Menulis tentang Mermounc

Minggu malam lalu  saya menginap di rumah Pak Imam Tjahjadi  -demikian saya memanggilnya- di sebuah perumahan  yang, kebanyakan, penghuninya para perwira TNI Angkatan Udara, di kawasan Jakarta Timur.

Ada “pekerjaan” besar yang mesti  kami (saya dan teman saya, Djarot), selesaikan:  menuntaskan  “buku Mermounc,” sebuah buku tentang  perjalanan 50 tahun perkumpulan pendaki gunung yang dilahirkan para pemuda dari Salatiga itu.

LOGO-MERMOUNC

Saya pernah  aktif  sebagai anggota Mermounc (Merbabu Mountaineer Club).  Pada tahun  83-an, saat awal-awal saya merantau di Yogya, saya terpikat dengan pengumuman  perhimpunan pecinta alam ini yang tengah membuka pendaftaran anggota. Seingat saya pengumuman itu ditempelkan di dinding di kawasan kampus  UGM, kampus saya, dan hap, saya mendaftar. Dilantik menjadi anggota, lalu  latihan-latihan naik turun tali (seperti tidak ada kerjaan…) di Jembatan Babarsari, naik sejumlah gunung di Jawa Tengah, latihan P3K di Kantor PMI di Jalan Jenderal Sudirman, lalu tak aktif….

Tak aktif karena memang saat itu kuliah di beberapa fakultas, beberapa perguruan tinggi.  Tapi sebenarnya bukan berarti kegiatan naik gunung berhenti. Di perguruan tinggi-perguruan tinggi  ini pun, hari-hari, bulan-bulan lebih banyak berkeliaran di gunung  -terutama Merapi, Merbabu, dan Lawu, ketimbang berada di kamar kost. Saat itu saya mendaki lebih banyak dengan teman-teman Fakultas -grup pecinta alam fakutas.

Hidup berputar dan melemparkan saya menjadi wartawan di Majalah Tempo sampai suatu ketika, ketika Tempo menerbitkan edisi khusus  pada 2010 bertema “Para Relawan Bencana,” reporter Tempo di Yogya mengirimkan laporan tentang nama-nama relawan yang  membantu para warga Kinahrejo di kaki Gunung Merapi. Laporan itu menyebut sejumlah nama yang layak dipilih sebagai tokoh relawan. Dan mereka anggota Mermounc.

Sejumlah anggota Mermounc Menjadi Tokoh Pilihan Tempo

Sejumlah anggota Mermounc Menjadi Tokoh Pilihan Tempo

Segera saya kontak reporter di Yogya, meminta nomor anggota Mermounc itu, Tonden. Inilah untuk pertama kalinya saya berhubungan dengan anggota Mermounc lagi, setelah hilang kontak lebih dari 25 tahun. Dari sinilah kemudian saya bertemu dengan Pak Imam Tjahjadi  (pendiri Mermounc) yang saat itu rupanya tengah merancang buku 50 Tahun Perjalanan Mermounc. Pak Imam, yang kini berusia 70-an dan masih gesit,  meminta saya untuk membantu penulisan buku  -hal yang tentu saja tak mungkin saya tolak.

***

Pembuatan buku ini membuat mata saya terbuka tentang Mermounc, sesuatu  yang tak saya ketahui justru saat dulu saya menjadi anggotanya. Ini perhimpunan luar biasa yang pendirinya memiliki visi ke depan. Didirikan saat mahasiswa Indonesia terkotak-kotak oleh berbagai aliran politik dan pendirinya menegaskan,  mereka bebas dari aliran politik apa pun. Diresmikan  di Puncak Merbabu  pada 9 Agustus 1965 karena gunung itu memang memayungi kota para pendirinya, Salatiga.

Yang menarik bagi saya adalah bagaimana Pak Imam dkk, saat remaja, mendisiplinkan diri membuat catatan perjalanan setiap mereka habis naik gunung. Sangat detail. Catatan ini juga masih rapi tersimpan di lemarinya yang penuh beragam buku (dari buku biografi, himpunan lagu-lagu barat, kumpulan undang-undang,  sampai novel) di ruang kerjanya.

catatan mermounc
Saya juga baru tahu bahwa pada 1969 ada dua anggota Mermounc (Hario dan Pung) naik Gunung Semeru dan salah satunya jatuh, patah kaki, dan mampu bertahan hidup sendirian selama seminggu lebih  ( sementara karibnya, Pung  turun mencari bantuan).  Yang luar biasa mereka mendaki ke Gunung tertinggi di Jawa itu dengan membuka jalur  baru, bermodal peta, naik turun air terjun. Sebuah kegilaan dan kenekadan yang tak terbayangkan.

Kisah mereka sendiri kemudian dimuat di Majalah Intisari pada akhir 1969. Siapa pun yang membaca kisah itu akan terharu. Terharu atas kegigihan dan kesetiakawanan mereka  berdua.

Kami memutuskan kisah mereka di Majalah Intisari  itu harus masuk dalam “buku 50 Tahun” ini.  Saya juga gembira, ketika akhirnya saya bertemu dengan  Pak Pung –demikian kami memanggilnya-  yang kini masih segar itu. Ia datang khusus dari Batam antara lain untuk bertemu dengan kami.  “Beberapa bulan setelah Hario jatuh di Semeru, Soe Hoek Gie tewas. Saya dengan Hario sempat melayat, menunggu jenasahnya di rumah saudaranya di Malang,”  cerita Pak Pung.

Pak Pung yangmasih semangat naik gunung

Pak Pung yang masih semangat naik gunung

Sekitar dua tahun lalu Pak Pung (kini usianya 70-an tahun)  ke Semeru lagi. “Warga di sana rupanya masih mengingat peristiwa yang kami alami. Cerita kami jatuh itu turun temurun disampaikan kakek atau ayah mereka,” kata Pak Pung  terkekeh, memperlihatkan giginya yang tak utuh lagi. Ia bercerita, dirinya disambut hangat di desa di kaki Semeru tempatnya dulu mencari pertolongan.

Saya menginginkan buku Mermounc 50 Tahun ini menjadi sebuah buku yang lengkap tentang Mermounc  -yang saya bayangkan jika orang ingin mengetahui atau membuat studi  tentang Mermounc cukup membaca buku ini. Karena itu sejumlah dokumen penting mestinya tercantum dalam buku ini, termasuk misalnya surat dari  Mayor Jenderal  Sarwo Edhie Wibowo, Gubernur Akabri saat itu, yang mendukung keberadaan Mermounc dan  pernah mengajak Mermounc menggelar pendakian bersama dengan para taruna AKABRI.

Surat Sarwo Edhie Wibowo

Surat Sarwo Edhie Wibowo

Beruntung Pak Imam menjembatani kami untuk bertemu dengan banyak orang Mermounc lama. Pak Imam tidak saja meminta mereka datang ke rumahnya –untuk kemudian saya tanya macam-macam–  juga membawa kami, saya dan Djarot, anggota tim buku, ke Yogyakarta. Dibanding saya, Djarot jauh lebih mengenal banyak anggota Mermounc.

Di Yogya saya tidak saja bertemu dengan anggota Mermounc generasi 90-an, juga dengan mereka generasi 60-an. Sebuah reuni pun terjadi.  Para senior Mermounc berkumpul dan saling cerita –juga membongkar rahasia mereka, dan kemudian saling tertawa bersama.

Kami berkumpul di rumah Mbak Tjut Djohan, seorang doktor ilmu lingkungan  Fakultas Biologi UGM. Di rumahnya, di kompleks dosen UGM itu, ada pula  Pak Akhmad  Prabowo yang kini profesor riset, juga Pak Bambang Mertani,  bekas Ketua Mermounc pengganti Pak Imam yang kemudian di kampusnya ikut mendirikan Mapagama (Mahasiswa Pecinta Alam UGM).

Dari kiri ke kanan:

Dari kiri ke kanan: Pak Bambang Mertani, Pak Imam Tjahjadi, Prof Akhmad Prabowo, doktor Tjut S. Djohan

Mereka  meriung, mengenang nostalgia saat puluhan tahun silam masih muda dan naik turun gunung. Saya menikmatinya  -juga mencatat apa saja yang penting untuk buku Mermounc.  Waktu rupanya tidak membuat mereka berjarak  -mungkin itulah ciri mereka yang tumbuh dalam organisasi pecinta alam. Kebersamaan dalam suka dan duka.

Buku ini akan terbagi dalam  VII bab. Ada  bab tentang pendirian Mermounc, masa 1970-1980, masa 1980-2015, dan juga bab  berisi komentar-komentar  dan harapan terhadap  Mermounc ke depan, serta  Mermounc dalam Gambar. Yang terakhir ini berisi foto-foto yang diharapkan mewaliki kegiatan Mermounc dari dulu hingga kini.

Merapi dan Mbah Marijan tentu saja tak terlewatkan. Buku ini akan memuat secara khusus hubungan Kinahrejo dan Mermounc. Dari dokumen dan foto yang terkumpul, sejak 1970 ternyata “anak Mermounc” sudah kenal dan bergentayangan di Kinahrejo.  Kenal dengan bapaknya Mbah Marijan (Mbah Hargo),  Marijan muda (yang saat itu panggilannya “Kang Marijan), juga anaknya yang kini menjadi pengganti Mbah Marijan sebagai juru kunci Merapi. Karena itu  tidak heran jika kemudian anggota Mermounc yang menemukan jenazah Mbah Marijan,  beberapa jam setelah erupsi Merapi pada 2010. Kinahrejo adalah rumah kedua bagi kebanyakan anggota Mermounc.

Saya mengharap buku ini selesai tepat waktu dan pada 9 atau 12  Agustus nanti sudah bisa didiskusikan –demikian rencananya-  bersamaan dengan peringatan HUT Mermounc.  Dari segi penulisan bisa dibilang 90 persen selesai. Covernya sudah mulai diotak-atik seperti terlihat di bawah ini….

Coverlaptop

Mudah-mudahan ulangtahun 50 tahun yang dipusatkan di Yogya itu  akan meriah.  Sudah lama tidak terdengar gaung kegiatan Pecinta Alam di Indonesia. Mudah-mudahan momen 50 Tahun Mermounc bisa  mengembalikan semangat dan greget dunia pecinta alam kita lagi. *

 

 

 

2 thoughts on “Menulis tentang Mermounc

  1. Dimana saya bisa membeli buku ini Mas? Kisah Pung dan Haryo menginspirasi saya untuk menulis kisah Beliau berdua dalam bentuk novel. Melihat fonomena pendakian saat ini hanya mengejar foto untuk diunggah ke media sosial tapi minim ilmu teknik mendaki gunung… Kalo boleh saya minta kontaknya mas Baskoro… Terima kasih…

  2. Bambang Mertani,Tinggarta,Nurandi dan alm. Hario Suseno,adlah yang mengawali jejak langkah mermounc di tahun 65.Para “pendekar” pendaki gunung yang melanjutkan langkah Mermounc : Soeatmadi<BuyungProf Adji<drh.Eko Wibowo.>Prof Akhmad Prabowo>Alm.Pak Afandi< Pawang Ular Jamzuri> Tato Ardiyanto, Prof Tjut Suganda Djohan ,waduh akan penuh halaman buku dan kurang tempat bila ditul;uis semuanya.Mereka inilah yang sebenarnya yang berperanan besar hingga Mermounc dapat melangkah hingga setengah abad ini.Mendirikan lebih mudah daripada menjaga dan memelihra semangat untuk mengayunkan jejak langkah kedepan .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s