya mesti dijatuhkan.  Hukuman keras ini perlu dilakukan karena tindakan mereka telah menciderai rasa keadilan masyarakat.

Keputusan para hakim agung ini memang kontroversial. Bukan saja mereka menyatakan Sudjiono tak melakukan korupsi dengan alasannya perkaranya masuk ranah perdata,  tapi PK itu diajukan dan dikabulkan dalam status Sudjiono buron.  Putusan ini memang tak bulat karena dari lima hakim, satu di antaranya,  Sri Murwahyuni, melakukan dissenting opinion alias beda pendapat.

Majelis hakim yang diketuai Suhadi dan tiga hakim lainnya, Andi Samsan Nganro, Abdul Latief, dan Sophian Marthabaya  menerima novum yang diajukan pengacara Sudjiono, yakni putusan Mahkamah Konstitusi pada 2006 mengenai pasal 2 ayat 1 Undang-Undang No.31/1999 tentang Pemberantasan Korupsi. Putusan itu mencabut frasa pemidanaan berdasarkan perbuatan melawan hukum dalam arti luas, termasuk yang tidak diatur secara formal.  Majelis menyatakan Sudjiono hanya melanggar kepatutan (material), bukan undang-undang. Karena itu tidak bisa dipidana.

Sebelumnya, pada tingkat kasasi, pada 2004, Sudjiono dihukum 15 tahun penjara dan denda Rp 396 miliar. Ia dinyatakan  merugikan keuangan negara lebih dari Rp 2 triliun karena menggelontorkan duit  yang semestinya untuk membina usaha  kecil dan menengah ke sejumlah  konglomerat. Pinjaman itu belakangan macet.  Ia juga disebut mengalirkan duit Bahana ke perusahaannya sendiri. Saat hendak dieksekusi, Sudjiono kabur ke luar negeri. Sejak itulah Yujin –demikian Sudjiono biasa dipanggil koleganya- masuk daftar pencarian orang (DPO) sampai kemudian hakim PK membebaskan dirinya akhir Juli lalu.

Kendati majelis hakim menyatakan putusan yang mereka jatuhkan itu tak melanggar aturan apa pun,  toh kita bisa bertanya: apakah para hakim tak mempertimbangkan “rasa keadilan publik,” menerima upaya hukum seseorang yang berstatus buron?

Harus diakui ada kelemahan dalam ketentuan pengajuan PK yang diatur Surat Edaran Mahkamah Agung No.1/2012 dan Pasal 263 KUHAP. Di situ tak diterangkan, misalnya, apakah seorang buronan bisa mengajukan PK, juga  “definisi” ahli waris, pihak yang menurut UU bisa  mengajukan PK. Sebagian hakim menyebut ahli waris hanya bisa mengajukan PK jika terpidana meninggal, yang lain menyatakan tidak perlu terpidana meninggal. Dalam kasus Yujin rupanya hakim menganut yang terakhir. Mereka menerima PK yang diajukan istri Sudjiono.

Kita menyayangkan sikap ini.  Mestinya, demi kepastian hukum, hakim berani menyatakan, pengajuan PK oleh ahli waris hanya bisa diterima jika terpidana telah meninggal. Bukankan hakim memiliki kekuasaan untuk menemukan hukum (recht vinding)?  Ini penting sebab,  jika tidak,  “kasus PK Yunjin” akan dijadikan “yurisprudensi” para koruptor yang berstatus buron: mengajukan PK, lewat istri atau anaknya, sementara mereka sendiri ngumpet  di luar negeri.

Kita juga bisa mempertanyakan novum yang diterima majelis hakim. Jika mengacu pada pengertian  novum adalah  bukti baru yang jika bukti itu dulu muncul di persidangan maka terdakwa akan dibebaskan, apakah  putusan MK  bisa disebut novum? Dan jika itu pun disebut “novum,” apakah novum bisa berlaku surut?  Secara logika hukum, mestinya itu tak bisa dipakai.

Vonis bebas Sudjiono memang sangat patut dicurigai. Karena itu, Komisi Yudisial mesti membongkar kasus ini. Memeriksa para hakimnya dan menelisik ada apa di balik semua ini. Sebab, siapa tahu, tangan-tangan mafia peradilan, bermain dalam perkara ini. ***

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s