Sepanjang Jalan Sosrowijayan

Jalan Sosrowijayan adalah salah satu jalan yang paling terkenal di Yogya. Berhimpitan dengan wilayah “lampu merah”  Sarkem alias Pasar Kembang (lihat tulisan Sarkem di blog ini juga), jalan ini terkenal lantaran menjadi favorit para turis asing untuk menginap. Dekat dengan Jalan Malioboro, dekat  dengan Kraton Yogya berikut segala pernak-pernik tempat wisatanya (termasuk Taman Sari, alun-alun dll), juga dekat dengan Stasiun Tugu. Karena itu tidak heran jika pagi atau petang hari kita melihat turis-turis –kebanyakan  bercelana selutut dan bersandal gunung- keluyuran di Jalan Sosrowijayan.

Foto-foto: L.R. Baskoro

Foto-foto: L.R. Baskoro

Tak panjang jalan ini. Mungkin sekitar 500 meter. Dulu seingat saya, sekitar tahun 80-90-an hotel di sana tak lebih dari belasan. jumlahnya Kebanyakan juga biasa saja. Tarifnya rata-rata masih di bawah Rp 150 ribu. Becak memenuhi jalan itu, sesuatu yang sampai sekarang tetap ada.

 

Saat itu hotel di Yogya yang paling terkenal adalah Hotel Garuda, Hotel Mutiara, dan Hotel Ambarukmo yang tarifnya sudah lebih dari lima kali lipat dari hotel-hotel di Sosrowijayan. Karena itu, para turis yang menginap di Jalan Sosrowijayan itu, ini sebutan kami,  “turis golongan sandal jepit,”  alias tidak kaya, berkantung pas-pasan… – sama “gembelnya” dengan kami, para mahasiswa yang kerap kongkow-kongkow tengah malam di Malioboro, di depan Hotel Garuda,  sembari berdiskusi  -lebih tepatnya ngobrol ngalor ngidul-  tentang apa saja: dari soal “kenapa penyair A dan penyair B tidak saling tegur, kenapa Soeharto tidak jatuh-jatuh, sampai meramalkan, apakah Sultan HB X akan kawin lagi supaya bisa punya anak laki atau tidak….”

sosroderetan hotel

Sosrowojayan kini sudah bersolek. Sudah banyak hotel baru di sini. Saya menghitung ada sekitar 24 hotel sepanjang  jalannya. Ada yang besar, ada yang kecil. Ada yang kesannya mewah, ada yang tetap sederhana. Saya sempat masuk ke Hotel Bladok. Dulu saya pernah menginap di hotel ini. Saat itu hotel ini masih berlantai dua, sederhana, dan turis bule banyak menginap di situ karena di dalam suasananya tenang. Kini hotel itu sudah berlantai tiga. Di daftar tarifnya saya lihat per malam ada juga yang harganya masih Rp 200-an ribu.

sosrobladok

Tarif hotel Sosrowijayan memang tetap saja, menurut saya, relatif murah. Rata-rata di bawah Rp 500.000. Tentu yang Rp 500.000 ini fasilitasnya lebih lengkap dari yang Rp 200.000. Bahkan, jika mau di bawah Rp 200.000 juga ada. Ya, itu, belok sedikit masuk “Sarkem.”  Pak Tukang becak akan dengan senang hati menunjukkan mana penginapan yang termurah di wilayah Sosrowijayan dan “saudaranya” Sarkem itu.

Karena sejak “lahirnya” Jalan Sosrowijayan dikenal sebagai wilayah turis, maka fasilitas untuk para turis pun tersedia di mana-mana: agen perjalanan wisata berikut guide-nya, penjualan aneka tiket perjalanan, juga penyewaan sepeda. Memang selalu ada saja turis yang senang menyusuri Yogya, bahkan hingga ke Candi Prambanan dengan mengendarai sepeda ontel.

sosrojayan5

Jika pegal, ada juga jasa pemijatan. Ada tradisional, ada yang dengan sentuhan modern.

sosrowipijat tradis

sosropijat

Untuk para mahasiswa jurusan bahasa asing, Sosrowijayan juga merupakan tempat favorit untuk praktek lapangan. Mereka memburu para turis, untuk mempraktekkan bahasa asing yang mereka pelajari di bangku kuliah.

Saya punya teman asrama, seorang masiswa ABA (akademi bahasa asing) yang berasal dari sebuah kota di Kalimantan Tengah. Di Jalan Sosrowijayan ini ia berkenalan dengan seorang turis Belanda –cewek. Runtang-runtung ke sana-ke mari (hal yang membuat kami warga asrama lain sirik) belakangan tidak saja bahasa Inggrisnya jadi sangat lancar, mereka rupanya saling jatuh cinta.

Sang mahasiswa tak balik kampung ke Kalteng. Mereka kini menetap di Belanda, dan mempunyai sejumlah anak. Cinta memang bisa tumbuh di tempat tak terduga, juga di Sosrowijayan yang dipenuhi becak-becak itu.

sosrowjayan2