Pelecehan Seks di Sekolah Internasional

kekerasnseksualankSeorang bocah taman kanak-kanak sekolah internasional menjadi korban kejahatan seksual. Sekolah tidak bisa lepas dari tanggung jawab–

RATUSAN orang tua siswa taman kanak-kanak dari sebuah sekolah internasional terkemuka di kawasan Jakarta Selatan itu berkumpul di sebuah rumah di Pondok Indah, juga di Jakarta Selatan. Selasa pekan lalu itu, dengan serius, mereka mendengarkan cerita Putri–bukan nama sebenarnya–perihal pelecehan seksual yang dialami anaknya, Leo, 5 tahun, juga bukan nama sebenarnya.

Di hadapan para wali murid yang mayoritas warga negara asing itu, Putri berkisah tentang sejumlah kejadian dan gelagat yang ditunjukkan anaknya sehingga membuat kasus ini terkuak. Pekan lalu, polisi sudah menetapkan dua tersangka kasus itu: Agun Iskandar alias Agun dan Virgiawan Amin alias Awan.

Kepada Tempo, yang menemuinya pekan lalu, Putri bercerita bahwa ia melihat anaknya menunjukkan perilaku aneh sejak sekitar dua bulan lalu. Buah hatinya itu kerap berlama-lama jika buang air kecil sebelum berangkat ke sekolah. Leo tampak menekan-nekan penisnya, seperti memaksa air seninya agar terus keluar. “Dia bilang tidak mau kencing di sekolah,” kata perempuan 40 tahun ini.

Berat badan Leo kemudian juga turun drastis hanya dalam dua pekan. Sebelumnya berat anak itu 30 kilogram, kini susut menjadi 25 kilogram. Di pinggang kanan Leo terlihat luka lebam selebar sekitar empat sentimeter. Leo, yang biasa aktif dan selalu ceria, juga tiba-tiba berubah menjadi pendiam dan pemurung.

Beberapa kali Putri keheranan melihat sang anak pulang mengenakan baju penggantinya yang disimpan di sekolah. Ketika ditanya, Leo selalu menjawab bajunya basah kehujanan. Pada 21 Maret lalu, lagi-lagi ia pulang dengan memakai baju pengganti. Kali ini Putri memaksa Leo bercerita apa yang terjadi. “Dia mengaku mengompol di kelas karena tak mau pergi ke toilet,” ujar Putri.

Kepada sang ibu, Leo bercerita ada orang yang kerap berbuat jahat terhadap dirinya. ”Mami, tolong bilang ke teman Mami yang polisi datang ke sekolahku karena ada bapak jahat di sekolah,” kata Putri menirukan ucapan anak sulung dari dua anaknya hasil pernikahan dengan seorang pria warga negara Belanda itu.

Putri lalu membujuk Leo menceritakan yang dialaminya selama ini. Kepada sang ibu, Leo akhirnya bercerita bahwa ia kerap disiksa sejumlah “bapak” dan “mbak”–demikian ia menyebutnya. Menurut Leo, si “bapak” beberapa kali menyodominya di toilet sekolah. Sedangkan si “mbak” memeganginya.

Pengakuan Leo itu membuat Putri kaget bukan kepalang. Dia kemudian membawa Leo ke Rumah Sakit SOS dan Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta Selatan. Hasil visum menunjukkan, selain ada luka, di dubur anaknya ditemukan dua jenis bakteri. “Dia juga dinyatakan mengidap herpes kelamin,” ucap Putri dengan suara bergetar.

***

Putri sendiri yang membuka kasus ini ke publik pada Senin pekan lalu. Kepada wartawan di Kepolisian Daerah Metro Jaya, dia mengungkapkan sebelumnya sudah melaporkan kejadian yang menimpa anaknya itu ke polisi pada akhir Maret lalu.

Juru bicara Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Rikwanto, menyatakan pihaknya telah memeriksa tiga orang yang diduga terlibat kasus ini. Mereka adalah Afriska Sofyan, 24 tahun, Agun Iskandar (25), dan Virgiawan Amin (25). Dua nama terakhir sudah ditetapkan menjadi tersangka dan kini ditahan. Mereka dijerat dengan Undang-Undang Perlindungan Anak dan terancam dipenjara hingga 15 tahun. Adapun Afriska dibebaskan. Perempuan itu, untuk sementara, dinyatakan tak terbukti terlibat kejahatan ini. Ketiganya sehari-hari pegawai cleaning service perusahaan alih daya PT ISS yang ditugasi di taman kanak-kanak Leo.

Tertangkapnya para tersangka ini juga dari pengakuan Leo kepada David, manajer operasional sekolah internasional itu. Untuk membujuk Leo bercerita, saat itu David sampai menggunakan kostum Captain America, superhero favorit Leo. Di hadapan ”Captain America”, Leo pun berceloteh tentang kejadian yang dialaminya tersebut. “Kepada David, ia bercerita semua pelakunya menggunakan pakaian biru,” kata Putri. Di sekolah itu yang memakai baju biru-biru hanya petugas kebersihan.

David lalu membawa setumpuk foto petugas kebersihan di sekolah itu. Saat ditunjukkan, Leo tanpa ragu berkali-kali menunjuk foto Agun dan Afriska. Sedangkan Awan kadang ditunjuk kadang tidak. Belakangan, kepada polisi, Agun menyatakan Awan terlibat dalam pelecehan ini.

Polisi sudah meminta kedua pria ini diperiksa di laboratorium. Hasilnya, pada kemaluan Agung dan Awan ditemukan dua jenis bakteri yang sama dengan jenis bakteri di dubur Leo. Belakangan, Leo kembali menunjuk dua pelaku lain, Z dan A, juga petugas kebersihan toilet.

Kendati sudah diperiksa di Polda Metro Jaya, hingga Kamis pekan lalu mereka belum ditetapkan sebagai tersangka. “Alat buktinya minim,” ucap Rikwanto. Menurut dia, pihaknya hingga kini masih menyelidiki kemungkinan adanya korban lain. Tapi, sebuah sumber Tempo bercerita, ada orang tua korban lain yang sebenarnya sudah melapor ke Polda. “Ia tengah membujuk supaya anaknya mau bercerita,” kata sumber ini. Sumber lain bercerita, saat pertemuan di rumah Putri, terungkap sedikitnya ada empat orang tua yang mengaku waswas anaknya juga menjadi korban kejahatan serupa.

Setelah “meledaknya” berita pelecehan ini, pihak pengelola sekolah internasional itu menutup pintu rapat-rapat terhadap pers. Permintaan Tempo untuk mendapatkan konfirmasi kasus ini tak ditanggapi pihak sekolah. Pekan lalu, di kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Tim Carr, kepala sekolah taman kanak-kanak yang uang SPP-nya per bulan US$ 2.700 (sekitar Rp 30 juta) itu, hanya berkomentar pihaknya akan bekerja sama dengan semua instansi mengungkap kasus ini. “Kami akan terus bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan, kepolisian, dan institusi pemerintahan lain demi tercapainya jalan keluar terbaik,” ujarnya.

Pihak Kementerian Pendidikan membentuk tim investigasi untuk mengusut perkara ini. Rabu pekan lalu, tim ini datang ke sekolah tersebut. Menunggu sekitar satu jam, tim akhirnya balik kanan. Pihak sekolah tak mengizinkan mereka masuk ke kompleks lingkungan sekolah internasional yang dulu bernama Joint Embassy School ini. Kepada wartawan, Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Lidya Freyani menyatakan TK itu belum ada izinnya.

Kepada Tempo, Putri menyatakan sejak awal pihak sekolah memang tak kooperatif menyelesaikan kasus ini. “Seakan-akan justru ingin menutupi,” ucapnya. Menurut dia, sekolah jelas telah melakukan kelalaian dalam kejadian yang menimpa anaknya. Leo, kata dia, pernah menceritakan pelecehan yang dialaminya itu kepada gurunya. “Gurunya bilang ke anak saya, kalau kamu tahu namanya, baru adukan ke saya,” ucap Putri, yang menyatakan tak akan menyekolahkan anaknya ke sana lagi. Dia menyesalkan ketidakpekaan guru terhadap perubahan sikap anaknya yang tidak mau ke toilet dan memilih ngompol di kelas.

Pakar pendidikan anak Seto Mulyadi menyatakan sekolah ikut bertanggung jawab dalam perkara ini. Menurut dia, dalam hal ini polisi bisa menggunakan Pasal 90 Undang-Undang Perlindungan Anak karena di situ diatur tindak pidana terhadap anak bisa dikenakan kepada pihak korporasi atau pengurusnya. “Polisi harus menjerat pihak sekolah karena kasus ini juga tanggung jawab mereka,” ujar bekas Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak ini. (Tempo, 27 April 2014)