Ponorogo 2 (Pesta Kawin di Desa Jebeng)

Baru kali ini saya melihat sebuah pernikahan yang dilakukan di sebuah desa Ponorogo. Pesta pernikahan yang menurut saya meriah, dan tentu saja berbeda dengan pernikahan yang kerap saya datangi di Jakarta.–

MEMANG  inilah tujuan saya ke Ponorogo, ada kepentingan karena keponakan menikah. Lokasi pernikahan di rumah mempelai perempuan di Desa Jebeng, Kecamatan Slahung,  sekitar 12-an kilometer dari kota Ponorogo.

Saya mengiringi rombongan mempelai pria dari Desa Bedi Wetan di Kecamatan Bungkal.  Dengan naik mobil kami mengantar mempelai pria yang sebelumnya dihias terlebih dulu di rumahnya yang berarsitektur rumah Joglo itu.

Memasuki desa mempelai perempuan, sepanjang jalan, saya melihat kaum pria duduk-duduk,  kongkow di pinggir jalan, di depan rumah, atau di perempatan jalan.  Rata-rata berpakaian batik, berkopiah, bersandal, atau bersepatu yang, tampaknya,  sebagian besar tidak berkaos. Mereka itulah warga Desa yang bersiap menghadiri pesta perkawinan salah satu warga mereka –mempelai perempuan.

Lho kok tidak langsung masuk dan duduk di kursi-kursis di arena pesta pernikahan? Saya juga tidak tahu. Yang pasti hari itu hari Rabu. Artinya mereka telah meluangkan waktu untuk hadir di pesta pernikahan itu. Mungkin yang bekerja terpaksa tidak bekerja dulu, atau pulang lebih cepat. Yang petani, mungkin hari itu, memilih tak ke sawah karena ada hajatan di desa mereka.

20140618_141212

Begitu turun dari mobil, maka saya mendengar alunan lagu shalawat yang dinyanyikan dengan irama lagu berirama “dangdut” menyambut rombongan penganten pria. Meriah. Awalnya saya ikut berdiri di belakang pengantin pria. Tapi, beberapa langkah, saya memilih mundur. Saya memilih untuk berputar, berjalan ke depan, memfoto-foto saja. Ya, jauh-jauh dari Jakarta, mewakili handai taulan di Jakarta, kalau tidak membawa foto-foto, tentu nanti akan membuat mereka kecewa.

Nah, baru saya tahu, kapan para tamu, para warga Desa itu duduk di kursi.  Begitu rombongan pengantin pria selesai mengantarkan dan mempertemukan mempelai pria dengan mempelai perempuan, maka saat itu, ratusan tamu langsung berdatangan, masuk dengan cepat dan duduk di kursi lipat yang tersedia. Sekejab arena perkawinan itu sudah dipenuhi tamu. Tak satu pun terlihat ada kursi kosong.

Ritual pernikahan ini menurut saya berlangsung efektif dan efisien. Foto-foto dengan pengantin, misalnya, hanya terbatas keluarga yang dipanggil oleh pembawa acara. Tak lebih setengah jam. Tak ada tamu yang maju untuk foto bersama penganten. Tak ada teriakan dari pembawa acara “foto bersama teman SMA atau kuliah” seperti sering terdengar pada pesta pernikahan di Jakarta. Semua hanya dari keluarga mempelai pria dan wanita.

Ada pun makanan, nah, ini juga menarik. Tahap pertama diedarkan sup dalam mangkok. Sekitar setengah jam kemudian, tahap kedua, diedarkan  “makanan utama,” sepring nasi  yang isinya daging dan sayuran semacam acar. Di piring itu “ditimpa” pencuci mulut: es krim. Pondok’an? Seperti kambing guling, bakso? Tak ada. Jadi, tak terlihat ada orang-orang berkerumun di tempat tertentu menunggui pondok’an layaknya yang sering dijumpai dalam pesta pernikahan di Jakarta.

Acara perkawinan ini diakhiri dengan mempelai turun dari kursi pengantin dan berdiri di dekat tempat penerima tamu. Di sinilah pengantin kemudian menyalami undangan yang satu persatu pulang.

Seperti di banyak tempat di desa-desa di Jawa, pernikahan selalu membuat kesibukan ibu-ibu yang datang membawa sumbangan berupa beras, kelapa dll. Tradisi ini pun masih ada. Tradisi saling membantu, ikut memasak, atau ikut mengatur piring-piring untuk diisi nasi dll.

20140618_151857

Tentu ada yang berbeda. Kini bukan tampah atau tas dari bahan alam yang mereka bawa. Tas-tas itu dari plastik yang dibentuk dan berwarna-warni.  Tas-tas itu diberi nama pemiliknya.  Tuan rumah akan “mengisi” kembali tas itu dengan kue, atau makanan pesta untuk  di bawa pulang sang empunya tas.

Tas-tas siap diambil empunya setelah "diisi" ganti oleh tuan rumah

Tas-tas siap diambil empunya setelah “diisi” ganti oleh tuan rumah

Pesta perkawinan bagi warga desa semacam Desa Daleman itu tampaknya lebih pada  mereka “menyambut” warga baru. Warga desa lain yang menikahi warga desa mereka. Karena itulah mereka harus hadir. Ikut menyaksikan, “Itulah dia,” yang kini menjadi warga “kita.” Ini  kesan saya.

Karena itu di sini tak penting makanan. Tak penting musik meriah. Yang penting mereka hadir.  Menjadi bagian sejarah dari warga mereka yang menikah itu. Karena itu pernikahan di desa tak perlu undangan (kecuali mungkin untuk kepala Desa). Cukup pemberitahuan dari mulut ke mulut dan warga akan datang berduyun-duyun.  Yang penting dari semua ini, ritual dan upacara adat itu berjalan lancar. Lancar dan sah menurut agama (Islam) dan adat Jawa.