Opini: Penyiksaan dan Penyekapan Pembantu Bogor

Seorang istri pensiunan jenderal menjadi tersangka penyekapan dan penyiksaan pembantu rumah tangganya. Sang suami juga harus dijadikan tersangka. –

MEMILIKI 17 pembantu rumah tangga dalam satu rumah saja sudah merupakan hal yang tidak lazim. Apalagi mempekerjakan ke-17 pembantu itu selama 20 jam dalam sehari, menyekap, menyiksa mereka secara fisik, ditambah urusan gaji yang tak jelas sama sekali. Tak diragukan: ini merupakan pelanggaran hukum berat.

Kekerasan dan kekejian yang diduga dilakukan Mutiara, istri Brigadir Jenderal Polisi (Purnawirawan) Mangisi Situmorang, ini terungkap karena laporan salah satu pembantunya, Yuliana Leiwer, 17 tahun, yang berhasil kabur dari rumah yang luas dan dikelilingi pagar setinggi dua meter itu. Berdasarkan laporan Yuliana kepada Kepolisian Resor Bogor, dua pekan lalu, sang ibu jenderal tidak menggajinya selama tiga bulan. Para pembantu itu juga harus bekerja sejak pukul 04.00 hingga 24.00, dilarang memiliki alat komunikasi apa pun, serta kerap ditampar, dipukul, dan dijambak jika dianggap melakukan kesalahan. Lima di antara mereka berusia di bawah 18 tahun.

Para pekerja itu biasanya direkrut seseorang di Terminal Pulogadung, Jakarta Timur, yang lazimnya menawarkan gaji cukup besar untuk bekerja di rumah pasangan Mutiara dan Mangisi Situmorang di Bogor. Belakangan diketahui pula bahwa pada 2012 rumah tangga itu pernah memiliki selusin pekerja asal Nusa Tenggara Timur–yang belakangan kabur karena mendapat siksaan dan tak digaji.

Selasa pekan lalu, Kepolisian sudah menetapkan Mutiara sebagai tersangka. Dia dijerat Pasal 2 Undang-Undang Tindak Pidana Perdagangan Orang, Pasal 80 UU Perlindungan Anak (untuk ketiga pembantu yang masih di bawah umur), dan Pasal 44 UU Kekerasan dalam Rumah Tangga. Ganjarannya bisa mencapai 15 tahun penjara dan denda Rp 600 juta.

Langkah polisi menetapkan Mutiara sebagai tersangka sudah tepat. Tapi itu saja tentu tidak cukup. Mengingat pasal-pasal hukum yang dilanggar Mutiara, sudah sepatutnya dia ditahan. Jika tidak, dikhawatirkan Mutiara bisa menghilangkan barang bukti penyiksaan, atau melakukan teror kepada korban-korbannya. Selain itu, rangkaian tindakan sewenang-wenang terhadap 17 pembantu rumah tangga ini tidak dilakukan sendirian.

Para pengantar dan penyuplai pembantu itu juga harus dijadikan tersangka. Mereka bisa dikenai tuduhan telah melakukan tindak penjualan anak di bawah umur. Terakhir, polisi harus berani menjadikan Mangisi Situmorang sebagai tersangka. Dia seorang polisi yang salah satu tugasnya justru mencegah pelanggaran hukum. Bagaimanapun, ia mengetahui apa yang terjadi di rumahnya dan membiarkan tindakan sewenang-wenang, kekerasan, serta penyekapan dilakukan istrinya.

Mengingat rekam jejak Mutiara yang memiliki potensi melakukan ancaman, polisi harus melindungi para pembantu sebaik-baiknya karena mereka adalah saksi kunci. Sejauh ini, hanya Yuliana yang dilindungi Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban, sedangkan 16 pembantu rumah tangga lain masih dititipkan di balai penitipan milik Departemen Sosial di Cipayung, Jakarta Timur. Karena itu, ke-16 pembantu rumah tangga yang sudah menjadi korban itu layak mendapatkan perlindungan. (Mjh Tempo, 9 Maret 2014)