Tewasnya Munir  dan Keterkaitan  Badan Inteligen Negara

Edisi khusus  Tempo pekan ini menulis, sangat panjang dan dalam, tentang Munir. Ya, tahun ini tepat 10 tahun kematian Munir. Bapak dua anak yang memiliki nama lengkap Munir Said Thalib itu tewas karena diracun –dengan arsenic- pada 7 September 2004 dalam penerbangan dari Singapura ke Belanda. Saat itu Munir, yang dikenal sebagai aktivis pejuang HAM,  akan melanjutkan studi hukum di Utrecht Universiteit.

Siapa pembunuhnya, sudah terungkap, yakni Pollycarpus Budihari Priyanto.  Ia yang sebelumnya divonis 20 tahun penjara, di Mahkamah Agung kemudian turun menjadi 14 tahun. Kini Polly menjalani masa pembebasan hukuman bersyarat. Polly disebut-sebut sebagai agen BIN dan dalam pembunuhan ini ia berhubungan dengan Muchdi Purwoprandjono, salah satu deputi di BIN. Muchdi sudah diadili, tapi  dinyatakan tak terbukti memiliki peran dalam pembunuhan Munir.

munir4

Edisi Tempo dengan cover berjudul  “Fakta Baru Pembunuhan  Munir”  ini tak hanya menelusuri ulang bagaimana tragedi pembunuhan itu terjadi, tapi juga menyampaikan fakta lain. Ya, selama ini BIN, yang diwakili Kepala BIN saat peristiwa itu terjadi, Hendropriyono, menampik jika lembaganya terlibat. Satu-satunya yang sempat menyatakan BIN  bisa disebut tersangkut kasus ini justru adalah pengakuan bekas agen BIN sendiri, Budi Santoso.  Pengakuan itu disampaikan secara tertulis.

Ada sekitar 65-an halaman dihabiskan untuk mengulas perihal Munir ini. Tak hanya bagaimana detail-detail peristiwa pembunuhan itu terjadi, juga hingga cerita bagaimana para aktivis, para sahabat Munir,  mesti pontang-panting mencari jalan agar bisa “mendaratkan” jenazah Munir di Malang. Jenazah Munir, yang dibawa pesawat Merpati yang dibiayai Taufiq Kiemas, akhirnya memang diizinkan mendarat di Bandara Abdulrachman Saleh, Malang, milik TNI AU yang memang tidak untuk umum. Perihal adanya bantuan  yang ternyata dari Taufik ini pun kemudian menyulut protes dari para aktivis, para teman-teman Munir.

Salah satu yang baru dalam tulisan ini adalah cerita dari seorang polisi yang memeriksa Budi Santoso. Saya kira baru sekali ini ada media yang mendapat cerita tentang pemeriksaan saksi superpenting ini dari penyelidik kasus Munir.

Pemeriksaan agen BIN berpangkat kolonel ini dilakukan di Singapura. (Budi sendiri kini entah berada di mana, tapi ada yang meyakini pria lulusan AKABRI 1973 ini masih  berada  di luar negeri). Kesaksian Budi tak hanya direkam, tapi juga divideokan.

Wartawan Tempo yang melihat rekaman itu menyaksikan wajah agen BIN itu saat diwawancarai: seorang pria dengan janggut panjang yang memutih dan bicara dengan suara pelan dan terbata-bata. Budi memang  bertugas di Pakistan dan seputarnya, wilayah yang menuntut ia “berpenampilan” demikian.

Kepada polisi, Budi bercerita bahwa Pollycarpus memang kerap datang ke kantor BIN dan menemui Muchdi. Menurut Budi pada 7 September 2014  Polly menelpon dirinya dan menyatakan “mendapat ikan besar” di Singapura –metafora yang bisa dirujuk sebagai “telah berhasil melakukan tugas besar.”

Menurut Budi, beberapa hari kemudian Polly datang ke kantor BIN dan bercerita kepada dirinya,  “Munir sudah saya habisi dengan racun.”

Pengakuan Budi betapa pun –jika memang  benar- jelas menggambarkan posisi BIN dalam kasus ini.

Sebagai tulisan jurnalistik,   Tempo juga mewawancarai mereka yang dituduh terlibat, tersangkut atau mengetahui pembunuhan ini. Dalam edisi ini pun Hendropriyono diwawancarai. Dan seperti yang selalu ia nyatakan, ia tetap menegaskan BIN tidak terlibat. Juga ia tak mengenal Pollycarpus.

munir3

Yang menarik sejumlah orang yang selama ini dihubungkan atau berkaitan dengan kasus ini ternyata kemudian mati dengan mencurigakan. Di dalam edisi ini, juga ada tulisan kisah mereka yang “mati mencurigakan” tersebut.

munir2

Raymond J.J Latuihamallo  (Ongen) seniman Maluku yang  sempat duduk bersama Munir dan Pollycarpur di The Coffee  Bean saat pesawat singgah di Bandara Changi, Singapura belakangan mati, konon serangan jantung,  setelah beberapa jam sebelumnya bertengkar dengan seseorang di jalanan –di Jakarta-   saat baru pulang jalan-jalan bersama anak dan istrinya.  Istri Ongen kabarnya melarang otopsi terhadap mayat suaminya itu, hal yang sebenarnya bisa memastikan apakah ia terkena serangan jantung atau tidak.

Otopsi ini sebenarnya  penting karena saat bertengkar  lawannya sempat menyiram Ongen dengan air. Ongen sendiri dicurigai tahu banyak perihal pembunuhan Munir. Tak hanya Ongen, pendeta yang selama ini mendampingi Ongen saat diperiksa polisi juga kemudian meninggal. Juga seorang petinggi BIN yang sebelumnya kerap bertemu dengan istri Munir dan sejumlah aktivis lainnya.

Apa pun alasannya, pembunuhan Munir adalah sebuah  kejahatan besar. Ia menjadi catatan hitam dari perjalanan sejarah bangsa kita. Kematiannya akan terus digugat sepanjang pemerintah –siapa pun presidennya-  tidak bisa  -atau juga tak berani-  menangkap pelakunya.

Mereka yang ingin tahu tentang peristiwa kematian Munir, juga suasana politik nasional saat kematiannya, menurut saya perlu membaca edisi ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s