Mengunjungi Polandia 1 (tentang burung gagak di Warsawa)

Musim panas menyambut kami, sejumlah wartawan Indonesia, saat mendarat di lapangan terbang,  Frederic Chopin, Warsawa. Terbang dari Bandara Soekarno Hatta meleset dari waktu yang ditentukan lantaran pesawat maskapai Emirates molor terbangnya, akibatnya ternyata tak enak.  Ketika di Dubai koper  sejumlah teman tak terangkut pesawat Emirates yang menerbangkan kami ke Warsawa. Ada pun saya, yang kemana-mana hanya bermodal ransel dan tas jinjing,  tak terkena masalah ini.

Itu masalah kedua. Masalah pertama terjadi di pintu Imigrasi. Teman wartawan dari Kompas, Diah, hampir dua jam tertahan di loket imigrasasi karena telapak tangannya tak terdeteksi perangkat pemindai. Seorang teman meledek “musibah” yang dialami wartawati senior itu itu. “Habis tangan Mbak halus banget, kebanyakan dipindai…” Yang diledek, hanya senyum-senyum kecut.

Koper yang tersangkut itu tentu saja membuat teman wartawan, terutama perempuan kalang kabut. “Besok kalau wawancara apa boleh buat, ya pakai baju  ini saja,” kata seorang teman dari TV Berita1 sambil menunjuk bajunya yang, tentu saja lantaran sudah dipakai lebih 14 jam,  sudah lecek Menurut aturan, jika kejadian seperti ini bukan salah penumpang, maka penumpang bisa meminta kompensasi.

Maka, sebelum meninggalkan bandara, saya ngintil di belakang para “korban” pesawat molor itu ke sana ke mari  “mengejar”  hak mereka. Hasilnya? Dapat juga kompensasi  US$ 50. “Lumayan untuk beli kaos, “ ujar seorang seorang teman kameramen girang.

Para "pengurus" kompensasi

Para “pengurus” kompensasi

Saya baru berjumpa dengan teman-teman dari Kompas, Berita1 TV, Jakarta Post,  di Bandara Soekarno. Sebenarnya ada dua pertemuan yang digelar Kedutaan Besar Polandia untuk membekali kami sebelum berangkat ke Polandia. Tapi saya tak bisa hadir karena urusan rapat di kantor. Hanya sebelumnya saya sudah baca-baca semua hal tentang negeri ini. Juga tulisan-tulisan wartawan  Tempo yang pernah mengunjungi negeri yang konon “zero kriminal” dan terkenal dengan perkebunan strawberinya. Ya Polandia negeri pengekspor strawberi.

Kunjungan ke Polandia menarik karena kali ini kami diundang mengunjungi sejumlah tempat yang berkaitan dengan Perang Dunia II , kebudayaan Islam di Polandia,  museum Yahudi (sampai kuburannya segala),  hingga hutan taman nasional.  Tempat-tempat itu ada yanh letaknya hingga  500 km dari ibu kota Polandia, Warsawa.  Itu misalnya,  Westerplatte, tempat yang pertama kali diserang Jerman dan penyebab meletusnya Perang Dunia II.

Warsawa sendiri mengingatkan saya dengan Kota Berlin dan juga Praha –dua kota yang pernah saya kunjungi  beberapa tahun lalu. Bangunan-bangunan abad  15-an  masih tegak berdiri (atau mungkin dibangun kembali). Old Town-nya yang kami kunjungi  mengingatkan saya pada Old Town di kota Praha. Tapi, saya kira jauh lebih indah Praha.

Syrenka, putri duyung berbadan tegap di Old Town, Warsawa

Syrenka, putri duyung berbadan tegap di Old Town, Warsawa

Warsawa pernah luluh lantak diduduki berganti-ganti antara negara Jerman, Soviet dan pasukan Sekutu. Inilah negara yang pernah tercabik-cabik karena perang, diduduki pemerintah Komunis berpuluh tahun sampai kemudian muncul revolusi yang digelorakan tukang listrik dari kota pelabuhan Gdansk, 500 km dari Warsawa,  Lech Walesa, yan kemudian meruntuhkan rezim komunis pada 1989.

Salah satu peninggalan pemerintah komunis di Warsawa adalah Palace of Cultural and Science. Dengan tinggi 231 meter, gedung yang dibangun  pada 1952-1955 ini merupakan gedung tertinggi di Warsawa. Palace Cultural kini menjadi perkantoran, gedung teater, juga bioskop.

Palace of  Cultural

Palace of Cultural

Palace of  Cultural adalah “hadiah” Stalin (penguasa Soviet) untuk rakyat Polandia. Kendati jadi landmark kota, sejumlah anak muda, demikian menurut pemandu tur kami, Anna, tidak menyukai gedung itu (tentu karena alasan  dari komunis itu). Tapi, Palace memang indah. Dari jauh kemegahannya terlihat. Di malam hari,  lampu yang menerpa dindingnya menampilkan warna-warni yang membuat Palace terlihat cantik.

Palace of Cultural malam hari

Palace of Cultural malam hari

Seperti di kota yang baru saya datangi di manapun, saya selalu bangun pagi-pagi menikmati “pagi” di kota itu. Di Warsawa pun demikian. Pukul lima saya menyusuri jalan-jalan yang sepi. Saya baru menyadari, di pagi hari, langit kota ini penuh burung gagak yang berkaok-kaok. Sesekali mereka menukik, tertatih-tatih berjalan di jalan yang sepi, memakan remahan kue yang tercecer.

IMG_0348

Musim panas tak membuat Polandia panas kecuali hanya hari yang selalu terang. Pukul 10 malam, misalnya, suasananya seperti pukul tiga sore di Indonesia –masih terang benderang. Matahari baru menghilang sekitar pukul sebelas malam ke atas , lalu muncul lagi pukul 03.00.

Polandia pukul 20.00

Polandia pukul 20.00

Bisa dibayangkan bagaimana kaum muslimin  berpuasa di negeri itu saat seperti ini. Tapi, saya pikir, itu tentu ujian yang akan melipatkan pahala mereka. ***

 

 

 

4 thoughts on “Mengunjungi Polandia 1 (tentang burung gagak di Warsawa)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s