Jalan Cisitu Lama, Kos-Kosan Mahasiswa ITB

Kalau kita bertanya ke alumni ITB, di mana mencari kos-kosan mahasiswa untuk mahasiswa  ITB? Saya kira mereka akan menyebut dua nama ini: Taman Sari dan Cisitu. Yang terakhir mungkin lebih spesifik, yakni Cisitu Lama.

Kampus ITB

Kampus ITB

Ini memang nama jalan. Tak lebih dari 400 meter saya kira. Di terusannya,  ke arah atas lagi, ke arah Dago ada daerah daerah namanya Cisitu Baru, ada kompleks perumahan bernama Cisitu Indah. Daerah Cisitu memang  terletak di daerah yang agak “tinggi.” Karena itu udaranya cukup dingin.

bdng5

Tapi, yang terkenal memang “Cisitu Lama.”  Ke sini juga saya dulu mencari kos Bagas. Berbekal sebuah nama ibu kos dari seorang temannya yang lebih dulu mendapat kos di sana, akhirnya saya bersua dengan jalan ini. Ternyata memang nama Cisitu sangat familiar bagi para mahasiswa ITB.

Bedanya dengan Taman Sari hanya soal letak. Cisitu relatif agak jauh, kendati bisa juga dengan jalan kaki. Ada pun Taman Sari, yah, kalau naik mobil namanya kebangetan. Soalnya dekat banget. Kesamaannya, saya kira  soal harga yang tak jauh-jauh amat. Sama-sama kelas menengah, lebih tepatnya, kelas menengah ke bawah.  Ada rupa, ada harga, kata orang.  Tapi setelah keluar masuk gang di Tamansari dan Cisitu, saya yakin tetap ada kos yang murah –untuk mereka yang mungkin menang benar-benar berkantong sangat tips.  Yang mungkin sebulan di bawah Rp 500 ribu. Ini tentu ukuran zaman sekarang. Kalau zaman dulu, di tahun 80-90-an kos segitu, Rp 500 ribu per bulan,  tentu saja sudah mahal.

Tapi, tampaknya, kos-kosan di Cisitu, terutama, memang tidak ada bulanan atau tiga bulanan (nah, ini agak lain dengan di Yogya atau Solo). Rata-rata tahunan. Dibayar di depan, jreng. Lalu masuk….Fasilitasnya biasanya, kasus  (di bawah), lemari , dan meja belajar. TV, bahkan untuk ditonton rame-rame pun tidak  ada. (Kecuali mungkin nebeng sama yang punya kos)

Jalan Cisitu Lama tidak lebar, hanya cukup dua mobil. Karena itulah di siang hari biasanya macet –apalagi jika ada ngetem di pinggir jalan.  Angkutan yang biasa dipakai anak-anak ITB adalah angkot ungu jurusan Cisitu-Tegallega. Itu pun tidak berhenti tepat di depan pintu gerbang kampus. Perlu jalan kaki. Kalau naik ojek (sesuatu yang sangat jarang kecuali kepepet) para mahasiswa membayar Rp 5.000.

Kiri kanan Jalan Cisitu Lama ada gang-gang. Tentu saja namanya Gang Cisitu Lama. Misalnya Gg Cisitu Lama I, II, III dst.  Nah di dalamnya juga banyak kos-kosan. Di sinilah, banyak kos yang harganya cukup murah. Ada pun untuk kelas menengah, yang akses jalannya agak lumayan –atau di pinggir jalan-   setahun rata-rata antara Rp 8 sampai 12  juta. Mahal? Menurut saya sih, yang selalu membandingkan dengan zaman saya kuliah di Yogya dan Solo, ya tentu saja mahal.  Bangunannya memang lebih besar, lebih bersih juga kamar-kamarnya, kamar mandinya.

bdng3

Awalnya saya terheran-heran waktu keluar masuk kos-kosan di sana, yakni tidak melihat jemuran. Belakangan saya baru paham, ternyata para mahasiswa (sekarang)  itu tidak pernah nyuci.  Semua  di laundry. Walah…walah…inilah potret mahasiswa sekarang: menenteng tas  kresek di tangan kanan ke tukang laundry dan menenteng handphone di tangan kiri di hari minggu.

Nah, karena Cisitu ini “gudang-“ nya mahasiswa ITB –ya, gudangnya karena isinya hampir semua mahasiswa ITB-  maka segala pernak-pernik berhubungan dengan keperluan mahasiswa ada di sini.

Salah warung makan di di Jln Cisitu Lama yang konon sangat terkenal

Warung Cobek, warung yang terkenal dengan ayam cobeknya di Cisitu Lama

Warung makan, rumah makan padang (RM “Ngalau Indah”), Indomaret, laundry, martabak, bubur ayam, kupat tahu, dokter (Dokter Rina), kebab, kios voucer handphone, fotocopi, hingga service dan tukang buat  jeans “Makes’ Jeans,” dan sebagainya-sebagainya. Harga laundry rata-rata Rp 5.000 per kilo. Bersih? “Kadang-kadang selimutnya setelah dicuci jadi berbulu…”kata Bagas ketawa. Di Jalan ini saya juga lihat ada Asrama Mahasiswa Kalimantan Selatan, “Demang Lehman.”

bdng4

Di Cisitu Lama ini juga nyempil asrama mahasiswa ITB, namanya Bumi Ganesha. Biasa disingkat ABG, Asrama Bumi Ganesha.  Di depan asrama itu ada beberapa  warung makan, juga gerobak aneka makanan. Kupat tahu, nasi goreng dll.. Saya sendiri kalau ke sana, kalau bawa mobil, biasa menitipkan mobil ke gedung “Geologi.”

Gedung Geologi di ujung Jalan Cisitu Lama

Gedung Geologi di ujung Jalan Cisitu Lama

 

Asrama Mhs ITB Bumi Ganesha/L.R. Baskoro

Asrama Mhs ITB Bumi Ganesha/L.R. Baskoro

Saya sering lewat di depannya jika ke kos Bagas. Setiap lewat, asrama yang terlihat kumuh itu seperti tak berpenghuni. Saya teringat waktu saya tinggal di asrama saya,  di Jalan Abubakar Ali 16 Kota Baru, Yogya. Asrama selalu ramai. Sore hari, biasanya kami kumpul-kumpul. Saya membawa gitar dan teman-teman, dengan noraknya, bernyanyi keras-keras.. Kehidupan asrama yang selalu ingar bingar.

Tapi, mungkin di Cisitu memang lain. Di kos-kos Bagas, yang terdiri lebih  dari 20-an kamar, saya juga menangkap suasana yang sepi. Tak ada anak-anak kos yang duduk-duduk ngrumpi.  Jika saya ke sana, pagi atau sore, tanggal muda atau tanggal tua, pemandangan yang saya temui selalu sama. Pintu kamar yang lebih banyak tertutup. Suasana yang selalu sepi. Yang jika pun ada mahasiswa, “statusnya” selalu akan pergi ke kampus atau pulang dari kampus. Hanya mengangguk, memberi hormat,  dan ngloyor masuk kamar jika berpapasan. “Mereka lebih banyak di kampus atau di dalam kamar belajar. Jarang memang yang main-main,” kata Bu Asep, ibu kos Bagas.

Sebuah gang di Cisitu Lama dengan beberapa tempat kos mahasiswa

Sebuah gang di Cisitu Lama dengan beberapa tempat kos mahasiswa

Saya berpikir, apakah karena demikian banyak tugasnya, mereka yang kuliah di ITB ini, hingga kerjanya hanya belajar melulu? Atau mereka sadar, biaya kuliah yang mahal harus mereka tebus dengan belajar sungguh-sungguh dan cepat lulus? Atau mereka sebenarnya tidak getol belajar tapi getol dalam kegiatan kampus? Ya, di ITB, saya mencatat ada sekitar 40-an kegiatan ekstra kampus. Dari olahraga sampai kesenian.  Dari orchestra sampai unit membuat keris….Semua fasilitasnya lengkap. Mau berenang sepuasnya? Ada kolam renang milik kampus…

Pernah saya tanya pada Bu Asep, ibu kos itu, apakah para mahasiswa itu sering membawa masuk cewek atau pacarnya? Bu Asep ketawa. “Di  kos saya nggak ada. Mungkin nggak ada waktu, kerjanya mereka ini belajar terus…”

Tapi, soal membawa perempuan ini, rata-rata kos yang ada ibu kos-nya memiliki  aturan ketat, yakni tidak boleh membawa teman perempuan masuk kamar. Jika pun masuk, pintu harus dibuka.

Saya senang dengan kos yang demikian. Rata-rata saya lihat, ibu kos dan orangtua yang anaknya kos menjalin hubungan yang baik. Para orangtua seperti sadar, anaknya kuliah di sebuah perguruan tinggi yang “berat,”  perlu perhatian, perlu biaya tak sedikit. Sementara  ibu kos juga sadar  dan merasa punya tanggung jawab,  anak-anak yang kos di tempat mereka harus lulus, harus berhasil.  Mereka tahu betapa kecewanya orangtua jika anaknya gagal.

Saya senang jalan-jalan di Cisitu. Bukan karena hanya banyak warung makan, tapi suasananya. Suasana mahasiswa, suasana “perjuangan,” suasana pergumulan dengan buku. Mungkin ratusan atau ribuan mahasiswa  -dari Medan,  Kediri, Makasar, Bogor, Lampung, Lamongan, Ngawi,  dan kota-kota kecil lainnya- ada di Cisitu.

Mereka belajar siang malam, terbenam di kamar mereka setelah kelelahan seharian di kampus, di laboratorium, di lapangan, untuk menggapai cita-cita mereka. Di seberang lautan, orangtua mereka, –mungkin petani, pegawai negeri rendahan, guru SD-   siang malam berdoa, mendaraskan doa tak habis-habisnya, memohon pada Tuhan agar anak mereka di Bandung  lancar kuliahnya, diberi keselamatan, diberi kesehatan…..