Opini: Hakim Konstitusi Lebih Baik Mundur

Pengadilan Tata Usaha Negara membatalkan pengangkatan Patrialis Akbar sebagai hakim konstitusi. Seluruh hakim yang tersisa sebaiknya mengundurkan diri.—

KEWIBAWAAN Mahkamah Kontitusi sebenarnya sudah runtuh sejak terungkapnya skandal Akil Mochtar. Karena itu, putusan Pengadilan Tata Usaha Negara Jakarta yang membatalkan Keputusan Presiden perihal pengangkatan Patrilias Akbar sebagai hakim konstitusi mestinya menjadi momen para hakim yang tersisa untuk menunjukkan sikap “kenegarawanan” mereka: mundur dari jabatannya.

Pekan lalu Pengadilan Tata  Usaha Negara mengabulkan gugatan Koalisi Penyelamat Mahkamah Konstitusi yang mempersoalkan pengangkatan Patrialis sebagai hakim konstitusi. Koalisi, yang antara lain terdiri dari Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia, Lembaga Studi Advokasi Masyarakat, dan Indonesia Corruption Watch  menunjuk pengangkatan bekas Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia  tersebut melanggar Undang-Undang Mahkamah Konstitusi, yakni dilakukan tidak transparan.

Pengadilan rupanya sependapat dengan Koalisi. Hakim menyatakan Keputusan Presiden melanggar Pasal 19 dan Pasal 20 yang menyatakan  pengangkatan hakim konstitusi mesti transparan, partisipatif, serta diumumkan di media cetak dan elektronik. Terhadap putusan itu  kita meminta Presiden tak perlu banding. Demikian pula Patrialis.  Jika ia banding, terkesan bekas anggota DPR dari Partai Amanat itu hanya mengejar jabatan.

Ada pun Presiden, jika banding, maka sikap ini justru bertolak belakang dengan “semangat” Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang  No.1/2013 tentang Perubahan Undang-Undang Mahkamah Konstitusi yang diterbitkan pasca kasus Akil Mochtar. Dalam Perppu yang disetujui DPR dua pekan lalu, ditegaskan pengangkatan seorang hakim konstitusi mesti melewati uji kelayakan yang dilakukan panel ahli. Artinya, Presiden sudah “mengoreksi” kesalahannya dalam pengangkatan  Patrilias itu.

Dengan putusan Pengadilan Tata Usaha Negara, bisa dikatakan formatur hakim Mahkamah kini dalam posisi genting. Praktis yang legitimate tujuh orang. Karena Undang-Undang menegaskan sidang putusan Mahkamah hanya sah jika dihadiri tujuh hakim, maka bisa dibayangkan apa yang terjadi jika salah satu dari mereka sakit. Padahal kita tahu tugas lembaga ini tak hanya mengadili sengketa pemilihan kepala daerah, melainkan –dan ini sebenarnya tujuan lembaga ini dibentuk-  menguji semua semua undang-undang yang bertentangan dengan konstitusi.

Ketika Ketua Mahkamah Konstitusi Akil Mochtar tertangkap saat menerima suap di rumah dinasnya oleh Komisi Pemberantasan Korupsi pada 2 Oktober lalu majalah ini sudah menyarankan sebaiknya seluruh hakim konstitusi segera mengundurkan diri.  Penangkapan Akil sudah mencoreng sekaligus merobohkan seluruh pilar kepercayaan publik pada lembaga Mahkamah Konstitusi.  Dan temuan-temuan KPK selanjutnya yang berkaitan dengan kejahatan yang dilakukan Akil dan kaki tangannya –dari pemalsuan formulir rekapitulasi kartu suara hingga tarif yang ia tetapkan jika calon kepala daerah ingin dimenangkan gugatannya- makin membuat orang jijik atas apa yang terjadi dalam lembaga itu.

Kini momen para hakim konstitusi yang tersisa untuk mundur terbuka lagi dengan putusan PTUN.  Para hakim, yang sebagian besar dari kalangan akademisi dan hakim karir, harus berani mengambil langkah itu: sebagai bentuk pertanggungjawaban ke publik, menunjukkan mereka kecewa atas kejahatan yang dilakukan Akil Mochtar, sekaligus bentuk pengakuan mereka gagal mengemban  kepercayaan rakyat.

Mundur bukan hal memalukan. Itu jauh lebih mulia ketimbang tetap berada di sana tapi mendapat cibiran publik. Ada pun untuk mengisi posisi mereka, Komisi Yudisial segera melakukan penjaringan hakim konstitusi baru. Para calon hakim itu mesti memiliki integritas dan rekam jejak tak tercela. ***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s