Mengejar  Benny Moerdani

Saya kira tidak ada satu jenderal pun yang paling terkenal sekaligus paling ditakuti di era Orde Baru selain Jenderal Benny Moerdani.  Berwajah kotak, keras, sorot matanya tajam.   “Kemasyuran” soal kekerasan  Benny  banyak dibicarakan –juga secara bisik-bisik-   banyak orang. Dari tentara sampai masyarakat sipil.

Pekan ini Majalah Tempo membuat laporan khusus tentang Jenderal Benny Moerdani. Sayang istri Benny,  Hartini, juga anak semata wayangnya, Ria, tak bersedia diwawancarai.  Sayang sekali.  Padahal, kalau mereka bersedia, tentu banyak cerita yang belum terungkap tentang Benny  bisa diketahui pembaca.  Banyak hal yang selama ini simpang siur bisa mereka jelaskan. Juga bahkan hal yang bersifat pribadi. Cerita tentang Benny yang selama ini berseliweran di mana-mana,  bisa diminta konfirmasinya.

bennycover

Misalnya, cerita tentang Benny  di  masa-masa akhirnya (Ia meninggal pada usia 72 tahun,  pada 29 agustus 2004). Kendati tertatih-tatih jika berdiri dan berjalan akibat stroke, Benny, kabarnya, selalu berdiri -dengan sikap sesempurna yang ia bisa-   jika mendengar lagu Indonesia Raya muncul di TVRI. Benny memang  paling hobby menonton TVRI, stasiun TV yang pernah menjadi tempat kerja putrinya, Ria. Sikap berdirinya menghormati lagu Indonesia Raya menunjukkan bagaimana demikian menyatunya jiwanya dengan negara Indonesia ini.  Ia sangat mencintai Indonesia. Karena itu, jika disumpah ia selalu mengangkat lima jari (bukan dua jari lazimnya): Pancasila.

Salah satu isi Majalah Tempo tentang Benny

Salah satu isi Majalah Tempo tentang Benny

Dulu, waktu saya masih bekerja di Majalah Forum saya pernah mewawancarai Benny Moerdani. Dia sudah selesai tugasnya sebagai Menteri Pertahanan dan Keamanan. Hubungannya dengan Soeharto, orang yang selama ini ia bantu total dengan segenap jiwa raganya dikabarkan retak. Benny akan dijadikan duta besar, tapi ia menolak.

Sebagai orang yang puluhan tahun mengawal Soeharto dan anak-anaknya,  jelas Benny tahu banyak perihal Soeharto. Di bidang intelijen, dia “biangnya.” Lalu untuk urusan pemberontakan, huru hara atau segala hal yang dinilai merongrong pemerintah, ia di garda terdepan untuk urusan membereskan. Tak heran ia kemudian  dituduh paling bertanggung jawab dalam peritiswa tragedi Tanjung priuk.  Banyak memang yang menyebut Benny memusuhi Islam.

Tak banyak wartawan yang bisa mewawancarai Benny.  Ia dikenal tak suka diwawancarai.  Sejumlah wartawan bahkan pernah diusirnya saat mendekati dia. Ya, baru mendekati, belum bertanya.  Benar-benar diusir dengan kata-kata kasar. Seorang bekas aktivis mahasiswa yang kemudian menjadi petinggi Golkar pernah bercerita, bagaimana nyalinya menciut suatu ketika karena  Benny menatapnya dengan tajam.

Di saat demikianlah, saya mendapat tugas mewawancarai Benny. Sebenarnya, seingat saya, ini tugas teman saya, Tony Hasyim. Tapi, mungkin karena tidak enak sendirian mengejar orang semacam Benny ini,  ia meminta saya ikut bersama-sama mencari dan mewawancarai Benny.  Saat itu kewajiban saya  lebih banyak menulis untuk rubrik hukum lingkungan atau kadang-kadang kriminal dan hukum,  tidak rubrik wawancara. Saya pikir Tonny  benar  jika ia tidak sendirian mengejar Beny.  Setidaknya kalau ada apa-apa,  di antara kami,  digampar atau dilempar sesuatu, misalnya, ada saksinya. Ada yang menolong. Ya, siapa tahu…..

Setelah kontak ke sana-ke mari, akhirnya kami tahu Benny akan bermain golf dengan sejumlah teman-temannya di Bumi Serpong Damai . Kalau tidak salah itu hari Jumat atau Sabtu. Maka di pagi itu, dengan mobil Suzuki Jimmy kantor kami berdua meluncur ke lapangan gof di Serpong. Sekitar pukul sembilan pagi kami tiba di sana.

Suasana sepi. Rupanya Benny sudah sedari pagi bermain golf –sudah berada di tengah lapangan.  Di sana kami bertemu seorang wartawan Tempo yang ternyata juga mendapat tugas  mengejar Benny.  Berbeda dengan kami, entah kenapa, ia memilih berdiri di sekitar kantor lapangan golf.  Ada pun kami, langsung masuk ke lapangan. Celingak-celinguk mencari-cari Benny di lapangan yang hijau menyenangkan tersebut.

Sekitar lima ratusan meter di ujung sana, saya lihat Benny sedang berjalan menenteng stik golf. Di belakangnya ada caddy. Tidak cantik. Sangat biasa sekali.  Ada sejumlah jenderal yang menjadi teman mainnya. Saya lupa siapa saja.  Seingat saya sekitar lima orang.  Yang saya ingat salah satunya  Jenderal Edi Sudrajat. Saya ingat ini karena setelah beberapa kali putar-putar,  Edi sempat membuka baju kaosnya di tengah lapangan –karena keringatan- dan berganti kaos baru. Di punggungnya ada goresan panjang seperti bekas kena tebatasn benda tajam.

Kami berdua menguntiti Benny ke manapun ia melangkah. Saya sudah bersiap, seandainya pun diusir,  ya sudah, pulang saja. Seandainya dimaki-maki ya terima saja, toh nggak ada orang lain yang tahu. Seandainya digampar, ya sudah, nasib.  Anggap saja pengalaman…

Benny, seperti yang sudah kami duga, menengok dan menatap kami dengan wajahnya yang dingin.  “Dari mana ?” katanya. Saya kira, dari penampilan saya yang norak –jika diingat-ingat waktu itu haha- dia tahu saya wartawan. Saya memang  memakai  baju rompi dengan kantung bejibun. (Hal yang tak pernah saya lakukan lagi mungkin sepuluh tahun terakhir ini).

Kami menjawab, “Forum,” dan ia tak berkomentar apa-apa. Jalan lagi. Saya juga ikut jalan di belakangnya, “mengintili”-nya.   Dia berhenti,  saya juga ikut berhenti. Dia melihat bola yang dipukulnya,  saya ikut-ikutan memandang bola itu.   “Wawancara dong Pak,” kami merayunya.  Benny diam. Menatap kami, dengan mata  yang seperti berkata,” Kalian ini bocah-bocah ingusan kok berani-beraninya nyuruh-nyuruh saya…” Saya tak perduli. Saya terus berdiri di belakangnya, di sampingnya.

Kami tak menyerah. Sudah telanjur. Teman saya yang sebenarnya mendapat tugas ini,  Tony Hasyim,  juga  tak kalah sibuk. Selain juga terus melempar  “jab-jab”  rayuannya,  juga  sibuk foto sana-sini –entah apa yang difotonya, toh pemandanganya itu-itu saja: bola golf, rumput  hijau, caddy yang tak cantik,  wajah Benny yang jauh dari indah untuk difoto… Dan untuk ini tak ada satu jenderal pun yang melarang ia memfoto-foto.

Saya lupa berapa lama kami “mengitari” Benny.  Yang saya ingat, mereka, para jenderal itu,  tak mau bicara tapi juga tak mengusir kami. Edi Sudrajat hanya mesam-mesem dan “hah heh- hah heh” saja waktu kami ajak  ngobrol. Kayaknya ia sengaja  pelit bicara lantaran melihat Benny juga tak antusias menerima kami.

Ada pun Benny lebih banyak menatap bola golf.  Kami berdua benar-benar seperti dianggap tak ada.

Sampai kemudian, entah bagaimana ceritanya,  dia menengok saya yang berdiri setia di sampingnya.  Dia minta rokok.  Rupanya dia tahu saya membawa rokok. Benny memang perokok  dan tampaknya sejak main golf tadi, ia belum merokok.  Dengan cepat saya membagi rokok Gudang Garam saya (waktu itu memang saya perokok). Menyalakan api untuknya dan ia menghirup rokoknya dalam-dalam.

Benny dan Saya: Minta Rokok

Benny dan Saya: Minta Rokok

Seingat saya,  setelah itu suasana lebih cair. Saya lupa apa yang kami obrolkan.  Dan ia mengundang kami untuk menghadiri acara peluncuran bukunya (saya lupa kapan itu). Di sana saja, menurut dia, ketemunya.

Tepat hari yang disebutnya itu, kami rame-rame mendatangi acara peluncuran buku Benny: Benny Moerdani, Profil Prajurit Negarawan.  Sangat meriah. Pejabat penting banyak yang hadir. Seingat saya, sedikitnya ada enam wartawan Forum datang,  menyerbu acara Benny, termasuk fotografer.  Kalau tak salah: selain saya dan Tonny, ikut juga Pracoyo (kini  di TransTV), Adyan Suseno, dan Fauzan (Fotragrafer, kini sudah meninggal).  Para tamu membawa undangan, tapi kami, tanpa undangan  bisa masuk. Sejumlah siswa SMA Taruna Nusantara, kalau tak salah, ikut menjadi  menyambut para tamu: gagah dan tegap.

Benny memang bintang acara itu. Saya ingat ada Eros Jarot di sana. Saya ingat Benny juga sempat memanggil Moerdiono (menteri sekretaris  negara  ) yang tergopoh-gopoh memasuki ruangan. Saat dia mendekat, , Benny berdiri.  Rupanya Benny mengancingkan baju Moerdiono yang kancing atasnya terbuka.  Moerdiono memang selalu tampil dandy. “Gini kan rapi,” seingat saya itu kata Benny.

Target kami mewawancarai  Benny. Kami mengelilingi Benny. Tony Hasyim duduk di dekat Benny. Maka, kami pun rame-rame bertanya, mewawancarai Benny. Benny menjawab sembari menyalami tamu-tamu dan menyapa tamu-tamunya.  Benny menjawab apa pun yang kami tanyakan. Tony Hasyim mencerca Benny dengan berbagai pertanyaan.  Saya kira Benny tak tahu bahwa para wartawan di depannya,  yang merubungi dirinya,  semua dari Forum. Mungkin dia pikir itu wartawan berbagai media.

Wawancara Benny  itu kemudian jadi cover majalah Forum dan saya dengar laris di pasaran.

karniilyasbukulg

Dari  acara itu, saya juga mendapat kenang-kenangan, buku biografinya yang ditulis Julius Pour itu.
bennybukuok

benny moerdaniok

Di halaman pertama buku itu, Benny menuliskan nama saya, berikut tanda tangannya dan nama Istrinya Hartini.  Benny, seperti Soeharto, memang sangat, sangat, mencintai keluarganya.

 

 

 

11 thoughts on “Mengejar  Benny Moerdani

  1. ngebayanginnya keren. aku langsung beli majalah forumnya waktu itu dan baca liputan ttg pa Benny berkali2..

  2. Keder juga denger calon narasumber nggertak kayak gini. “Kalian ini bocah-bocah ingusan kok berani-beraninya nyuruh-nyuruh saya….”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s