Jenderal Hoegeng, Sosok Sederhana

Kapolri Jenderal Hoegeng di Mata Sekretarisnya

IMG_2088Sebuah buku tentang profil seseorang yang layak diteladani telah terbit. Judulnya, Hoegeng. Polisi dan Menteri Teladan. Ya, ini buku tentang Pak Hoegeng (nama lengkapnya Hoegeng Iman Santoso) bekas Kapolri periode 1966-1971 yang sangat legendaris, terutama menyangkut kejujuran dan kesederhanaan.

Penulisnya seorang wartawan Kompas, Suhartono. Bukunya relatif tipis, hanya sekitar 135 halaman. Buku ini resmi diluncurkan Oktober kemarin.

Buku tentang Hoegeng sudah sebenarnya terhitung cukup banyak, yang terkenal, Hoegeng, Polisi Idaman dan Kenyataan. Nah, buku terbaru perihal Hoegeng ini ditulis berdasarkan cerita dari Soedharto Martopoespito  (Dharto), bekas asisten Hoegeng saat Hoegeng menjadi Menteri/Sekretaris Presidium Kabinet periode Maret 1966 hingga Juli 1966.

Tak semua berisi cerita dari Dharto, karena sebagian isi buku, agaknya juga diambil dari buku Hoegeng yang lain. Yang lainnya, ini juga mungkin baru, setidaknya  bagi saya, adalah kisah Hoegeng yang disampaikani anaknya, Didit.  Suhartono agaknya mewawancarai Didit.

Dharto misalnya mengisahkan bagaimana Hoegeng yang selalu datang lebih pagi dari dirinya setiap hari. Jam enam pagi sudah di kantor. Karena malu, suatu ketika Dharto bertekad datang lebih pagi dari bos-nya.  Maka, suatu ketika, setelah pagi-pagi mengantar istrinya ke Stasiun Gambir, di pagi buta, ia langsung ke kantor. Hoegeng kaget saat melihat bawahannya sudah ada di kantor.

Tapi, besoknya, Hoegeng membalas. Ia datang labih pagi dari biasanya. Maka Dharto pun menyerah. Kemudian Hoegeng meminta Dharto tak perlu datang lebih pagi dari dirinya. Cukup sebelum jam tujuh. Ada pun Hoegeng, tetap datang sebelum jam enam.

Dharto juga mengenang, telepon di kantor selalu bisa dipakai berdua. Artinya, dia pun bisa menguping pembicaraan Hoegeng, demikian sebaliknya. Hoegeng juga jika menerima tamu selalu didampingi Dharto. Tidak ada yang ditutupi. Suatu ketika, teman Dharto, sesama staf, menelepon, dan menyatakan,  Dharto enak menjadi sekretaris menteri. Hoegeng rupanya mendengar pembicaraan itu. Ia langsung menelepon atasan staf itu. Staf itu pun complain ke Dharto yang dikiranya menyampaikan pembicaraan mereka ke Hoegeng.

Siapa pun yang membaca kisah Hoegeng (dalam semua buku buku tentang dia) pasti menangkap sikap kesederhanaan yang sangat luar biasa. Sikap yang mungkin membuat orang bertanya, bagaimana mungkin ada orang semacam ini? Atau bagaimana dulu orangtuanya mendidiknya?

Sampai akhir hayatnya Hoegeng tak punya rumah pribadi. Dia menyewa sebuah rumah di daerah Menteng. Dia menolak tinggal di rumah dinas Kapolri. Juga sebelumnya menolak tinggal di rumah dinas Menteri.  Ia hanya punya mobil dinas yang di dalamnya ada kertas bertuliskan,  “Ini mobil dinas, jangan dipinjam.”

Belakangan, saat Ali Sadikin menjadi gubernur, rumah sewa itu dibeli Pemda DKI dan dihadiahkan Ali kepada Hoegeng. Rumah itu kemudian dijual Hoegeng dan dibelikan sebuah ruma di Pesona Kayangan, Depok dan sisa uangnya dibagi rata untuk tiga anaknya. Sampai tahun 2001,  uang pensiun Hoegeng Rp 10 ribu.  Tapi ia hanya menerima Rp 7.500 karena di potong “ini itu.”  Tahun 2001-2004 pensiunnya Rp 1.170. 000. Setelah ia meninggal, istrinya menerima separuhnya.

Saat menjadi Kapolri Hoegeng juga tak mau istrinya menjadi Ketua Bhayangkari. Karena itu hanya pada priodenya istri Ketua Bhayangkari bukan istri Kapolri. Hoegeng menolak dimakamkan di Makam Pahlawan Kalibata karena ia ingin selalu dekat istrinya, Meriyati Roeslani.  Ia, yang meninggal pada 2004,  dimakamkan di desa Bojonggede, Kabupaten Bogor, sebuah desa yang dulu selama sekitar tiga tahun saya pernah tinggal di sana. Desa yang sejuk, dan ada stasiun keretanya, Stasiun Bojonggede.

Hoegeng terpental dari Kapolri karena ia mengusut kasus-kasus korupsi.  Ia saat itu akan digeser dengan  akan dijadikan duta besar. Ia menolak.

Diceritakan, suatu ketika, mendengar kabar  akan jadi dubes,  anak-anaknya gembira karena dengan demikian mereka bisa ke luar negeri, hal yang tak pernah mereka nikmati. Hoegeng menggebrak meja dan menyatakan ia polisi dan tugasnya di Indonesia. Anak-anaknya terdiam.

Maka suatu hari, Hoegeng menemui Soeharto di rumahnya, Jalan Cendana. Menyatakan ia tak mau jadi duta besar. Soeharto menjawab , “Di Indonesia tak ada lowongan buat Hoegeng.” Hoegeng pun keluar. Ia dicopot dari jabatannya sebagai Kapolri dengan alasan usia (saat itu ia 49 tahun), ada pun penggantinya, ternyata usianya 53 tahun.

Hoegeng kemudian mendirikan kelompok Petisi 50 bersama Ali Sadikin cs. Maka sejak itu, ia menjadi musuh pemerintah karena kelompok ini mengkritisi rezim Orde Baru.

Gus Dur pernah melontarkan guyunan. Katanya, hanya ada tiga polisi jujur di Indonesia, yakni, patung polisi, polisi tidur, dan Hoegeng.

Sebuah buku yang mestinya menjadi bacaan wajib  calon polisi dan anggota polisi. (L.R. Baskoro)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s