Perempuan Berambut Pirang di Rumah Jenderal

Akhirnya Mangisi Situmorang tak jadi tersangka. Hanya istrinya yang jadi tersangka atas tuduhan menyekap dan menganiaya para pembantunya, yang disuruh bekerja dari subuh hingga jam 12 malam —

TAPI saya tidak bicara soal  status hukum itu. Biar nanti pengadilan yang memprosesnya.  Hanya, kasus ini mengingatkan saya saat saya mendatangi rumah petinggi polisi itu beberapa waktu lalu  -ingin membuktikan seberapa hebat sih rumahnya kok sampai punya 16 pembantu. (Lihat artikel tentang kasus pembantu tersebut di blog ini juga).

Ternyata rumahnya di Kompleks Duta Pakuan, Bogor, memang luar biasa besar. Kompleks ini secara geografis terletak di belakang kampus IPB Baranangsiang (kampus lama).  Berdiri megah dan tentu saja sangat mencolok. Mungkin, sekitar 500 atau 700-an meter persegi. Semua berujud bangunan. Di kirinya, menyempil rumah yang tampaknya untuk kos-kosan. Rumah petak ini benar-benar di bawah “ketiak” rumah Mangisi.

mangisi2

blog2

 

mangisitembok

Terbesit juga rasa heran bagaimana di tengah kompleks perumahan, ada kasus penyekapan, pemukulan, yang tak diketahui tetangga. Ya, kasus ini menandakan sebenarnya, menurut saya, ada yang tak benar juga dalam tatanan RT di kompleks perumahan itu.  Aneh bin ajaib. Ada 16-an orang pembantu di dalam rumah, dan tetangga tidak ada yang tahu. Pak RT juga tidak tahu. Mungkin mereka takut, segan, dengan seorang jenderal. Kemudian ya, tadi, cuek. Tak perduli.

Sejumlah warga yang saya tanyai, mengakui keluarga Mangisi juga tidak bergaul dengan tetangga. Warga tampaknya  juga tidak perduli. Baru rame setelah polisi datang dan membawa pergi belasan pembantu yang ber bulan-bulan mengaku “diperkuda” di sana.

Tapi, sikap tak peduli itu, sesungguhnya banyak terjadi di kompleks perumahan di kota-kota. Ini jelas sesuatu yang keliru dan berbahaya.  Kecuekan seperti ini yang menyebabkan, misalnya, ada kegiatan pembuatan narkoba di tengah perumahan yang tidak diketahui. Asal muasalnya, ya ketidakpedulian itu.  Menurut saya, pengurus RT mestinya menjadi garda di depan untuk mendeteksi sesuatu yang mencurigakan di lingkungan kompleks mereka. Dan untuk itu, warga mesti aktif untuk melapor ke pengurus RT. (Lha iya…RT kan nggak mungkin tahu semua yang terjadi di wilayahnya).

Tapi, ada cerita lain tentang rumah Mangisi. Setelah “melihat-lihat” rumah Mangisi, saya ke Polres Bogor. Di sana saya berjumpa dengan sejumlah pembantu rumah tangga Mangisi yang sudah dibebaskan. Mereka tengah di data. Wajahnya kuyu-kuyu. Ada yang berasal dari Jawa Timur, Jawa Barat, NTT….

“Kemarin saya sudah telpon orangtua saya, mengabarkan saya ada di Bogor,” ujar seorang di antaranya. Dia mengaku dari Jawa Tengah. Selama enam bulan di rumah Mangisi, ia tak pernah menelepon dan berhubungan dengan keluarganya. Gaji yang dijanjikan Rp 600 ribu per bulan tak pernah dibayarkan. Bapaknya petani. “Saya tak bercerita apa yang terjadi pada saya, kasihan mereka,” katanya lagi.

Saya mengobrol dengan mereka,  empat perempuan,  di sebuah ruang Polres yang tak lebar. Ada yang duduk di kursi, ada yang bersila di lantai.  Obrolan santai dan saya tanyakan apa saja di dalam rumah Mangisi yang besar itu.

Dalam obrolan itulah, seseorang di antara mereka lalu bercerita dirinya kerap melihat seorang perempuan berambut pirang di rumah Mangisi di waktu  malam. “Kadang di ruang tamu, kadang di tangga,” katanya. “Tidak jelas mukanya, kadang duduk, kadang berdiri diam…..”

“Lho kamu juga lihat mbak?” tiba-tiba salah satu teman mereka menyela. Yang bertanya itu, lebih tua dari yang  bercerita. Belakangan, ia mengaku bernama Rahma. “Saya juga sering melihat,” kata Rahma

Rahma bercerita, ia juga kerap melihat seorang perempuan berambut pirang  di malam atau dini hari. Ia tak bisa menggambarkan wajahnya. Juga, apakah bule atau “orang kita.”  Tapi, rambutnya memang pirang, panjang. “Saya pernah melihatnya di kolam, di tempat air,  di lantai dua juga tiga. ”

Ia menggambarkan perempuan berambut pirang itu tidak muda, bukan gadis. Tidak mengganggu. Kadang jelas bentuk tubuhnya kadang samar-samar. “Tapi rambutnya pirang,” katanya.

Menurut Rahma, suatu ketika pernah ia mengadukan soal perempuan berambut pirang yang dilihatnya itu ke Mutiara, istri Mangisi. “Ibu kaget, dan sepertinya ibu juga sudah tahu,” katanya.

Saat pulang seusai magrib, naik motor, saya teringat cerita para pembantu itu. Apakah yang dilihat mereka ini hantu? Jika benar, apakah keberadaan mereka itu ikut mempengaruhi orang-orang di rumah itu? Kalau hantu, dari mana itu? Apakah daerah sekitar itu dulu kuburan? Ya, bukankah di Bogor banyak bertebaran kuburan keluarga?

Atau semua ini hanya fatamorgana karena mereka kecapekan bekerja? Ya, bukankah kelelahan bisa saja  membuat orang tak jelas memandang sesuatu? Juga menimbulkan berbagai macam pikiran dan halusinasi?  Apalagi, saya hanya mendengar dari dua orang. Jika dari 16 orang separuhnya bercerita, nah, itu baru seru.

Saya ingin, suatu ketika, jika bertemu dengan keluarga Mangisi di Pengadilan –kelak kalau kasus ini disidang-   bertanya perihal cerita para pembantunya itu.