Bagaimana Menghadapi Wartawan, Bagaimana Membuat Pers Release?

Bagaimana menghadapi wartawan? Bagaimana menghadapi wartawan yang tak jelas medianya? Bagaimana supaya berita pers release kita dimuat? Inilah sejumlah pertanyaan yang diajukan oleh para Kepala Humas PT Jasa Raharja. Ceritanya, Kamis, 24 April lalu, saya diminta memberi “soal kehumasan” ini kepada mereka.

Ya, agak mendadak memang permintaannya. Acara Hari Kamis pukul 14.00 sampai 17.00  “Maaf Mas, saya mendapat nama Mas dari….,” di ujung sana suara seorang perempuan memohon, juga mendesak. Dia menyebut nama teman saya, yang memberi referensi dan no hp  saya.  Bukan saya menolak, tapi hari “Kamis” itu yang berat. Itu  hari deadline. Saya mesti mengontrol dan memastikan perolehan bahan-bahan tulisan dan kelengkapan narasumber “pasukan” saya.

Akhirnya saya mengiyakan dengan syarat. Saya hanya memberi materi dari  pukul dua siang hingga empat sore. Tidak bisa lebih seperti yang diminta. Habis dari acara itu, saya mesti cabut,  ngebut ke kantor.

Panitia meminta saya memberi materi “Teknik Mengadakan Interview dengan Media,” dan “Membuat Pers Release.” Agak janggal memang materi pertama. Mungkin lebih tepat: Bagaimana menghadapi wartawan…”

Acaranya di Hotel Kartika Chandra, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Lokasi yang gampang dijangkau. Pesertanya para kepala humas PT Jasa Raharja seluruh –hampir seluruh- Indonesia. Ya, ada  dari Bali, Lampung, Jakarta dll.

jasaraharja24april20147

Untuk acara ini, saya menyiapkan presentasi dengan power point. Juga saya ambilkan contoh-contoh sejumlah pers release yang menurut saya buruk. Contoh “Pers Release” buruk ini penting saya kemukakan dan perlihatkan, agar para Kepala Humas tersebut paham, pers release semacam ini akan lebih banyak masuk kotak sampah ketimbang dibaca wartawan –ya, sekadar dibaca pun tak menarik.

Perihal menghadapi wartawan, memang ini sesuatu yang tak gampang, terutama untuk para humas sebagai “meja” terdepan  menghadapi mereka. Saya jelaskan  -dengan power point- dulu prinsip kerja jurnalis, juga apa yang disebut dengan wartawan (menurut UU tentang Pers) juga kode etik wartawan.

jasaraharja24april20145

Saya tekankan tak perlu menolak jika ada wartawan yang medianya tak jelas terbitnya datang misalnya ikut jumpa pers. Saya tekankan,  terima saja mereka, dan minta kartu namanya. Selama mereka meminta informasi dan jelas identitasnya, ya berikan saja. Tapi, jika mengaku wartawan tapi tidak bisa menunjukkan identitasnya –kartu pers-  tentu  mereka –humas-  berhak menolak. Kenapa? Karena kode etik dan UU Pers, menyatakan wartawan wajib menunjukkan identitasnya.

jasaraharja24april20146

Yang saya tekankan adalah jangan memberi wartawan uang. Juga jika berita dari Humas dimuat. Sebagian peserta mengaku pernah memberi uang kepada wartawan sebagai ucapan terimakasih mereka. Saya sarankan sebaiknya kebiasaan ini dihentikan saja. “Lebih baik dalam bentuk lain jika itu dimaksudkan sebagai terimakasih…” kata saya.

Lewat power point saya jelaskan prinsip-prinsip pers release. Pengalaman saya, banyak  bagian Humas, lembaga pemerintahan maupun perusahaan,  yang tak memahami bagaimana membuat pers release yang baik dan benar. Pers release itu dimuat sesuai selera mereka. Seolah-olah sangat bagus. Padahal, saat dikirim ke media, media tak akan menyentuhnya karena tak menarik, tak sesuai selera redaksi.

Inilah yang saya ajari kepada para Humas tersebut. Trik dan strategi bagaimana membuat pers release agar diperhatikan dan dimuat oleh media. Beberapa peserta terlihat tersenyum. “Pantas selama ini kok nggak ada tanggapan dari redaksi,” ujar seorang peserta saat jeda acara.

Ya, bukankah artinya kerja sia-sia jika kita membuat pers release tapi tidak diperhatikan media?