Menjadi Wartawan Tempo

SELASA kemarin saya diminta menjadi pembicara untuk para calon reporter –kami menyebutnya “carep” Tempo- di Wisma Tempo Sirnagalih –kami menyebutnya “WTS”- di Puncak, Bogor.

Ini bukan hal baru untuk saya. Tapi, saya selalu gembira, terutama karena selalu ikut yang pertama melihat “wajah-wajah baru” para calon wartawan Tempo. Sebelum masuk menjadi bagian carep, mereka juga harus lolos tes wawancara dengan sejumlah redaktur Tempo, dan saya juga ikut dalam bagian mewawancarai mereka itu.

Hanya, menurut panitia, kali ini ada perbedaan cara penerimaan dibanding tahun-tahun sebelumnya –atau bahkan belasan tahun sebelumnya. Biasanya, para pelamar yang terseleksi secara administrasi akan dites di Jakarta, lewat sebuag Biro Psikologi, dan kemudian menjalani tes kesehatan dan bahasa Inggris, sebelum kemudian  dites (lagi) dalam sesi wawancara oleh para redaktur dan redaktur pelaksana Tempo.

Kini di balik. Para pelamar langsung ditangani bagian SDM Tempo, diseleksi, diwawancarai oleh redaktur, sebelum kemudian tersaring sejumlah nama. Nah, nama ini yang kemudian akan dikirim ke sebuah biro psikologi untuk dianalisa.

Mana yang terbaik, saya tidak tahu.  Tentu manajemen Tempo –SDM- tidak asal mengubah tata cara perekrutan ini. Mereka, pasti, berdasarkan pengalaman panjang, punya alasan kenapa sistem itu sekarang diubah.

Seperti tahun sebelumnya, yang melamar menjadi wartawan Tempo tetap banyak.  Menurut panitia ada sekitar 2.500 orang. Syarat utama adalah  S1. Dari jumlah itu, 800 dipanggil karena memenuhi syarat administrasi dan lain sebagainya.  Dari jumlah itu hampir separuhnya datang. Dari jumlah itu lalu diperas dan diperas lagi, sehingga tinggal 38-orang. Wuih……Dan itulah yang kemarin saya hadapi di Wisma Tempo. Wajah-wajah yang sudah memenangkan persaingan dan jalan panjang masuk grup Tempo.

Tentu dengan berbagai alasan mereka masuk Tempo, menjadi wartawan Tempo. Mereka ini selama sekitar hampir dua tahun akan di-training, dilatih menjadi wartawan yang akan bisa menulis di Tempo.co, Koran Tempo, dan juga nanti,  Majalah Tempo. Selama itu mereka akan terus diisi ilmu jurnalistik dan diasah kemampuannya  sebagai wartawan sehingga bisa melaksanakan tugasnya sebaik mungkin.

wts3

Mereka datang dari beragam latar belakang keluarga dan perguruan tinggi. Ada yang dari UGM, UI, Sekolah Tinggi Telkom, ITB dan lain-lain. Ada yang orangtunya PNS, petani, dsb.

Di WTS itu, saya diminta menyampaikan materi “bagaimana mempersiapkan dan meliput pemberitaan.”  Tentu ini tip awal, semacam perkenalan, karena tidak mungkin menyampaikan semua materi dalam waktu tak lebih dari dua jam. Bisa jadi juga tak efektif karena mereka juga lelah, karena sebelumnya mereka juga “dijejali” berbagai materi tentang “keTempo-an.”

wts1

wts2

Perihal “Ketempoan” itu,  panitia rupanya punya sendiri untuk membuat para carep itu memahami “ideologi”  dan sejarah Tempo tanpa perlu lewat  pidato atau ceramah. Panitia memanggil penunggu wisma Tempo –kami memanggilnya Mang Dadang-  diminta untuk menceritakan pengalamannya selama menjadi penjaga Wisma Tempo.

Ya, Mang Dadang adalah salah satu saksi dari reformasi yang terjadi di negeri ini. Di zaman pengujung Orde Baru, Wisma Tempo kerap dipakai untuk rapat-rapat para aktivis pergerakan. Dan karena urusan ini, Mang Dadang kerap berurusan dengan para aparat penegak hukum, tentara atau polisi.

Pada saya, suatu ketika saat saya menginap di WTS,  Mang Dadang bercerita bagaimana ia diteror dan diancam aparat keamanan untuk membuka siapa saja tokoh-tokoh nasional yang datang dan rapat di Wisma Tempo itu.  Saya yakin Mang Dadang tak membukanya, karena kalau dia buka, pasti tokoh itu diciduk aparat keamanan –sesuatu yang tak pernah saya dengar.

Kepada para carep  saya beri sejumlah hal-hal mendasar yang mesti dipegang dan dilakukan wartawan sebelum melakukan peliputan. Bagaimana mempersiapkan pertanyaan, bagaimana mengejar narasumber, bagaimana bersiap menghadapi sumber yang waktunya terbatas, dan bagaimana sikap kita jika melakukan wawancara dengan narasumber.

Yang  saya ingatkan juga,  wartawan tidak boleh bersikap sok pintar di depan narasumber atau bahkan mempunyai kebiasaan memotong narasumber yang tengah berbicara, apalagi jika yang tengah narasumber ungkapkan sesuatu yang penting. Ini sikap yang kerap membuat narasumber jengkel atau tidak dihargai.

Seorang wartawan mestinya adalah sosok yang rendah hati –bahkan sekalipun ia sudah S2 atau S3 atau yakin dirinya lebih pintar dari narasumber itu.