Mewawancarai Artidjo Alkostar

Dia hakim agung yang kini paling ditakuti koruptor.  Artidjo Alkostar yang dikenal bersajaha itu  memang algojo untuk para koruptor yang mendapat hukuman ringan di pengadilan negeri atau tinggi.–

LAMA tidak mengunjungi  Mahkamah Agung, Kamis 12 Desember saya, akhirnya, ke sana. Ada “tugas negara Tempo” untuk menjadikan sosok hakim tinggi kurus itu menjadi laporan akhir tahun majalah, yang,  kami para awak redaksi,  sering menjuluknya sambil bercanda, “majalah berita terbesar di dunia dalam bahasa Indonesia…”

Artidjo, jelas ini nama itu tak asing bagi banyak orang. Sebulan terakhir namanya menghiasi media lantaran “ulahnya” yang menaikkan hukuman Angelina Sondakh dari 4,5 tahun menjadi 12 tahun. Lalu menghukum lagi si Angie ini  uang ganti rugi sampai Rp 39 miliar totalnya. Busyet…

Sebelumnya, dia juga menaikkan banyak hukuman koruptor yang di pengadilan di bawahnya divonis jauh di bawah tuntutan jaksa, termasuk Nazaruddin, bekas wali kota Semarang (Soemarmo),  juga pengedar narkoba Hartoni yang sebelumnya sudah dihukum 20 tahun menjadi hukuman mati.

Saking  sikapnya yang keras terhadap koruptor, maka kini para koruptor yang mau kasasi ke Mahkamah Agung  (karena tidak puas dengan hukuman pengadilan di bawahnya –mungkin merasa korupsi Rp 20 miliar kok dihukum sampai empat tahun dan membayangkan suramnya di penjara) mesti pikir-pikir. Waswas kalau kasusnya dipegang Artidjo. Bukannya dikurangi tapi di loncatkan jadi berbelas tahun.

Jejak rekam Artidjo menghajar para penjahat bisa panjang. Karena itu  kami mewawancarainya.

Maka, saya pun, kendati janji wawancara pukul 12 siang, sudah nongkrong di lobi Mahkamah pukul 09.00.

Mahkamah sudah berubah banyak (gedungnya). Masuk lewat pintu samping, seorang satpam dengan penampilan jauh dari gagah, sudah menyongsong, “Mau ketemu siapa?” rupanya dia tahu, mana wajah asing dan mana wajah yang biasa hilir mudik. “Ketemu Pak Artidjo, wartawan,”  Dan dia menyilahkan. (Mudah-mudahan tidak kecewa karena saya bukan sedang ngurus perkara..)

Tak seperti lima tahun lalu, lobi Mahkamah kini, kesan saya, sangat mewah, dan enak untuk duduk-duduk. Adem, kursi bagus, dan jika masuk mesti melewati detektor. Saat di dalam, saya melihat seorang anggota Komisi III DPR bertubuh tambun ke luar dari gedung Mahkamah.

Pukul 11, beberapa reporter Tempo lain sudah datang. Ternyata bukan hanya dari Majalah dan Koran, tapi juga  kru TV Tempo. Yang terakhir ini lengkap dengan kamera  dan peralatan “syuting”  lainnya. Lha, kok demikian banyak?

Ini juga yang ditanyakan Pak Artidjo saat kami masuk ke ruang Artidjo di lantai II. “Ini semua dari Tempo?” tanyanya.  “Iya Pak, dari majalah, koran, TV, komplet, nggak apa-apa kan Pak,” ujar seorang reporter perempuan mengeluarkan  jurus rayuannya. Pak Artidjo cuma nyengir….

artidjo2

Ruang Artidjo sekitar 6 x 4. Di sebelah kanan, ada meja kerjanya yang penuh tumpukan berkas perkara dan berbagai macam kertas lainnya. Di dinding kanan dekat mejanya  tergantung souvenir clurit (jumlahnya kalau tidak empat, lima) dalam kotak plastik. Ini souvenir murahan yang bisa kita beli di sekitar kios kalau kita melintasi jembatan Suramadu yang menghubungkan Surabaya-Madura. Artidjo memang orang Madura. Dalam wawancara hampir tiga jam, terkesan dia memang bangga sebagai “rang- rang Madure” (tak iye….)

Di lantai ruang kerjanya  bertebaran juga berkas-berkas perkara yang dibundel rafia. Semuanya hampir satu meter tingginya. Di atasnya  tertulis tanggal dan  kapan mesti disidangkan. Menurut Artidjo, tanggal itu  penting karena jika tidak diputus dampaknya besar, misalnya, terpidana bebas karena masa tahanannya habis.

Nah, di sebelah kiri pintu masuk, di pojok ada  kursi tamu. Di situlah kami duduk mewawancarai Artidjo, sembari sejumlah staf humas berdiri mengawasi dan ikut mendengar pertanyaan-pertanyaan yang kami lontarkan.

Artidjo punya asisten yang dikenal galak dan oleh para wartawan yang ngepos di Mahkamah sering di sebut si “muka jutek.” Namanya bu Mariana Sondang Panjaitan, dari tanah batak.  Konon, dia tak segan-segan mengusir pengacara yang datang untuk coba-coba mendekati  Artidjo. Dia merupakan tameng terakhir Artidjo paling depan. Nah, wartawan pun kadang merasa, kok sama mereka pun  Bu Mariana juga galak. Saya sempat ketemu dia saat masuk. Tak tersenyum  dan “wajah (agak) kotak-“nya sudah mencerminkan ketegasannya. Saat saya Tanya Pak Artidjo benarkan asistennya itu galak, beliau menjawab. “Memang galak, kalau  nggak gitu saya nggak cocok…”wah..wah…

Selama wawancara, saya mendapat kesan, tak ada yang dia tutupi. Semua dijawab, enteng saja. Hanya memang pada awal sebelum wawancara, dia sudah memberi batasan, “Jangan tanya perkara, karena  hakim tidak boleh mengomentari perkara..”

Maka, kami pun menanyakan dia dari soal pribadi, pekerjaan, hingga cita-citanya kelak kalau sudah pensiun. “Saya mau memelihara kambing,” ujarnya.

Kambing dan sapi memang bagian masa kecil Artidjo. Dia bercerita, saat kecil, pernah menjadi  joki karapan sapi. Bapaknya memang pedagang sapi. Sebagai orang Madura, sapi, tentu saja bagian hidup dia. Seperti juga beberapa hal lainnya: sarung, clurit….

Artidjo saya pikir juga sekarang tak kaya (kendati sekarang dapat mobil dinas). Dari wartawan yang mereportase rumahnya di Yogya, kami dapat laporannya,  rumahnya di Sidoarum, Godean,  biasa saja. Di sana juga dia tak punya mobil. Kalau sampai di Yogya dia dijemput keponakannya. (Artidjo dulu memang menyekolahkan sejumlah keponakannya dari Jawa Timur yang kini banyak menetap di Yogya). Kalau tak ada yang mejemput dia naik taxi atau ojek. Di Yogya hobinya jalan-jalan ke pasar yang menjual burung atau ikan.  Selain hobi bertanam, dia memang hobi memelihara hewan. Dulu , bertahun-tahun saat awal jadi hakim agung pada tahun 2000-an dia kemana-mana naik bajaj. Dia sempat mendamprat temannya karena mencoba  menawarinya mobil dan uang asal ia memenangkan sebuah perkara.  Bajajnya sempat dihentikan satpam Mahkamah Agung karena memang heran, kok ada sopir bajaj nekat masuk lembaga tinggi negara itu.

Anda menghukum Angeline Sondakh jadi sangat berat, 12 tahun. Tidak  dipertimbangkan ia ibu dua anak yang masih kecil? Saya bertanya.  Dia menjawab:

“Melihat korupsi itu jangan parsial. Yang harus dilihat korbannya, yaitu rakyat. Korupsi itu kejahatan di atas kejahatan. Karena memiskinkan banyak orang. Apalagi dia (Angelina) mempunyai posisi politik. Itu namanya korupsi politik maha dasyat. Bisa diibaratkan kanker ganas yang harus dibersihkan agar tubuh negara ini sehat.”

Di bagian lain saya bertanya lagi

Apakah Anda tidak takut disantet?

“Madura itu tempatnya santet. Matahari terbit dari sana, dan tenggelam di Banten…” (saya mendapat kesan, dia seakan berkata “ilmu”  Madura lebih tinggi ketimbang Banten).  “Rasa takut saya sudah hilang,”  katanya lagi.

Mana yang Anda dahulukan: Keadilan dan kebenaran?  Saya melemparkan pertanyaan ini untuk  mengetahui  prinsip hukum yang dipegangnya.

Ia menjawab cepat dengan suara keras (Kalau bicara di termasuk kencang).  “Dalam keadilan itu ada kebenaran, tapi dalam kebenaran itu belum tentu ada keadilan. Anda lihat putusan O.J. Simpson, kasus pembunuhan yang melibatkan aktor sekaligus mantan pesepakbola Amerika. Perkara pidananya bebas, tidak terbukti bersalah, tapi dalam perkara perdata dia salah dan kalah, dia hampir miskin. Artinya, dalam perkara pidana, kebenaran itu bukan satu-satunya yang dituju.”

Setelah wawancara  selesai, fotografer dan kameraman TVTempo meminta Artidjo berpose di meja kerjanya. Seminggu setelah wawancara itu, cover stori soal hakim yang dikenal tegas, berani berbeda pendapat, dan sangat sederhana ini pun muncul.

nyali-artidjo

Mudah-mudahan, “Artidjo-Artidjo” lain akan muncul. Mudah-mudahan para hakim yunior berkaca pada Artidjo:  menjadi hakim mestinya sebuah pilihan. Pilihan hidup sunyi, pilihan tidak mengejar kemewahan.  “Menjadi hakim itu asosial,” saya ingat  kata-kata  Artidjo itu.

2 thoughts on “Mewawancarai Artidjo Alkostar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s