Pusat Budaya Karta Pustaka Ditutup

Kompas, kemarin, pada edisinya Kamis 4 Desember menulis di halaman depannya tentang ditutupnya Karta Pustaka, Pusat Kebudayaan Indonesia-Belanda di Yogyakarta. Tak hanya memberitakan, foto utama halaman depan surat kabar beroplah terbesar di Indonesia itu juga memuat foto  tumpukan buku koleksi Karta Pustaka yang dijual, diobral, yang uangnya untuk membayar pesangon karyawan dan segala tetek bengek urusan penyelesaian penutupan pusat kebudayaan Belanda yang terletak di Jalan Suryodiningratan, Yogya, ini.

“Sungguh ini peristiwa mengejutkan. Sepertinya kita ditinggalkan sahabat yang mati mendadak,” demikian Kompas mengutip komentar budayawan dan dosen Fakultas Sastra, Landung Simatupang tentang ditutupnya Karta Pustaka, yang antara lain lain karena ketiadaan biaya operasional tersebut.

kartapustaka

Hanya Kompas media nasional yang memuat berita Karta Pustaka tutup ini di halaman depan. Saya tidak heran jika media ini melakukan hal itu. Pertama, Kompas memang sangat memperhatikan hal-hal semacam ini  (masalah kebudayaan, humanora, dan sejenisnya). Kedua, bisa jadi, karena para pemimpin Kompas juga mempunyai ikatan dengan Karta Pustaka, juga Yogya. Banyak orang penting Kompas –baik wartawan maupun nonwartawan-  berasal atau dibesarkan di Yogya. Berlatar belakang lulusan UGM, Sanata Dharma dll.  “Katolik, Jawa, dan Yogya, itu syarat yang pas untuk jadi wartawan Kompas,” demikian kata seorang teman sekian belas tahun silam, mantan pemimpin redaksi sebuah majalah milik PT Gramedia yang sudah tutup,  “mendeskripsikan”  mereka yang pas menjadi wartawan Kompas. “Dan sebenarnya kamu memenuhi syarat itu,” katanya lagi menunjuk saya. Saya tertawa  -karena tak semuanya sebenarnya saya memiliki syarat itu. Jalan nasib saya memang menjadi wartawan, tapi tidak ke Kompas. Dulu mungkin saja  -sekali lagi mungkin saja-  benar “syarat” itu, tapi saya kira, sekarang tidak. Zaman sudah berubah. Era sudah berganti-ganti. Syarat menjadi wartawan di media mana pun (media yang profesional dan ingin maju)  saya kira  tak ada sangkut pautnya dengan etnis, agama, ras dll. Yang dibutuhkan adalah mereka, pribadi yang mau bekerja keras, pintar, profesional dalam bekerja, dan rendah hati.

Kembali ke Karta Pustaka, saya tidak heran jika orang Yogya atau mereka yang lama di Yogya mempunyai kenangan, ikatan batin dengan Karta Pustaka. Tempat ini menyediakan apa yang di zaman  orang-orang, seperti Pak Landung dan lain sebagainya (termasuk pelajar, mahasiswa) memerlukan: gedung untuk berkesenian, ruang untuk belajar siapa pun, serta  buku, koran, majalah dengan beragam judul yang semuanya  gratis dibaca. Karta Pustaka sendiri mulai berdiri sejak 1968.

Saya juga salah seorang dari ratusan atau ribuan orang yang pada tahun-tahun kuliah di Yogya dulu, akhir 80-an, merasa beruntung dengan adanya Karta Pustaka ini. Gedung Karta Pustaka ini letaknya di Jalan Sudirman, sedang saya tinggal di asrama Kalimantan Tengah di Jalan Abubakar Ali 16, Kota Baru. Ini, Kelurahan Kota Baru, merupakan daerah elite. Letaknya selemparan batu dari Jalan Malioboro dan hanya 50-an meter dari Gereja Katolik terbesar di Yogya, “Gereja Kota Baru.”  Walau tinggal di daerah elite, tapi  kami, para mahasiswanya tentu saja  jauh dari elite. Ya, namanya juga mahasiswa. Rantau lagi….

Saya ingat, jika Senin, Rabu atau Jumat saya selalu ke Karta Pustaka. Jalan sekitar 10 menit melewati lapangan sepakbola SMA 3 Padmanaba yang tersohor itu, melewati SMAK Stella Duce yang juga tak kalah tersohornya, belok kanan, dan sampailan ke Karta Pustaka. Kalau tak salah, jam bukanya, sore hari, pukul 16.00.

Saya senang membaca di sini karena hampir semua media lokal dan nasional terkemuka ada di sana. Tak hanya membaca, saya punya kepentingan lain, yakni mengecek artikel-artikel yang saya kirim ke media lokal. Dimuat apa tidak, kalau dimuat edisi kapan, lalu artikel teman siapa yang dimuat dst.  Saya akan mencatatnya sebagai bekal untuk mengambil honornya (ya, mengambil dan tidak menunggu dikirim)  dan memberitahu teman penulis, jika tulisannya dimuat di koran “anu” “tanggal sekian” serta tentu saja sembari berucap,  “Jangan lupa mentraktir ya….”

Kendati sebagai mahasiswa yang, antara lain, kebutuhan hidupnya –kebutuhan ke sana-ke sininya- ditunjang dari honor tulis menulis ini, saya –dan saya kira banyak penulis Yogya lainnya saat itu-  tak ada yang berlangganan koran. Langganan koran adalah sebuah kemewahan. Kami mengecek tulisan kami yang dimuat ya dengan mendatangi kantor penerbit koran itu. Biasanya di sana ada papan tempat menempel koran. Kami memantau dari situ saja.

Nah, pusat “pemantauan” artikel yang dimuat tentu saja paling afdol pada agen penjual koran. Ini letaknya di Shoping  –demikian namanya- di belakang Pasar Beringharjo. Ada berderet agen koran di sini. Pada hari minggu, sekitar jam 11-an, kami para penulis (lebih tepatnya,  mereka yang “sedang belajar menulis tapi sok nekad mengirim ke media”  kerap bertemu di tempat ini. Tentu saja tidak untuk membeli. Hanya membolak-balik dari satu koran ke koran lain. Kegiatan “memantau artikel,” dengan doa  “semoga dimuat di edisi ini…”  Para penjaga koran, sangat mafhum dengan kegiatan ini.  Bahkan, kami akrab dengan mereka, yang kadang-kadang justru memberi tahu, “Itu puisimu hari ini dimuat di koran ini….” Atau “Wah hebat, cerpen si anu minggu  ini muncul di Majalah Anita Cemerlang….”

Karena Shoping Centre (ini nama lengkapnya) jauh dari asrama saya, saya lebih rutin ke Karta Pustaka. Di sana, saya biasanya berjam-jam duduk, membaca semua koran dan majalah, terutama Majalah Tempo, Gadis, Hai, Intisari, karena artikel dan cerpen-cerpennya bagus-bagus.  Ruang bacanya cukup luas dan resik. Pengunjung tak boleh gaduh atau bicara keras-keras. Ada seorang mbak (sayang saya tak tahu namanya) yang menjaga dan menegur jika ada yang bicara keras-keras. Sebuah tempat membaca yang nyaman. Jika akan tutup, sepuluh menit sebelumnya, mbak itu akan mengumumkan. Kami pun segera mengembalikan buku itu ke raknya kembali. Kadang kala, di tempat ini saya bertemu dengan sejumlah penulis atau budayawan Yogya yang juga mempunyai tujuan yang sama.

Saya ingat di samping kiri bangunan perpustakaan ada jalan menuju ruang yang biasa dipakai untuk pertunjukkan. Beberapa kali saya melihat pembacaan puisi di Karta Pustaka itu. Saya ingat biasanya Romo Dick Hartoko, pastor yang juga pengelola tempat ini dan selalu murah senyum itu, selalu memberi sambutan.  Pembacaan puisi di sini selalu dipadati pengunjung. Apresiasi terhadap penyair dan puisi benar-benar terasa.

Di ujung-ujung kuliah, saya mulai jarang ke sana. Begitulah, kemudian,  bertahun-tahun setelahnya, saya mendengar Karta Pustaka kemudian pindah. Ya, Jalan Sudirman, jalan elite yang menuju Jalan Mangkubumi lalu ke Malioboro telah  berganti wajah dengan cepat. Gedung dan toko baru bermunculan. Gedung Karta Pustaka jelas salah satu yang mungkin diincar.

Karta Pustaka setelah pindah dari Jalan Jenderal Sudirman (ft: alberthagenaars.nl)

Karta Pustaka setelah pindah dari Jalan Jenderal Sudirman (ft: alberthagenaars.nl)

Sampai kemudian, berita ini pun datang: Karta Pustaka tutup untuk selamanya.

Tentu banyak orang seperti Pak Landung yang kehilangan karena mereka memiliki memori dengan  –atau secara tak langsung dibesarkan-  Karta Pustaka. Benar kata Kompas…”Sejarah bagaimana mewujudkan kegiatan Budaya di Yogyakarta tahun 1970-an  dengan seluruh suka dukanya, semua tersimpan di sana.”

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s