Tut..tut…tut Naik Commuterline

Kereta Commuterline yang melayani warga Jabodetabek makin hari makin asyik saja. Pekan lalu ada kabar 30 gerbong baru  dari Jepang datang lagi di Tanjungpriok. Tidak baru sih, bekas, tapi masih sangat layak. Harganya konon Rp 1 miliar per unit, lebih murah jika beli baru Rp 10 miliar.

Angkutan kereta di Jakarta, yang melayani warga Bogor, Jakarta, Bekasi, Tangerang, kini mengalami revolusi. Jika sekitar satu setengah tahun lalu  kereta-kereta KRL itu jorok, penuh orang jualan, dan dijejali penumpang yang bahkan ada   nekad –atau hobi-   duduk di atap dan melawan jika diminta turun, kini pemandangan itu sudah tak ada lagi.

IMG_1298

IMG_0288

Saya menjadi pengguna KRL sejak 1997-an, sejak pindah ke Bojonggede, Kabupaten Bogor. Sejak awal saya memang mencari rumah dengan syarat dekat rel kereta api dan tenang. Saya yakin kereta-lah yang pasti akan menjadi alternatif terbaik untuk bekerja di Jabodetabek mengingat jalan raya suatu ketika pasti penuh sesak dengan mobil. Ketika lalu pindah ke Kota Bogor  -tepatnya pinggir kota Bogor- saya tetap memakai kereta, sampai detik ini.

Bertahun-tahun saya naik kereta KRL dan melihat  beragam pemandangan  yang bisa membuat orang mengelus dada, tertawa, marah, berdecak kagum, dan seterusnya . Bayangkan, di stasiun puluhan ojek bisa demikian berkuasa, memenuhi jalan penumpang. Kepala Stasiun seperti tak berdaya menghadapi tukang ojek yang jelas mengganggu jalan penumpang.  Para tukang sayur, penjual tangga (benar-benar tangga bambu sepanjang sampai 10 meter), bebek, sayuran, memakai kereta untuk membawa dagangan mereka. Saling berebut dengan pekerja kantor untuk masuk kereta.

IMG_1095

Di dalam kereta, penumpang bisa merokok seenaknya, menyemburkan asapnya ke lima penjuru mata angin  dengan bebas merdeka. Bukan hal aneh juga, jika ada bangku di  gerbong dikuasai sejumlah orang dan hanya diberikan untuk anggota,  kelompoknya sendiri.  Kelompok semacam ini cukup banyak dan kompak. Kompak tertawa bersama-sama, teriak bersama-sama, dan juga ngomong jorok bersahut-sahutan.

Di dalam gerbong pula puluhan pedagang hilir mudik berteriak-teriak menjajakan berbagai macam dagangan: koran, rokok, teh botol, minyak angin, tas yang disebut dari Cibaduyut, jamu gendong,  dsb. Sejatinya kadang-kadang saya senang juga melihat gerbong semacam ini. Senang karena, entah kenapa, harga barang-barang itu sangat miring,  dan  barang-barang  itu  kadang mengikuti musim.

Maka, jika musim rambutan, puluhan pedagang rambutan akan dapat kita temui di kereta, menjual rambutan sepanjang perjalanan  Bogor sampai Jakarta. Demikian pula jika musim mangga,musim jeruk dsb. Makin malam harga buah-buah itu makin murah. Ya, mungkin ketimbang tidak laku, mereka menjual dengan harga “dibanting,”yang penting tidak rugi.

Jika bulan puasa lain lagi. Yang muncul para pedagang petasan atau pedagang amplop tempat angpo . Saya selalu membeli untuk Aldin barang 4 atau 5 bungkus kembang api jika pulang kantor  dan biasanya dia selalu komentar. “Pasti beli di kereta ya Pa…” Maksudnya jelas, dia mau bilang bapaknya gak mungkin membeli  kembang api di jalan apalagi mal.  Iya-lah, harganya mahal. Di kereta, jauh lebih murah karena para pedagang, konon,  langsung membelinya dari grosir di  Kota, Glodok atau Pasar Pagi, yang jika naik kereta pun bisa gratis.

Gratis? Memang demikian nyatanya. Dulu, dengan harga karcis Rp 2.000 pun banyak orang yang tak sudi beli karcis. Masuk keluar pintu peron tak dijaga ketat. Pemeriksaan karcis hanya di dalam kereta, dan bapak pemeriksa tiketnya tak memiliki wibawa sama sekali untuk menegur, apalagi menurunkan penumpang tak berkarcis. Sebaliknya para penumpang bahkan dengan bebasnya, jika ditanya hanya tersenyum atau memberi salam tempel Rp 1.000 rupiah ke Pak Kondektur. Itulah yang terjadi. Korupsi? Jelas. Mungkin gaji kecil dan segala macam kebobrokan manajemen yang sudah terjadi berpuluh tahun membuat “bentuk dan isi” KRL  semacam itu. Kondisi yang seperti tak berpengharapan jadi lebih baik.

Tapi ternyata, segalanya bisa berubah. Pemandangan gegap gempita  seperti yang saya ceritakan itu tinggal kenangan.  Kereta Commurline, demikian kini namanya, yang melayani Bogor-Jakarta, Bekasi-Jakarta, Serpong-Tanahabang-Jatinegara, menjadi transportasi  favorit para pekerja di Jabodetabek.

perempuan

Keretanya resik, tak ada yang berjualan,  penumpangnya dilarang merokok dan ber-AC. JIka berangkat pagi, memang berdesakan, tapi jika berangkat siang, pukul 10 misalnya, relatif kosong.

gerbongperempuan

 

Apalagi jika pulang malam, di atas jam sebelas, jika beruntung kita bisa tiduran  (kalau nggak malu haha) saking kosongnya.

gerbong

Kereta ini juga manusiawi karena menyediakan kursi khusus untuk orangtua, ibu hamil dsb, sebuah standar kereta di luar negeri.

kursiprioritas

Memang belum sempurna. Tapi saya yakin, Commuterline akan makin baik. Penumpang akan makin tertib –juga makin sadar, bawah mereka sendiri yang akan menentukan kereta itu akan berumur panjang atau tidak.

Otak di balik ini adalah Ignatius Jonan, bekas petinggi Citibank yang ditarik Menteri BUMN, Sofyan Djalil, menjadi direktur utama PT KAI.

Ignasius

Jonan merevolusi  manajemen kereta dan meng-upgrade mental anak buahnya.  Ia benahi semua stasiun dan ambrukkan kios di stasiun yang selama ini jadi mata pencarian sampingan  kepala stasiuan. Pernah gebrakannya didemo  mahasiswa Universitas Indonesia, tapi Yonan terus  melawan.(http://www.commuterline.com/component/content/article/26-liputan-khusus/151-manajemen-jonan-melawan-mahasiswa-ui-3.html)

Tapi  bagi saya, sesungguhnya yang tengah di-upgrade Jonan bukan hanya mental karyawannya, tapi, terutama mentalitas pengguna kereta –warga Jabodetabek.  Mereka dipaksa disiplin, mengantri,  berkarcis langganan, dan dilarang merokok di stasiun sekalipun,  kecuali di tempat yang disediakan.

merokokdilarang

Sebulan lalu Jonan diperpanjang masa jabatannya hingga  2019. Saya bersyukur. Setidaknya ia punya waktu lagi untuk membenahi masalah kereta di tanah air  yang belum 100  persen selesai ini.