Menonton Konser ITB Student Orchestra

Unit kesenian orchestra ITB, ISO, menggelar acara yang mereka sebut Forte 2015. Gedung Aula Barat penuh dengan penonton, yang terdiri dari para orangtua, teman-teman para pemain, dosen, hingga rektor. Saya angkat topi untuk yang satu ini: ketertiban dalam menonton.

Ya, ketertiban, itu syarat kalau hendak menikmati orchestra semacam yang disuguhkan ITB Student Orchestra atau  biasa disebut ISO itu. Ini salah satu dari unit kegiatan mahasiswa ITB yang jumlahnya sekitar 80-an di kampus yang terletak di kawasan Dago tersebut.

Karena Bagas ikut main, sejak sekitar sebulan lalu, saya, anak-anak dan istri sudah bersiap melihat acara ini. Awalnya kami mengira konser itu akan berlangsung Sabtu 18 April, ternyata hari Minggu malam. Di Bandung saya menginap di Banana Iin, penginapan di jalan Setiabudi arah Lembang. Hotelnya pas bersebelahan  dengan Kampus Universitas Pasundan yang tengah,  seharian (dan semalaman) menggelar acara musik kampus. “Maaf  Pak kalau nggak bisa tidur. Nanti jam 10 malam biasanya selesai,” ujar seorang pegawai hotel.

Saya menggangguk. Saya tidak merasa terganggu, justru senang mendengar nyanyian dan teriakan-teriakan mahasiswa Unpas yang memang hanya dipisahkan oleh dinding hotel.

Seperti biasa jika kami ke Bandung, Bagas  ikut tidur di hotel. Paginya, kami berdua naik angkot ke kampusnya. Angkot hijau bertulisakan Cihaem-Ledeng. Ia menenteng biola karena pagi itu ada gladi resik. ITB di hari minggu pagi, pukul 7-an sudah ramai orang dengan berbagai macam kegiatan. Kebanyakan mereka berolahraga.

Pentas ISO kali ini  spesial. Bertepatan dengan usia  mereka ke sepuluh tahun  -dan juga menurut saya  Konferensi Asia Afrika yang juga digelar di kota “Paris van Java” ini.   Ini sudah kesekian kalinya ISO menggelar konser  -ya semacam acara rutin tahunan.  Acara kali ini mereka namakan  “Festival Orkestra ITB”  atau Forte.  Lengkapnya:  Forte. When Ganesha Play Music Again.

Pengumuman Forte saya lihat terpasang di sejumlah papan pengumuman. Ada juga stan-stan “mendampingi acara” ini. Sayang stan ini sepi.  Yang berpartisipasi bisa dihitung dengan jari.  Sayang juga panitia  tidak menjual T shirt atau stiker yang mestinya bisa dibeli tamu untuk cinderamata.

20150419_092530

 

Tenda Stand

Tenda Stand

Saya sempat menonton gladi resik selama sekitar dua jam-an di sela-sela anggota panitia lain mengatur ruang, tata suara dll. Namanya mahasiswa ada juga yang latihan sambil sesekali ngetik tugas atau SMS-an. Ini beberapa foto saat gladi resik itu….

20150419_115136

 

20150419_120525 20150419_120755

20150419_120346
20150419_120139

Pukul 19.00 pintu Aula Barat –ini gedung buatan Belanda yang konon arsitekturnya gabungan bangunan rumah Minangkabau dan Sunda- ditutup. Acara dibuka dengan sambutan Rektor ITB, Prof Kadarsah Suryadi,  yang singkat dan bagus. Ia menekankan pentingnya “empat R”  bagi mahasiswa: rasio, raga, rasa, dan relegius. Ke empatnya, jelas ITB  menyediakan.  Musik, menurut beliu salah satu dari unsur R, rasa.

20150419_193311

Sejumlah lagu klasik dan nusantara ditampilkan selama sekitar 3 jam-an. Pembukaan  Palladio (Karl William Pamp Jenkins) dan kemudian antara lain  Danse Arabe, Violin Concerto No 1, dan ditutup Simfoni  Raya,  Mahagita, The of Love dan After School.  Mahagita, merupakan cuplikan-cuplikan lagu-lagu daerah. Tampil juga sebagai bintang tamo solois Puspallia Panggabean (yang pernah bergabung dengan paduan suara mahasiswa ITB)  dan marching band ITB, Waditra Ganesha –yakni pemain terompetnya.

Saya menikmati penampilan para mahasiswa itu  -dan saya kira para undangan lain. Suasana benar-benar tertib. Tidak ada yang bicara atau melakukan hal-hal yang mengganggu penonton. Tepuk tangan meriah muncul sesekali  -dan yang paling bergemuruh saat orchestra itu mendapat giliran di –konduktori oleh Guntario Sukma.  Mahasiswi berjilbab itu terlihat energik memimpin penampilan ISO.

Begitu acara selesai, maka ingar bingar pun muncul. Para mahasiswa dan orangtua yang menonton berdiri, mendatangi para pemain, menyalami, memeluk dll. Ada juga yang membawa kembang dan memberikan ke teman mereka yang bermain. Tentu saja, acara foto, seret sana-seret sini (untuk fot-fotoan ini) berlangsung berpuluh-puluh menit.

20150419_214839

 

20150419_214454

Acara ini sangat sukses. Satu-satunya yang mengganjal adalah mikrofon pembawa acara pria yang kadang-kadang suaranya timbul tenggelam. Tapi sudahlah, itulah  mahasiswa. Mudah-mudahan dengan sponsor dan tiket yang mereka jual Rp 40 ribu dan Rp 60 ribu (dan ludes itu)  mereka bisa sedikit bersenang-senang setelah sejak sekitar enam bulan silam berlatih keras di sela-sela kuliah mereka. Hidup memang tidak hanya ruang kuliah dan laboratorium….

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s