SGPC alias Sego Pecel

Orang Jawa, terutama Jawa Timur, tampaknya tak bisa dipisahkan dengan pecel atau pecal.  Nasi pecal atau sego pecel bisa disebut bagian dari identitas mereka. Di manapun ada orang Jawa (Timur) tentu ada “sego pecel.” Dan di mana ada komunitas orang Jawa, akan tumbuh dengan sendirinya, bakul pecel, penjual pecel, dalam bentuk, bahkan paling sederhana sekalipun: hanya beralas tikar sebagai tempat berdagang.

Pecel, demikian orang Jawa melafalkannya, adalah salah satu makanan favorit saya.  Seingat saya, saya mengenal makanan ini puluhan tahun silam saat duduk di klas 1 atau 2 SD di kota Ponogoro. Saat itu, kami tinggal bersama eyang di Jalan Subokastowo, Desa Tambakbayan,  yang letaknya sepelemparan batu dengan alun-alun.

Di situlah, ibu atau entah siapa, kerap membelikan kami nasi pecel. Makanan itu diletakkan di atas daun pisang yang disebut “pincuk.” Suatu kali, saya sendiri yang disuruh membeli makanan itu. Pedagangnya, seorang ibu, mbok-mbok, duduk di atas dingklik, kursi kayu kecil, dan di depannya ada tampah berisi gumpalan sayuran yang sudah direbus dan sambel pecel yang selalu disiram air untuk digerus dan ditumpahkan ke atas pincuk yang sudah diberi nasi dan di atasnya sejumlah sayuran.

Formula sayuran sego pecel sederhana saja:  kacang panjang, kecambah, timun, dan ada biji lamtoro (petai) kecil-kecil. Itu seingat saya. Ada pun sambal pecelnya, seingat saya juga, tidak pedas. “Lauknya” tempe goreng atau paling kerap,  kerupuk atau rempeyek.

Yang istimewa ada “sayur” lain yang belakangan baru saya tahu namanya: bunga turi. Warnanya putih. Ada penjual yang memakai turi ada yang tidak. Saya tidak tahu alasannya. Rasanya khas. Itu saja ingatan saya tentang bunga berwarna putih tersebut di saat saya masih di Ponorogo.  Berpuluh tahun kemudian, ingatan -juga kerinduan- tentang kembang turi ini demikian kuatnya, sehingga ketika saya menjumpai penjual pecel di mana pun, saya selalu bertanya:  ada bunga turinya nggak? Jika ada, saya pasti membeli.

Pecel kembang turi (kotamini.com)

Pecel kembang turi (kotamini.com)

Bagi saya, bahkan sampai sekarang, tak ada kota yang warganya  demikian  akrab  dengan makanan pecel selain Ponorogo. Dulu hampir di setiap jalan ada penjual pecel. Kini, pemandangan itu tetap ada. Pergilah ke jalan atau gang mana pun  di Ponorogo, apalagi di bawah jam 12 siang.  Selalu akan ada penjual pecel arau kerumunan orang membeli pecel. Penduduk Ponorogo hidup dan telah menghidupi diri mereka  dengan “sego pecel.”  Di jalan-jalan kampung, nasi pecel (ya, nasi plus pecelnya) bahkan masih bisa dibeli sepincuk Rp 3.000.

Tentang kembang turi ini, belakangan saya mendapat jawabannya. Pohon itu banyak ditanam (oleh Pemerintah Kabupaten Ponorogo), mungkin, pada 1970-an, sebagai “proyek” peneduh jalan. Ini rupanya berkah bagi penjual pecel. Mereka bisa mengambil gratis. Maka kembang turi ini pun dijadikan bagian dari “formula pecel.”

Selain kembang turi, pada tahun 70 an atau 80 an, demikian dari yang saya baca,  Pemerintah Kabupaten Ponorogo juga mengampanyekan penanaman pohon mangga di halaman rumah-rumah penduduk. Maka, tak perlu  heran jika kini kita ke Ponorogo, banyak rumah warga yang memiliki  pohon mangga. Di musim mangga (sekitar Juli, Agustus), kota Ponorogo akan dipenuhi para pedagang mangga. Warga telah mendapat keuntungan ekonomi dari panen buah mangga berkat kampanye penanaman mangga puluhan tahun silam.

Memang ada tiga kota yang terkenal ikon pecelnya: Madiun, Blitar, dan Ponorogo. Tapi, menurut saya, tetap Ponorogo-lah kota yang warganya “paling gila” pecel. Blitar terkenal, terutama,  karena warganya ada yang sukses menjadi pengusaha sambel pecel. Merek dagang “sambel pecel Blitar” ini bisa kita temui di supermarket bahkan hipermarket di seluruh Indonesia. Madiun terkenal karena kota ini menyimpan  banyak rumah makan sego pecel yang buka 24 jam dan  sejumlah warganya sukses membuka gerai warung atau rumah makan  “Pecel Madiun” di kota-kota besar, termasuk Jakarta.   Tapi, bagi saya, tetap Ponorogo-lah “kota pecel.”  Jika ada survei, saya tak akan heran, bila hasilnya, misalnya, 80 persen setiap pagi orang Ponorogo ternyata makan sego pecel.

Pecel memang bagian dari budaya survive orang Jawa. Bumbu pecel yang terbuat dari kacang tanah dicampur sejumlah bumbu (garam gula, cabe, daun jeruk)  ini tahan hingga berpekan-pekan, bahkan berbulan-bulan  jika penyimpanannya dilakukan dengan benar.  Ya, setiap kebudayaan selalu memiliki  keajaiban dan kreatifitasnya masing-masing. Sama seperti  orang Dayak atau Palembang yang menyimpan durian dalam bentuk  “tempoyak”  sehingga awet dan menjadi bahan makanan yang tahan tahan berbulan-bulan.

Sego pecel ini pula, ketika kami pindah ke Palangkaraya, kerap dibuat almarhum ibu untuk kami. Ibu sendiri yang menggoreng kacangtanah dan menumbuknya. Makanan murah meriah. Saya tak ingat, apa “teman”pecel kala itu.  Mungkin, paling mewah adalah telur. Tapi, tanpa telur pun, saya tetap menganggapnya salah satu makanan tersedap buatan ibu.

***

Berbilang tahun, ketika saya kuliah  di UGM, saya berkenalan dan bertemu  lagi dengan sego pecel. Ada warung di dekat parkiran Gedung Pusat –demikian kami menyebut Gedung UGM paling megah yang kini dikenal sebagai “Gedung Balairung”- yang  namanya  “warung  sgpc.”  Seingat saya, tidak ada plang namanya, dan  para mahasiswa banyak yang menyebutnya hanya  “SGPC ” saja, singkatan dari “sego pecel,” nasi pecal.

Berimpit dengan tempat parkir dan di samping Fakultas Teknologi Pertanian, warung SGPC ini rame alang kepalang. Bangunannya, kalau tak salah, dari papan dan atapnya sebagian dari rumbia.  Di dalamnya, setiap menit, puluhan mahasiswa datang-keluar. Sendiri atau beramai-ramai.  Tempat ini akhirnya juga jadi pertemuan beragam mahasiswa, terutama,  Fakultas Filsafat, Sastra, Fisipol, Hukum, Pertanian, Biologi, Farmasi, Ekonomi,  fakultas-fakultas yang letaknnya di sekitar SGPC tersebut.

Menu favorit, kalau tidak salah, selain sego pecel adalah sup,  dan minumannya es tomat atau tomat hangat. Lauknya aneka macam: ikan goreng,  ayam goreng, tempe, tahu, telur. Berlauk telur dan segelas tomat hangat,  itu sudah sebuah kenikmatan –juga kemewahan untuk mahasiswa berkantung cekak semacam saya.

Sangat meriah warung SGPC ini. Penjualnya, yang semuanya masih ada ikatan keluarga,  akan teriak ke bagian dapur untuk menandakan jenis pesanan apa yang dipesan mahasiswa. “banjir….banjir…” teriakan itu menandakan permintaan pecel dengan kuah sambel pecel yang banyak. Bagi yang merokok, di kasir juga disediakan rokok yang bisa dibeli eceran.

Walau murah, saya tak selalu ke tempat ini. Walau dekat fakultas saya yang di Gedung Pusat, saya jarang mampir ke sini. Saya lebih kerap makan di asrama, lebih hemat karena sudah membayar lebih dulu. Tak hanya mahasiswa, para dosen yang rapat juga kerap memesan makanan dari warung SGPC  yang buka sekitar pukul 06.00 dan tutup sekitar pukul 15.00 tersebut.

SGPC ini demikian popular sehingga banyak orangtua mahasiswa yang juga mampir ke tempat ini. Saya kira tak ada tempat makanan demikian terkenalnya di seluruh kampus UGM tahun 80-an selain “warung  SGPC” ini. Tempat yang asyik untuk duduk makan beramai-ramai atau mentraktir –atau minta ditraktir- teman.

Demikian melegenda-nya tempat ini, banyak alumni UGM jika pulang ke Yogya selalu menyempatkan diri mampir ke warung  SGPC. Tentu datang di siang hari supaya suasana “zaman mahasiswa,” tetap terasa. Dan tentu saja, kali ini,   datang dengan gagah  -tak berpikir soal duit-  karena sudah “jadi orang.”

Bertahun-tahun kemudian –setelah puluhan tahun berada di tempat itu-  warung SGPC ini diminta Rektorat untuk pindah. Di situ akan didirikan bangunan. SGPC ini pun kemudian pindah. Tempat yang ditinggalkannya, kini,  menjadi kenangan puluhan ribu para mahasiswa UGM. Ada pun  tempat yang sekarang, karena relatif jauh dari “pusat” mahasiswa, tak seramai dulu lagi. Inilah SGPC itu sekarang (foto ini dari laman orang lain):

bu-wiryo-pecel

Saya beruntung punya saudara yang kerap pulang ke Ponorogo. Saudara saya ini, kami memanggilnya “Mas Karbi” kerap membawa oleh-oleh sambel pecel buatan kakak perempuan atau ibunya. Benar-benar nikmat –lain dengan yang dijual di warung-warung atau supermarket. Saya punya ukuran sendiri tentang nikmat tidaknya sebuah sambel pecel: jika terlihat masih diselimuti minyak dan berwarna agak gelap,  sambel pecel itu saya yakini “sedap.” Istri saya, yang bukan orang Jawa, juga sudah mahir membuat menu sego pecel ini. Biasanya kami memasak sayurannya sedikit saja, hanya untuk berdua, karena anak-anak saya tampaknya belum tertarik pada kuliner adiluhung peninggalan moyang bapaknya ini….

SGPC buatan sendiri...

SGPC buatan sendiri…

Pekan lalu, Mas Karbi datang dari Ponorogo. Kali ini ia membawa titipan dari saudara saya di Ponorogo. Isinya: jenang dan….sambel pecel. Berminyak, tebal, dan berwarna agak gelap, saya sudah bisa  “mencium” kesedapannya. Cukup banyak, dan saya perkirakan persediaan sambel pecel ini  cukup untuk lebih dari sebulan.

 

Oleh-Oleh dari Ponorogo

Oleh-Oleh dari Ponorogo

Tidak selamanya, sambel pecel itu saya makan dengan formula “sego pecel,” yakni disiram ke kacang panjang dan “kawan-kawannya.”  Kadang, sambel pecel  itu cukup saya cairkan dan saya tuangkan ke atas telur goreng. Lain kali, bahkan cukup mencocolnya, mengambil “sepotong, ” dan memakannya begitu saja dengan nasi….Dalam bentuk apa pun, dia tetap lezat di lidah saya.