Edisi Khusus Tempo tentang Muhammad Yamin: Bapak bangsa yang dihujat dan dipuja

Pekan ini Majalah Tempo menerbitkan edisi khusus tentang Muhammad Yamin. Edisi ini dilengkapi dengan poster Muhammad Yamin berisi profil dan sumbangannya terhadap bangsa (termasuk menciptakan istilah “Pancasila, “mahasiswa,” “Bhinneka Tunggal Ika,” syair lagu Indonesia Raya dsb.) Inilah kata pengantar edisi khusus itu.

Penggila Indonesia yang Dihujat dan Dipuja

cover

DIA orang Minang yang terpesona pada Jawa dan kebesaran Majapahit. Ia mempelajari kebudayaan Jawa dan menguasai bahasa Sanskerta. Ia mendambakan Indonesia yang lebih besar daripada kerajaan-kerajaan Nusantara. Ia menggagas wilayah Indonesia hingga Semenanjung Malaya, Kalimantan Utara, Timor Portugis, Irian, dan Papua Nugini. Ia memimpikan persatuan Indonesia lebih dari yang pernah dibayangkan Hatta atau Sjahrir.

Muhammad Yamin mungkin lahir pada era ketika Indonesia hanya punya dua pilihan: bersatu atau porak-poranda sama sekali. Karena itu, ia menciptakan ikon: Gajah Mada, mahapatih yang pernah bersumpah untuk menyatukan Nusantara.

Lebih dari sekadar memetik gagasan panglima perang Majapahit itu, Yamin merasa perlu mencari raut wajah Gajah Mada. Ia memungutnya dari gambar yang tertera pada celengan terakota yang dipercaya datang dari era Majapahit. Raut itulah yang kita kenal sekarang sebagai wajah Gajah Mada. Terhadap kritik yang menyebutnya tak mengindahkan verifikasi arkeologis, dengan santai ia berkomentar, “Jika ada yang tak sepakat, silakan membuktikan yang sebaliknyalah yang benar.”

Sejarah barangkali memiliki kegilaannya sendiri. Karena itu, revolusi Indonesia harus dipandang secara lebih rileks. Tak perlu ada glorifikasi karena mozaik itu disusun oleh manusia biasa. Muhammad Yamin cuma salah satunya.

 ***

DUDUK bersebelahan, Muhammad Yamin menyodorkan kertas itu kepada Soegondo Djojopoespito. Saat itu 28 Oktober 1928, hari terakhir pelaksanaan Kongres Pemuda Indonesia II. Di podium, Mr Soenario, wakil dari kepanduan, tengah berpidato. Membaca serius, Soegondo, yang mengetuai kongres, menganggukkan kepala. Ia menorehkan paraf. “Saya setuju,” kata Soegondo seraya menyerahkan kertas kepada Amir Sjarifuddin, wakil Jong Bataks Bond. Seperti Soegondo, Amir kemudian memberi tanda setuju. Kertas itu berpindah dari satu tangan ke tangan lain.

Peserta Kongres Pemuda II, yang berlangsung di gedung Indonesisch Huis, Jalan Kramat Raya 106, Jakarta, sepakat dengan draf Yamin yang kemudian dikenal sebagai “Sumpah Pemuda” itu.

Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia.

Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.

Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Usia Yamin baru 25 tahun ketika itu. Ia datang sebagai wakil Jong Sumatranen Bond. Di kongres itu, dia duduk sebagai sekretaris. Fasih berbahasa Melayu–sementara utusan pemuda lain umumnya berbahasa Belanda–Yamin dikenal pintar berbicara dan berpengetahuan luas. “Dia pembaca yang sangat baik,” ujar sejarawan A.B. Kusuma, 79 tahun. Kusuma adalah putra R. Katjasungkana, salah satu peserta kongres yang pernah tidur sekamar dengan Yamin.

Menggagas konsep Sumpah Pemuda, Yamin terlibat aktif dalam Kongres Pemuda I (30 April- 2 Mei 1926). Dalam pertemuan pertama itu pun ia mengusulkan penggunaan bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan. Yamin memang gandrung pada persatuan dan kebesaran Indonesia–obsesi yang juga dipendam Sukarno.

Keduanya adalah penggila sejarah. Mereka tak hanya memandang masa lalu sebagai teks yang berjarak, melainkan sesuatu yang patut diulangi. Yamin dan Sukarno adalah dua tokoh yang menginginkan kejayaan Indonesia setara dengan–bahkan lebih dari–Sriwijaya atau Majapahit.

Saat sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) membahas wilayah Indonesia, Yamin dengan argumentasi historisnya menyebutkan wilayah Indonesia meliputi seluruh bekas Hindia Belanda, Semenanjung Malaya, Kalimantan Utara, Timor Portugis, juga Irian hingga Papua Nugini. Namun putusan sidang yang diketuai Radjiman Wedyodiningrat menyatakan wilayah Indonesia hanya bekas Hindia Belanda.

Tak sekadar menggagas wilayah Indonesia dan mengusulkan Sumpah Pemuda, Yamin memiliki andil dalam pembuatan lambang Garuda Pancasila dan syair Indonesia Raya, juga dipercaya menemukan kata “Pancasila” itu sendiri. “Harap diingat, di antara anggota BPUPKI, dia satu dari sedikit orang yang mendalami bahasa Jawa kuno,” ujar sejarawan Taufik Abdullah.

Poster Yamin yang terdapat di dalam edisi khusus Yamin

Poster Yamin yang terdapat di dalam edisi khusus Yamin

Bung Karno dalam pidato 1 Juni 1945–belakangan ditetapkan sebagai Hari Lahir Pancasila–mengatakan istilah Pancasila diperoleh dari “petunjuk seorang teman yang ahli bahasa”. Ramana, pemuda yang pernah membantu mengetik tulisan-tulisan Yamin, diketahui pernah menyebutkan bahwa “teman” itu Muhammad Yamin sendiri.

Karya Yamin yang tercatat hingga kini adalah semboyan polisi militer: Satya Wira Wicaksana, yang berarti “taat, kesatria, bijaksana”. Wajah Gajah Mada dalam simbol itu juga merupakan “penemuan” Yamin.

Perihal wajah Gajah Mada ini pernah menimbulkan kontroversi. Ada yang menuding raut Gajah Mada diciptakan Yamin dengan mengacu pada wajahnya sendiri. Belakangan tuduhan itu diragukan kebenarannya. Yamin diketahui mengambil wajah Gajah Mada dari gambar dalam pecahan celengan yang ia temukan di Trowulan, Jawa Timur, kawasan yang dipercaya sebagai pusat pemerintahan Kerajaan Majapahit.

Yang juga kontroversial adalah buku Yamin berjudul Naskah Persiapan Undang-Undang Dasar 1945. Dalam buku tersebut, Yamin menyatakan pada 29 Mei 1945 ia telah menyampaikan Rancangan UUD yang sistematik dan bab-babnya mirip dengan UUD 1945, yang baru disusun pasca-kemerdekaan. Oleh Orde Baru, Naskah Persiapan dijadikan rujukan penulisan sejarah lahirnya Pancasila–upaya untuk mendelegitimasi peran Sukarno. Sejumlah sejarawan menyangkal keberadaan pidato 29 Mei 1945. Bung Hatta mengkritik keras buku itu. Katanya, “Yamin licik. Itulah kelicikan Yamin….”

Banyak yang memusuhi, banyak pula yang mengagumi penulis banyak buku tentang sejarah Jawa itu. Pada 17 Oktober 1962, Yamin mengembuskan napas terakhir. Tentang kematiannya, Buya Hamka, salah seorang pengkritik Yamin, menulis, “Dalam sakitmu yang sangat, rona kebesaran masih terlukis di wajahmu. Bung mencintai tanah air dan saya pun mencintainya, cinta yang tidak terbelah lagi. Tetapi kadang-kadang ijtihad kita berbeda….”

***

MELANJUTKAN tradisi lebih dari sepuluh tahun terakhir, setiap 17 Agustus Tempo menulis edisi khusus tentang tokoh sejarah. Kali ini kami memilih Yamin–setelah Sukarno, Hatta, Sjahrir, Agus Salim, serta pendiri Republik lainnya–terutama karena kami “terpesona” pada kontroversi hidupnya. Selain mendasarkan pada buku dan sejumlah catatan yang sudah dibuat tentang sang tokoh, kami mengandalkan keterangan lisan narasumber.

Kami mewawancarai sejumlah sejarawan. Mereka antara lain Taufik Abdullah, A.B. Kusuma, Asvi Warman Adam, dan Restu Gunawan. Restu, yang sehari-hari Kepala Sub-Direktorat Diplomasi Budaya Kementerian Pendidikan, adalah penulis buku Muhammad Yamin dan Cita-cita Persatuan. Untuk mengetahui sejauh mana keaslian wajah Gajah Mada yang diciptakan Yamin, kami juga mewawancarai arkeolog Universitas Indonesia, Hasan Djafar.

Di Sumatera Barat, kami mengutus Andri El Faruqi untuk menelusuri jejak kehidupan Yamin di Talawi, Sawahlunto, dan Padang Panjang. Di Den Haag, Belanda, pembantu Tempo, M.A. Mayaratih, mendatangi Kantor Arsip Nasional Belanda untuk melacak peran Yamin di sidang-sidang BPUPKI, terutama lewat dokumen A.K. Pringgodigdo yang mendokumentasikan perhelatan itu.

Dari pihak keluarga, kami menemui Fadjar Ibnu Thufail, cucu Muhammad Jaman, kakak Yamin dari ibu yang berbeda. Untuk waktu yang lama, Yamin memang diasuh Jaman. Menurut Fadjar, mengutip cerita kakeknya, ketika remaja di Talawi, Yamin tinggal sekamar dengan saudara tirinya yang lain: Djamaloeddin Adinegoro–belakangan dikenal sebagai tokoh pers nasional. “Keduanya cocok karena sama-sama suka membaca buku,” kata Fadjar.

Sumber penting lain yang kami wawancarai adalah Gusti Raden Ayu Retno Satuti, menantu Yamin. Retno adalah istri Dang Rahadian, putra tunggal Yamin, yang meninggal pada 1979 karena kecelakaan.

Beberapa hari sebelum Lebaran lalu, Satuti–putri sulung Mangkunegara VIII–menerima Tempo di rumahnya di Jalan Diponegoro 10, Jakarta Pusat. Rumah itu dulu didiami Yamin dan keluarga.

Di rumah yang rindang oleh pepohonan itu, Satuti mengajak Tempo berkeliling menelusuri kembali sudut-sudut sejarah: tempat Yamin menulis, bekerja, atau berbicara dengan teman-temannya. Sayang, koleksi buku Yamin tak lagi tersisa. Menurut Satuti, karena masalah ekonomi, ribuan buku Yamin dijual Siti Sundari, istrinya, ke Pertamina. *