Surat dari dan untuk Pemimpin I (Surat Rachman Tolleng)

Liburan tahun baru kemarin saya membaca buku berjudul “Menjadi Indonesia. Surat dari dan untuk Pemimpin.  Buku “unik” ini terbitan Tempo Institut, sebuah lembaga nirlaba  Tempo Group yang antara lain, bertujuan, untuk ikut mendidik generasi muda Indonesia agar bisa tumbuh menjadi generasi yang benar-benar bisa menyumbangkan pikiran dan tenaga mereka demi kemajuan bangsa ini.

Tempo Institut dipimpin Mardiyah Chamim, redaktur Majalah Tempo yang dulu kerap menulis isu-isu kesehatan. Kami kerap menggodanya, dengan memanggilnya “Bu Rektor.” Beberapa kali saya diminta Bu Rektor –yang baik hati dan murah senyum- ini untuk ikut menjadi juri penulisan esai yang diikuti olehpara mahasiswa seluruh Indonesia.

mardiyah1

Buku  Surat dari dan untuk Pemimpin ini terbit sudah lama 2012. Saya ikut (sedikit) dalam kepanitiaan perencanaan penerbitan buku yang idenya diambil dari buku “Letter from Our Leader yang disunting Henry O. Dormann.

Intinya adalah mengumpulkan tulisan-tulisan (tentu saja diminta) dari para pemimpin dan tokoh di Indonesia yang kira-kira surat mereka bisa memberi pesan, inspirasi, semangat, dan sejenisnya kepada generasi muda.

Ada 90-an tokoh yang diminta untuk menulis surat yang kemudian dibukukan itu. Ada yang mengirim dengan tulisan tangan, ada yang diketik. Dari tokoh politik, budayawan, pengusaha, wartawan dan lain-lain. Mereka, antara lain, Adnan Buyung Nasution, Amien Rais, Sri Mulyani Indrawati, Ignas Kleden, Tri Mumpuni,  Jimly Asshidiqie, Christine Hakim, Kartini Mulyadi, Wakil Presiden (saat itu) Budiono, hingga Riri Riza, Titiek Puspa, Ridwan Kamil, Butet Manurung dll.

Saat terbit dan diberi gratis (karena sebagai “panitia” tadi), saya belum membaca seluruh surat-surat itu. Nah, libur tahun baru kemarin, buku itu tak sengaja saya lihat di tumpukan buku-buku.  Sejumlah tokoh yang dulu menulis surat itu ada yang kini jadi menteri, misalnya, Susi Pudjiastuti atau Anies Baswedan. Juga menjadi presiden, Jokowi,  yang saat menulis surat dalam buku ini  masih sebagai gubernur DKI Jakarta.

Saya tidak tahu apakah buku ini ada dijual di toko buku atau tidak, tapi buku ini menurut saya  sangat menarik.

Berikut saya tampilkan sebuah surat yang panjang dari Racman Tolleng. Rachman adalah bekas aktivis pergerakan mahasiswa, Pemimpin Redaksi  Harian Mahasiswa Indonesia yang terkenal di masanya (sekitar tahun 66-an), pendiri dan bekas Sekjen Golkar. Rachman kini minggir dari politik praktis. Ia lebih banyak menjadi “guru”para politisi muda –tentu yang berpolitik dengan  santun dan beretika.

Surat Rachman Tolleng

mardiyah tolong1
mardiyah toleng2

mardiyah toleng3

mardiyah toleng4

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s