Diundang Makan Ahok

Dua pekan terakhir  Ahok jadi sorotan media massa. Dia memang akan segera menjadi gubernur Jakarta. “Jokowi sebenarnya lebih keras  dari gua,” katanya ketika saya –dan sejumlah teman-teman-  makan siang di rumahnya.

Ya, Basuki Tjahaja Purnama, pria keturunan Cina ini akan menjadi orang nomor satu di Jakarta. Dia otomatis “naik” karena Gubernur DKI Joko Widodo menjadi presiden.  Dua pekan terakhir wajah Ahok  menghiasi sejumlah media mainstream, termasuk muncul dalam  acara Kick Andy di Metro TV.

“Gua nasionalis. Kalau lu di depan gua akan lebih depan lagi,” katanya di acara Kick Andy pekan lalu.   Maksudnya, walau dia keturunan Cina, soal nasionalis, soal membela bangsa, ia bahkan akan lebih “di depan”  ketimbang mereka yang bukan Cina.

Salah satu sisi di ruang rumah Ahok.

Salah satu sisi di ruang rumah Ahok.

Saya tertawa mendengar cara dia menjawab pertanyaan Andy yang menembak “kecinaannya” itu. Ahok benar.   Saya punya sahabat, baik pria maupun perempuan keturunan Cina yang  sangat nasionalis. Yang jujur, yang menyenangkan, yang sangat nyaman dijadikan sahabat. Ya, Cina atau Indonesia, Jawa atau Sunda, siapa yang bisa memilih lahir menjadi suku atau etnis yang diinginkan?

Menurut saya, yang  terpenting, sebagai suku atau etnis apa pun seseorang  dilahirkan,  adalah bagaimana seseorang itu  berguna buat orang lain. Memiliki prinsip yang jelas dan berani melawan ketidakadilan atau ketidakbenaran yang dilihatnya.

Saya melihat Ahok di golongan orang-orang demikian –semoga terus demikian.

Saya melihat ia seperti Ali Sadikin. Keras dan tegas. Saat saya masih menjadi “wartawan permulaan”  di Jakarta,  saya pernah mewawancarai Ali Sadikin di rumahnya di Jalan Borobudur, Jakarta  Pusat.  Saat itu ia menjadi tokoh utama petisi 50 karena melawan Soeharto.  Kegiatannya ke mana-mana diikuti intel.

Saya menemui Ali di rumahnya yang jembar  -yang oleh media disebut “markas oposisi. “  Jika ada pertanyaan-pertanyaan  yang dia anggap merendahkan keberaniannya  (yang memang saya sengaja,   Ali Sadikin akan berteriak dan menggebrak meja, “Tahi pedut….” Itu makian khasnya.   Sangat keras suaranya sehingga saya pikir sampai halaman pun akan terdengar. Tapi, kemudian amarahnya akan cepat reda. Dia akan tersenyum atau tertawa lagi. Dan saat saya pulang, dia mengantar hingga di pintu rumahnya, lalu  melambaikan tangan, mengucapkan selamat jalan.  Kita tahu Ali Sadikin satu-satunya gubernur Jakarta yang sampai sekarang namanya paling harum, sementara yang lain tak terdengar namanya –apalagi jejak karyanya.

Ahok kurang lebih seperti Ali Sadikin. Dan menurut saya Jakarta memang harus dipimpin orang seperti ini. Problem kota ini luar biasa:  warga yang tidak tertib (baik penduduk yang miskin maupun kaya), birokrasi yang korup (dari soal KTP hingga perijinan) dan juga tidak disiplin para pegawainya.

Duet Jokowi dan Ahok sebenarnya sudah pas. Satu kalem, satu meledak-ledak. Klop sudah. Tapi, dengan terpilihnya Jokowi menjadi presiden, otomatis beban menyelesaikan  masalah Jakarta ya sekarang di pundak Ahok,  yang akan menjadi “DKI 1.”

Saya, dan beberapa teman, sekitar tiga bulan silam, pernah diundang makan oleh Ahok. Diundang  ke rumahnya  yang terletak di kawasan Pluit, Jakarta Utara. Makan siang di hari minggu.  Saat itu Jokowi belum lagi resmi maju  sebagai presiden.

Rumah Ahok

Rumah Ahok

Kami menunggu sekitar satu jam sebelum kemudian Ahok muncul –jika tak salah ia baru pulang dari gereja. “Kalau minggu kadang-kadang keliling menghadiri undangan macam-macam…” kata Ahok sambil  ketawa. Tak hanya  jika berbicara suaranya keras, jika tertawa pun Ahok sama kerasnya, terbahak-bahak.  Undangannya, dari perkawinan sampai sunatan. Tentu kebanyakan undangan itu datang dari anak buahnya, para pegawai DKI.

Makanan yang  dihidangkannya, menurut saya, sebagian besar makanan Cina yang bahan bakunya daging dan makanan laut.

Sembari makan, kami berbincang apa saja. Menanyakan Ahok apa saja, dan Ahok juga gantian bertanya apa saja.

ahok2

Saya ingat saat itu dia bercerita tentang rencana untuk membuat pengawasan pengangkutan sampah dengan memanfaatkan sistem teknologi informasi, sehingga bisa memantau operasi pengangkutan sampah yang  terjadi di Jakarta.  “Akan kelihatan mana truk yang jalan, mana yang tidak, sampah mana yang sudah diambil, mana yang belum dan sebagainya,” katanya.

Ahok bercerita, sebenarnya Jokowi lebih keras dari dirinya.  Pernah suatu ketika dia bicara dengan Jokowi tentang keinginannya menindak  seorang pegawai yang kinerjanya jelek. “Eh nggak tahunya orang itu sudah duluan dipecat dia,” katanya.  Jokowi rupanya bilang ke Ahok dia sudah menindak orang itu.

Ahok  memang telah bertindak tegas untuk “menertibkan”  pegawai DKI. Kita ingat, kemarahannya  kepada seorang  pejabat DKI pernah  diunggah ke Youtube dan menjadi buah bibir di mana-mana.  Ia –dan Jokowi- sudah banyak mengganti dan memutasi pegawai yang tak becus. Ia memfungsikan waduk Rio-rio yang berbelas tahun diduduki penghuni liar dan menyulap sekelilingnya menjadi taman yang nyaman untuk melepas penat. Ia dengan gampang bisa meminta orang menyediakan kursi untuk leyeh-leyeh di sepanjang Jalan Sudirman, karena para penyumbang tahu  yang mereka lakukan semuanya demi warga Jakarta,  tidak sepeserpun masuk kantong Ahok atau Jokowi.

ahok1

Ahok segera menjadi gubernur. Saya mengharap wakilnya nanti (hingga sekarang belum jelas siapa)  benar-benar figur yang juga dikenal bersih dan pekerja keras. Menurut saya, setelah menjadi gubernur Ahok mesti lebih mengerem sifat meledak-ledaknya itu.  Marah-marahnya tidak bisa diumbar setiap saat.  Dia mesti lebih berhati-hati  jangan sampai kata-katanya menjadi bumerang –yang lantas akan merugikannya.  Ya, seperti kata pepatah, semakin tinggi pohon, semakin kencang angin datang mengguncang.

Lebih dari itu, sebenarnya yang saya ingin lihat, bagaimana Ahok menyelesaikan masalah fasum-fasos  atau lahan-lahan milik Pemerintah DKI yang berpindah tangan dan kemudian ada yang dikuasai para raja properti,  para pengembang perumahan elite pemilik mall, dan apartemen.  Dan para raja properti  Jakarta itu, seperti   juga seperti Ahok,  kebanyakan juga keturunan Tionghoa. (*)