Himpunan Mahasiswa ITB

Dinamika kehidupan mahasiswa adalah mengasyikkan.  Itulah dunia masa muda yang, menurut saya, mesti dinikmati dengan cara benar. Merengkuh sebanyak-banyaknya kehidupan kampus dan luar kampus, tanpa lepas kendali.

Saat menjadi mahasiswa di Yogya dan juga Solo, saya banyak mendapati teman-teman yang demikian giatnya dalam berbagai organisasi sampai kemudian kuliahnya amburadul. Ada yang akhirnya drop out ada yang akhirnya, dengan mati-matian, selamat, lulus dan diwisuda. Saya tak bisa membayangkan, apa pun alasannya dia tak lulus, betapa hancur hati orangtuanya melihat kenyataan anaknya seperti ini. Bukankah setiap orangtua menginginkan anaknya lulus?

Saya senang melihat dan menikmati dunia mahasiswa seperti itu.  Bagi saya mahasiswa yang hanya belajar, dan berkutat dengan buku dan perpustakaan belumlah lengkap sebagai mahasiswa. Dulu, saat masih kuliah, bersama teman-teman, kami membuat slogan: buku, gitar, dan gunung. Slogan itu saya ambil dari salah satu tulisan dalam buku  Soe Hok Gie, mahasiswa UI yang tewas di Puncak Semeru. Hanya di situ, semboyan itu adalah, “Buku, pesta, dan cinta….” Nah!

Saat itu, setiap dua pekan atau minimal sebulan sekali, kami memang selalu naik gunung: Merapi, Merbabu, Lawu, Sindoro, Sumbing,  dan itu-itu terus. Lalu, tiap akhir semester, naik gunung lebih jauh: Gunung Slamet, Gunung Semeru, Gunung Rinjani… Ya, kami memang akrab dengan Merapi, dengan Mbah Marijan yang saat itu masih muda, suka bercanda dan (seingat saya) masih magang jadi juru kunci Merapi. Saat mahasiswa saya sempat menulis profil Mbah Marijan dan saya kirim untuk sebuah media di Jakarta. Honornya saya pakai lagi untuk naik gunung….

Jika saya mengantar Bagas ke Bandung dan kebetulan menginap di hotel di dekat Kampus ITB, saya kerap jalan-jalan ke ITB, menyusuri lorong-lorongnya dan mengintip apa sih kerjaannya mahasiswa dari perguruan tinggi yang terkenal ini.

itb

Dari beberapa informasi yang saya dengar, termasuk sejumlah rekan kerja alumnus ITB di kantor, saya mendapat cerita, para mahasiswa ITB sangat bangga atas himpunannya. Solidaritas dibangun dan terjadi di sini. “Satu kata, satu penderitaan, dan satu perjuangan, “ mungkin demikian kira-kira “semangatnya.”  Mereka yang tak aktif di himpunan bakal rugi besar. Itu karena Himpunan juga memiliki  peran penting memberi informasi dan jalan para alumninya dalam mencari kerja. “Jika wawancara dan ketemu alumni ITB yang mewawancarai, biasanya yang ditanyakan, apakah dulu aktif di Himpunan atau tidak,” demikian cerita seorang teman, alumni ITB, yang kini menjadi orang penting  di sebuah perusahaan tambang.

Karena itu sekretariat himpunan selalu ramai. Tempat para mahasiswa berapat membuat rencana kegiatan, tempat nongkrong, sekaligus, menurut saya, pasti tempat main gaple, dan kost sejumlah mahasiswa yang emoh pulang ke rumah. Kalau soal demikian saya kira di kampus mana pun sama. (Tapi konon ITB sekarang melarang mahasiswa untuk “tidur” di kampus)

Himpunan di ITB tentu saja jumlahnya sebanyak program studi di kampus tersebut. Para mahasiswa ITB, konon lebih bangga memakai jaket himpunan mereka ketimbang jaket ITB sendiri. Soal jaket ini di ITB jumlahnya bisa banyak.  Ada jaket almamater (jaket ITB), jaket Fakultas, Jaket Jurusan, dan juga  jaket kegiatan organisasi atau kegiatan ekstra kampus yang diikuti mahasiswa. Jadi jika kita ke kampus ITB ini kita akan menemui mahasiswa dengan jaket warna warni,  sesuatu yang dulu tak saya temu waktu kuliah di Yogya. Tapi, yang menonjol, tetap saja jaket himpunan yang bisa dilihat dari warnanya dan pernik-pernik symbol jurusan yang tertempel di dada atau lengan jaket.

Pekan lalu saya ke Bandung dan menginap di Hotel Jayakarta di kawasan Dago atas. Pagi-pagi, jam enam, saya mengantar Bagas ke kampus. Dia ada janji latihan diving dengan teman-temannya yang tergabung dalam Nautika, unit selam kampusnya.

Sepagi itu sejumlah mahasiswa sudah ada yang nongkrong di kampus. Ada yang tengak-tenguk, ada yang tengah serius mengetik dengan di sebelahnya ditunggui seorang gadis (mungkin pacarnya) yang masih terkantuk-kantuk. Saya menduga sang cowok tengah mengerjakan tugas kampusnya.

Saya sempat berputar-putar dan memfoto sejumlah sekretariat himpunan mahasiswa. Ini beberapa di antaranya.

Tampak Luar

Tampak Luar

 

Tampak Dalam

Tampak Dalam

himpu4himpunan1