Menjadi Saksi Meringankan di Pengadilan

Inilah pengalaman saya Rabu (4 Desember) lalu selama sekitar satu jam (kurang) di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Menjadi saksi fakta kasus pencemaran nama  lewat twitter. Ini kasus pencemaran pertama lewat twitter yang disidangkan.

DS2013120419

Ceritanya, sepekan sebelumnya saya diminta kantor menjadi saksi ahli untuk kasus tuduhan pencemaran nama baik yang dilakukan Benhan alias Benny Handoko terhadap Misbhakun. Peristiwa ini sudah lama, terjadi pada Desember 2012. Benny adalah aktivis media sosial, ada pun Misbhakun, mungkin namanya juga sudah banyak yang kenal, dulu anggota Partai Keadilan Sejahtera. Kini ia pindah,  menjadi anggota Partai Golkar.

Misbhakun tersinggung karena Benhan, di twitter,  menyebut dirinya perampok bank Century. Dan layaknya media twitter, maka tentu saja  itu  di twit lagi ke mana-mana. Sebelumnya, saat Benhan menyebut Misbhakun perampok bank, Misbhakun sudah menjelaskan Benhan tuduhannya itu salah, tidak ada dasarnya. Keduanya kemudian beradu argumentasi di ranah twitter.

Rupanya Misbhakun tak berhenti hanya di twitter. Dia melapor  polisi. Benhan sempat ditahan sehari, dan kemudian dibebaskan, tapi kasusnya tetap maju ke pengadilan. Polisi menjeratnya dengan Pasal 27 UU Informasi dan Transaksi Elektronik. Ini pasal pencemaran nama yang hukumannya bisa sampai  enam tahun penjara.

Nah, tugas saya adalah memberi kesaksian yang diharapkan bisa meringankan Benhan.

Yang memintanya  para pengacara Benhan. Benhan didampingi tiga kantor pengacara yang menurut dia tidak dibayar alias prode. Mereka,  Kantor hukum Todung Mulya Lubis,  LBH Jakarta, dan Firma Hukum Jimmy Simanjuntak.

Apa hubungannya dengan Tempo?

Begini, rupanya twit Benhan yang membuat Misbhakun mencak-mencak itu adalah apa yang ia baca dari laporan utama Majalah Tempo yang menceritakan dugaan suap terhadap dua anggota majelis hakim peninjauan kembali kasus Misbhakun.

Cerita singkatnya, pada 2010 Misbahkum divonis satu tahun penjara karena dinyatakan terbukti memalsukan Letter of Credit sehingga ia mendapat kucuran duit dari Bank Century sebesar US$ 22,5 juta. Di pengadilan  banding dan Kasasi hukumannya ditambah menjadi dua tahun. Nah, pas di PK ini, hakim membebaskannya. Tempo menulis bahwa ada dua hakim PK ini yang disuap dan diduga itu yang menyebabkan Misbhakun  bebas.

bersih-bersih-misbakhun

Saya diminta untuk menjelaskan posisi Misbhakun dalam pemberitaan media massa. Intinya, namanya jelek. Titik. Dua kali saya diundang rapat dengan tim lawyer Benhan di kantor Mulya Lubis di SCBD kawasan Sudirman,  kompleks bisnis  paling elite di Jakarta. Disuguhi air putih sama kue lemper. Artinya dua kali juga saya tidak ikut rapat perencanaan lantaran mendapat “tugas negara” yang juga bersifat prodeo ini.

Posisi saya, dalam bahasa hukum, sebagai saksi fakta (bukan saksi ahli). Sesuai namanya, tentu saya menjelaskan fakta perihal Misbhakun yang saya ketahui. Ada dua saksi fakta lain selain saya, yakni  Fadjroel Rachman dan Robertus Robert.  Keduanya saksi fakta selaku “aktivis” twitter.

Akhirnya Rabu itu saya datang ke Pengadilan. Sidang dimulai pukul 10 pagi.  Karena saya bukan tipe orang yang tak peduli waktu, maka pukul delapan saya sudah nongkrong di pengadilan.

Tapi, alamak, sidang rupanya ditunda pukul  14.00. “Hakimnya ada sidang,” kata mbak Lilyana, pengacara dari kantor Todung yang juga istri Mas Achmad Santosa alias Mas Ota, bekas anggota KPK. Dengan Mas Ota saya cukup kenal dekat, tapi dengan istrinya tidak.

Pukul 14.00  sidang dimulai. Para lawyer sudah membuat strategi. Saksi yang berturut-turut diajukan adalah Fahjrul, Robert, dan terakhir saya. Saya sendiri, sebelumnya, sudah menyiapkan sebundel kliping pemberitaan Misbhakun di berbagai media.  Saya juga membawa majalah Tempo ber-cover Misbhakun. Setelah sidang dibuka, bertiga kami disuruh maju. Berdiri di depan hakim, kami disumpah. Saya dan Fahjrul memakai cara Islam, sedang Robert Kristen. Usai itu, kami di suruh ke luar ruang, diminta duduk menjauh dari ruang sidang. Rupanya, kami berdua diminta tidak “nguping” kesaksian  Fadjroel

Sekitar 30 menit  Fahjrul bersaksi, sebelum kemudian Robert masuk.

Lalu, tibalah giliran saya.

Membawa ransel, map yang berisi kliping dan majalah saya duduk di kursi depan hakim. Sangat dekat, sekitar tiga meter. Namun, saya tak bisa menatap penuh wajah ketua majelis hakim lantaran ada kalender meja di atas mejanya (Kenapa mesti ada kalender ya?)

Sang Ketua Majelis hakim ini matanya agak melotot. Rambutnya tersisir rapi seperti bercampur minyak rambut, dan berkulit hitam. “Ingat, katakan hanya yang Anda  dengar,  lihat, dan alami, ” katanya. Ia mulai dengan membaca identitas saya yang saya jawab “benar…benar…benar…”

Lalu ia bertanya. “Kenal terdakwa?” Saya terdiam. Bingung, takut ini pertanyaan menjebak.  Lalu, saya jawab (jujur), “Tidak begitu kenal…” (sebenarnya lebih tepat” “tidak kenal” karena memang saya tidak kenal sama sekali dengan Benhan.

Lalu, tembakan dimulai dari pengacara Benhan. “Apa yang Anda ketahui perihal Misbhakun?”

Sesuai skenario yang saya susun, maka saya jelaskan kronologis kisah Misbhakun yang namanya mulai tenar (dalam arti negatif) lantaran terkait LC fiktif dan penggelontoran uang Bank  Century, bagaimana BPK dan Bank Indonesia menemukan kasus Misbhakun,  juga vonis yang diterimanya sejak 2010 sampai 2012. “Semua media memberitakan soal Misbhakun, termasuk Tempo,” demikian kata saya.

Pengacara terus memberondong pertanyaan yang intinya, nama Misbhakun apakah sudah menjadi pembicaraan sejak dulu, dan bagaimana Tempo mendapatkan cerita perihal dugaan ada uang di balik bebasnya Misbhakun di tingkat PK. Saya jawab semuanya dengan rinci, tanpa ragu-ragu sedikit pun. “Kami melakukan konfirmasi kepada semua nama yang disebut dalam tulisan kami,” kata saya. “Sumber kami juga dengan detail memberikan keterangan yang kemudian kami cek dan cek kembali.”

Kepada majelis hakim saya sebut juga berapa oplah Koran Tempo, Majalah Tempo, dan Tempo.co. “Tempo. Co dibaca dua juta orang tiap hari yang mulia,” demikian kata saya.  Saya memang memanggil “yang mulia” untuk hakim yang bertanya kepada saya. Itu aturan pengadilan yang saya lihat di ruang sidang selama ini.

Hanya dua hakim dari tiga hakim yang bertanya. Yang lebih banyak bertanya –karena ini saksi meringankan- adalah para pengacara Benhan. “Semua sudah direkam,” kata Pak Hakim saat Jimmy Simanjuntak bertanya apakah keterangan saya sudah dicatat.

Begitu hakim menyatakan cukup, saya lalu ke luar ruang, berjalan cepat  menuju bus di depan Gedung Pengadilan untuk segera ke kantor.  Saya musti ketemu “pasukan” saya untuk membahas tulisan hukum yang akan di muat Majalah Tempo edisi depan.  Cukup jauh dari kantor pengadilan dan Kantor Tempo. Perlu waktu hampir satu jam.

Saya tak sempat pamit kepada Benhan, juga para lawyernya yang baik, ramah, dan pasti pintar-pintar itu. Saya berharap kesaksian saya bisa membebaskan Benhan dari jerat hukum.

Esok pagi, saat di jalan menuju kantor, seorang teman menelpon. “Fotomu ada di Koran…” Ternyata, kemarin ada wartawan foto Tempo yang meliput kesaksian saya di pengadilan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s