Jokowi Dikerjain Wartawan Tempo

Foto-foto: L.R. Baskoro

Foto-foto: L.R. Baskoro

Komunitas Tempo tak hanya kumpulan  orang yang serius dalam mengolah berita, tapi juga komunitas penuh keisengan dan keusilan. Saya tak tahu kenapa keusilan, keisengan, dan kejahilan luar biasa itu bisa tercipta. Mungkin salah satunya, berkat tak ada sekat-sekat di antara orang-orang itu sendiri. Sangat jarang di Tempo ada orang dipanggil “Pak.” Lebih banyak memanggil Mas, Mbak, Bang, kak  atau sebutan spesifik lainnya. Saya, misalnya, dipanggil Cak Bas  -mungkin mengacu asal kelahiran saya, lahir di Madiun dan besar di Surabaya.

Di rapat-rapat, misalnya, candaan atau olok-olok bisa muncul setiap detik. Bersahut-sahutan seperti mercon,  bahkan di tengah saat membicarakan usulan berita penting sekali pun. Karena itu pernah suatu ketika seorang jurnalis luar negeri yang ikut  rapat Tempo terbengong-bengong melihat kami rapat. “Rapatnya terlalu panjang,” katanya. (Ya jelas karena bercampur guyon itu…). Dan tanggapan wartawan Tempo yang mendengar kritik itu, seperti biasa, yang terucap hanya.” “he..he…he…iya memang..” Nah!

Ini pula yang membuat Anies Baswedan Jumat kemarin geleng-geleng kepala saat melihat puluhan wartawan Tempo plus puluhan karyawati lain heboh menyambut sekaligus “mengerjain” Jokowi yang datang ke kantor Tempo. Kabar Jokowi datang ke Tempo itu sendiri sudah membuat ratusan warga sekitar Velbak –tempat kantor Tempo– datang berjubel di halaman parkir yang sudah dibersihkan untuk menyambut rombongan Jokowi. Calon presiden ini akan beranjangsana juga buka puasa di Tempo. “Jokowi yang meminta sendiri,” demikian kata salah seorang bos mengabarkan. Untuk  menu puasa Jokowi kami menyiapkan nasi pecel dan gudeg.

Saya masih di lantai dua ketika sekitar pukul 17.00 Jokowi datang. Ini hari Jumat dan saya berkutat dengan tugas menulis “opini,” untuk Majalah yang akan terbit Senin depan.  Hari ini semua naskah juga harus selesai. Saya sudah membayangkan naskah akan sedikit telat. Kenapa? Ya, karena ruangan tempat saya berada akan di setting sebagai “studi foto” untuk memotret Jokowi sekaligus tempat shalat magrib. Saya ketawa melihat sejumlah sajadah baru bertebaran di atas lantai itu. “Baru beli, juga sandal jepit itu. Untuk  Jokowi,” kata  seorang staf bagian umum.  Seorang teman wartawan tersenyum girang. “Lumayan kantor punya sajadah baru, dan sandal jepitnya nanti kita bagi-bagi…”

Sebelum Jokowi datang di ruang itu sudah muncul beberapa orang “pengawal” Jokowi. Seorang diantaranya, yang ternyata Danki Brimob (saya tidak menyangka lantaran berbaju sipil), mendekat ke meja saya. “Saya senang membaca Tempo,” katanya. Saya hanya menjawab “Heh….” (karena sedang konsentrasi melihat tulisan opini saya yang belum rampung itu). “Nggak nyangka wartawannya kayak gini, saya kira gimana..sangar-sangar..” ujarnya.  “Juga kantornya, saya kira gimana…” katanya lagi. Saya tersenyum. Saya tahu maksudnya. Kantor Tempo memang kecil –ruko-  tidak seperti dibayangkan banyak orang.  Kantor baru kami, yang berdelapan lantai di kawasan Palmerah,  baru selesai akhir tahun ini. (Itu pun mungkin belum seratus persen).

Tak berapa lama muncul Kendra, illustrator Tempo, membawa kertas, berbincang dengan fotografer Tempo. “Nanti kayak gini posisi Jokowi pas difoto,” ujarnya. Lalu dengan santai gambar itu digeletakkan begitu saja di meja saya. Dia ngeloyor pergi  -mungkin demikianlah memang tipe seniman.  Inilah ilustrasinya yang hampir saja dilemparkan seorang office boy ke kotak sampah…

20140713_080305 Di depan para wartawan Tempo Jokowi tak banyak bicara. Ia juga menolak untuk diwawancarai (kendati toh akhirnya tetap saja bisa diwawancarai). “Saya ini kalau habis diwawancai Tempo pulangnya pusing. Pertanyaannya aneh-aneh,” katanya disambut ketawa semua yang berada di dalam ruangan.  “Saya ke sini karena kangen Tempo,” katanya.

Jokowi memang tak asing dengan Tempo. Sudah beberapa kali ia datang ke kantor Tempo dan berdiskusi dengan kami. Dulu ia juga menjadi salah satu dari sejumlah ”kepala daerah pilihan Tempo” (saat itu masih menjadi wali kota Solo) yang kemudian “Kepala Daerah Pilihan versi Tempo” itu  menjadi edisi khusus majalah ini.

Di Tempo, Jumat kemarin itu, Jokowi memimpin shalat magrib. Saya berada di belakangnya. Kesan saya, bacaan surat Alquran yang Jokowi bacakan biasa saja. Nada membacanya sama seperti kebanyakan orang Jawa dalam memimpin shalat . IMG_20140711_181316 Pada akhirnya memang yang paling heboh adalah sesi foto. Riuh rendah teriakan wartawan dan karyawan Tempo yang bersemangat mengikuti sesi foto  membuat suasana lantai dua benar-benar “kacau.” Jokowi akan diangkat dan diputar-putar.  Bambag Harymurti, CEO PT Tempo,  yang melihat sejumlah orang melakukan latihan untuk  mengangkat  Jokowi,  dengan iseng mendorong Anies Baswedan ke tengah. “Ayo angkat Anies..angkat Anies,” katanya. Dalam sekejab, teman-teman langsung menangkap Anies yang tak mengira akan dikerjain seperti itu.

Anis Diangkat-angkat....

Anies Diangkat-angkat….

Ada dua “skenario” pemotretan Jokowi. Pertama diangkat rame-rame dan  berdiri di samping bendera merah putih.  Sejumlah adegan pun diambil. Misalnya, sedang melihat handphone, sedang menelpon, dan melihat jam tangan. Lantaran Jokowi tak memakai jam, teman “pengatur gaya” dadakan terpaksa mencari jam dan memasangkan jam itu ke tangan kanan Jokowi. Terlihat besar dan aneh. “Pak Jokowi nggak pakai jam, jadi nggak usah ditambah-tambahin,” kata Anies. Akhirnya rencana mengambil foto “Presiden tengah  melihat jam ini” pun dibatalkan. 20140711_183619 20140711_185118 Semua sesi pemotretan ini diiringi kehebohan para wartawan dan staf karyawan Tempo yang memenuhi lantai dua dengan segala “minatnya.” Ada yang menonton ada yang berburu tandatangan ada minta foto bersama. “Semua orang Tempo tiba-tiba jadi selfi,” ujar seorang temen terkekeh. Ya, di manapun Jokowi melangkah, sejumlah karyawan Tempo mengajak berfoto atau minta tanda tangan: dari kaos bahkan handphone. “Harga handphonenya sih murah, tapi jadi mahal karena ada tanda tangan Jokowi,” kata seorang teman meledek  -mungkin sirik karena tidak dapat tanda tangan “Presiden Indonesia” ini.  Jokowi sendiri hanya tersenyum kecil tak berdaya -sekaligus pasrah-  menghadapi serbuan  fans-nya yang tak habis-habis itu….. Berikut foto-foto Jokowi yang saya ambil dari meja kerja saya yang tentu saja sudah tidak karu-karuan karena acara hiruk pikuk ini.20140711_18484120140711_185938 20140711_18570120140711_183612