Para Pendaki Gunung Merapi

Seorang  pendaki Merapi tewas karena jatuh ke kawah Merapi.  Kesembronoan,  juga kelelahan, kerap membuat para pendaki Merapi lupa, setiap saat mereka bisa saja celaka di puncak gunung setinggi 2.911 meter dpl itu.

Merapi  adalah gunung yang paling menantang se Jawa. Itu yang secara pribadi saya rasakan setelah mendaki gunung-gunung di Pulau Jawa saat mahasiswa dulu. Dan jalur yang paling menantang itu, tak lain  “jalur Kinahrejo,”  jalur yang melewati kampung Mbah Marijan (almarhum), Desa Kinahrejo. Jalur yang kini, menurut teman-teman di Yogya,  sangat tidak disarankan lagi untuk dilewati  -juga kabarnya sudah “terhapus” dihajar lava saat Merapi   meletus tahun 2010 lalu.

Saya mengucapkan duka mendalam atas meninggalnya Eri Yunanto mahasiswa Universitas Katolik Atmajaya Yogya yang tewas jatuh ke kawah Merapi pada Sabtu, 16 Mei silam. Menurut berita di koran,  Eri jatuh ke kawah ketika  pulang, beberapa saat setelah berjalan turun meninggalkan bekas “puncak Garuda,”  “sekelompok bebatuan” yang letakknya tertinggi di pucuk Merapi.

Media menyebut Eri adalah anggota Palawa, kelompok  “Pecinta Alam Mahasiswa”  Atmajaya Yogyakarta  -tapi belakangan Palawa menyatakan Eri bukan anggota mereka.

Saya punya sedikit “ikatan” dengan Palawa. Dulu saat saya menjadi mahasiswa  arsitektur  Universitas Atmajaya, saya anggota Palawa. Bahkan termasuk  “angkatan awal.”  Kami pernah  melakukan  latihan SAR di daerah Bebeng, Kinahrejo, di kaki Gunung Merapi. Salah satu rekan seangkatan saya adalah Cahyo, yang kini kabarnya memiliki semacam wisata jelajah gua di daerah Gunung Kidul. Seperti saya, Cahyo  juga mahasiswa arsitektur. Karena sesuatu hal, saya tidak meneruskan kuliah di universitas yang saat itu kampusnya  di Demangan, sebelum pindah ke daerah Babarsari sekarang.

Soal Merapi, gunung ini memang luar biasa. Indah, menantang, juga, otomatis berbahaya. Ada tiga jalur untuk sampai ke Puncak Merapi. Yakni lewat Babadan, Selo (Boyolali)  dan Kinahrejo (DIY).

 

Tiga Jalur pendakia Merapi (Jalur Kinahrejo kini tidak disarankan)

Tiga Jalur pendakian Merapi (Jalur Kinahrejo kini tidak disarankan)

Saya sendiri  dulu paling sering mendaki lewat Kinahrejo. Kenapa memilih lewat jalur ini,  alasannya sederhana. Murah dan dekat. Dari kampus saya, UGM, kami biasa naik “colt campus” ke Kaliurang, kemudian jalan kaki sekitar dua jam, melewati hutan dan jalan setapak, lalu tibalah, biasanya menjelang magrib  di  Kinahrejo, desa tempat Mbah Marijan tinggal.

Saat mahasiswa, terutama di ujung-ujung kuliah,  hampir tiap bulan saya datang ke Kinahrejo ini. Baik dengan teman-teman pecinta alam Fakultas Filsafat UGM, grup pecinta alam saya,  Mermounc, atau bahkan sendirian.  Saat itu  bukan hal luar biasa datang ke Kinahrejo atau mendaki Merapi seorang diri.  Para pendaki yang berangkat sorangan dari Yogya biasanya akan saling bertemu di rumah Mbah Marijan.  Ngobrol dengan beliau, bersenda gurau dengan sesama pendaki,  dan kemudian sekitar pukul 02. 00 dini hari, mendaki Merapi.

Mbah Marijan di depan rumahnya, 1987. (Dokumentasi pribadi)

Mbah Marijan di depan rumahnya, 1987. (Dokumentasi pribadi)

Jika ada “tamu” dari luar kota mengunjungi saya di Yogya,  teman-teman atau keluarga, biasanya saya “menjamu” mereka dengan mengajak naik  Merapi. Biasanya juga mereka antusias. Terkesan dengan kehidupan desa Kinahrejo yang demikian jauh dari hiruk pikuk  -sebuah desa terpencil yang dikelilingi pohon-pohon jambu klutuk yang subur tumbuh liar.   Setelah turun dari Merapi, dan saya ajak untuk kapan-kapan   naik lagi, biasanya mereka akan bilang, “kapok…kapok….”

Menuju Puncak Merapi dengan latar belakang Gunung Merbabu. (Dokumentasi pribadi)

Menuju Puncak Merapi dengan latar belakang Gunung Merbabu. (Dokumentasi pribadi)

Jalur Kinahrejo memang luar biasa. Begitu keluar dari Desa Kinahrejo, para pendaki langsung menghadapi  trek mendaki hingga kemiringan 45 derajat. Benar-benar melelahkan dan memerlukan kewaspadaan. Setelah itu,  para pendaki  berhadapan dengan “kendit,” jalur menuju puncak Merapi yang demikian miring dan terjal dengan penuh batu-batu yang, jika salah injak, akan longsor.

Merapi jalur Kaliurang (foto: Mermounc)

Merapi jalur Kaliurang (foto: Mermounc)

 

Kondisi “jalur batu-batu” Ini sangat berbahaya. Karena itulah melewati tempat ini para pendaki tidak boleh mendaki berurutan  -satu berada di belakang yang lain. Ini riskan. Karena begitu pendaki di atas, karena kurang hati-hati,  melongsorkan batu, maka batu itu akan bergulung ke bawah, menyenggol, menggoyangkan batu di bawahnya, kemudian bersama-sama bergulung ke bawah. Demikian seterusnya.

Batu-batu menjelang Puncak Merapi (Foto: Baskoro)

Batu-batu menjelang Puncak Merapi (Dokumentasi pribadi)

Bisa dibayangkan jika di bawahnya ada orang, pasti tewas tertimpa batu  yang acap sebesar kepala kambing atau kerbau itu.

Yang mendebarkan adalah saat-saat melewati sebuah jalur sempit untuk kemudian berputar ke atas menuju puncak   -yang dari sini kemudian bisa diteruskan beberapa puluh meter berjalan  ke “puncak”  dari puncak Merapi– yakni  “Puncak Garuda.”

Di jalur sempit  ini para pendaki harus  berhadapan dengan semburan asap belerang yang kadang keluarnya tak terduga waktunya.  Begitu keluar, bukan saja baunya  menyengat, tapi juga membuat pandangan langsung tertutup. Bahkan dalam jarak satu meter sekalipun. Acap kali kelebatan asap itu berlangsung cukup lama. Memedihkan, menyesakkan.

Asap belerang di puncak Merapi (foto: Mermounc)

Asap belerang di puncak Merapi (foto: Mermounc)

Mereka yang mendaki Merapi pertama kali biasanya akan  panik, dan itu berbahaya. Karena itu mereka yang biasa mendaki Merapi akan menjaga –dengan cara memegang tangan- mereka yang baru pertama kali mendaki  tersebut.

Saya biasanya selalu menyiapkan serbuk kopi untuk menghadapi ini semua. Kami biasa merunduk sembari hidup ditutupi sapu tangan yang sudah dibaluri kopi. Nah, begitu asap belerang hilang, dan jalur terlihat terang, saat itulah  kami  bergegas melintasi  “jalur belerang”  tersebut. Setelah itu, sampailah ke Puncak Merapi.  Di sana biasanya, jika bersama teman-teman perginya, kami berkumpul, melingkar,  berdoa, mengucapkan syukur kepada Allah.

Tapi, ada juga memang kegilaan-kegilaan sejumlah pendaki Merapi yang –setelah bertahun-tahun saya ingat-  sangat tidak layak ditiru. Mereka misalnya membawa minuman keras ke puncak Merapi dan kemudian meminumnya di sana. Lalu ada pula yang “saling adu kuat” mendaki Merapi dengan membawa seminimal mungkin air minum.

Saya pernah melihat sekelompok pemuda –empat atau lima orang- yang mendaki Merapi dengan membawa, masing-masing, air putih dalam sebotol bekas minuman alkohol Mansion House. Mereka saling berbangga, siapa yang paling sedikit  menghabiskan air itu sampai di Puncak. Saya kira ini konyol, tindakan sembrono. Bukan hal yang patut dibanggakan. Bayangkan, jika karena sesuatu hal mereka kehabisan air di puncak.

Demikianlah medan jalur Kinahrejo. Karena itulah, menurut saya, siapa pun yang pernah mendaki  Merapi lewat jalur Kinahrejo ia tidak akan kaget lagi –dan insyaallah- akan sanggup mendaki Gunung Semeru (gunung tertinggi di Jawa) atau juga Rinjani (Gunung tertinggi se-Jawa-NTB).

Juga demikian semestinya siapa pun yang mendaki gunung –gunung apa pun. Dia mesti hati-hati. Tidak pongah, tidak sembrono, tidak, seperti diistilahkan Mbak Marijan, “ngomong kotor.”   Mendaki gunung, berupaya mencapai puncaknya adalah untuk melihat kebesaran-NYA, merasakan betapa sangat kecilnya kita.

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s