Mengunjungi Polandia (4-catatan terakhir)

Hampir dua pekan mengunjungi Polandia, saya seperti mengingat masa kecil ketika mendapat menemui banyak kartu kartu pos di kantor bapak . Kartu pos-kartu pos  yang gambarnya selalu tentang padang gandum yang luas, rumah kayu yang sederhana, kincir angin, anak-anak berwajah sejahtera  (sebagian memakai sweater) yang tengah  berjalan kaki atau naik sepeda. Itu pemadangan di negeri Eropa. Saya pernah melihat pemandangan seperti itu di Finlandia, dan makin kental menemuinya di Polandia saat naik bis berjam-jam dari Warsawa ke keta Bialystok, Gdansk, Gdynia.

Ini perjalanan yang asyik memang. Tidak membosankan dan sesekali membayangkan jika saja Indonesia bisa semacam ini. Negara merawat museum, hutan dijaga, negara memperkuat armada laut dan memajukan hal berkaitan dengam maritim dll.  Polandia memiliki banyak kesamaan dengan Indonesia.

IMG_0470

Misalnya saja soal hutan. Saya mengunjungi Forest Landscape di Knyszyn dekat Bialystok  setelah sebelumnya mengunjungi gereja Ortodok yang juga tertua di Eropa, Male Monastery.  Perlu ijin khusus masuk gereja yang dibangun abad pertengahan ini, yang terletak di pinggiran hutan.

SONY DSC

Nah, soal hutan itu, selain terjaga, selalu saja ada rombongan anak-anak yang dibawa guru mereka untuk dikenalkan dengan hutan, juga binatang yang diawetkan di dalamnnya. Polandia memang menjaga hutan-hutan mereka. Sejak awal, warganya sudah disadarkan bagaimana pentingnya hutan bagi kehidupan mereka.  Saya mencoba untuk berbicara dengan anak-anak yang saya temui, mereka hanya senyum-senyum saja. Rupanya mereka tidak paham bahasa Inggris.

IMG_0464

 

IMG_0482

Demikian juga soal laut. Negeri ini  jago dalam soal perkapalan.  Terletak di laut Baltik, tentu sejarah mengajarkan mereka untuk terus menciptakan kapal yang canggih. Salah satu perguruan tinggi yang mengkhususkan diri dalam hal teknologi kapal itu terdapat di kota Gdynia.

IMG_0604

 

Nah, jika kita ke Gdynia, tak ada salahnya untuk mampir di Sopot, ini kota terkenal sebagai kota wisata lantaran di musim panas, banyak warga mengunjungi kota ini untuk berlibur dan berjemur diri di pantainya

Sopot

Sopot

Salah satu yang menarik di Gdynia adalah Museum Imigran (Muzeum Emigracji).  Warga Polandia memang sudah berdiaspora ke seluruh ujung dunia. Mereka juga termasuk bangsa awal yang masuk benua Amerika, dan kemudian Australia. Perang Dua juga semakin membuat warga Polandia menyelamatkan diri  ke negeri lain.

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

Nah, Pemerintah Polandia membangun mesum soal perjuangan rakyatnya mencari makan dan keselamatan di negeri lain itu.  Seperti namanya, museum tersebut “bercerita” dengan detail sejarah beremigrasinya penduduk Polandia ke mana-mana. Terletak di pinggir laut, bisa dibilang di tempat museum itu berada pula, puluhan tahun silam –atau ratusan tahun silam-  bangsa Polandia sudah mulai menyebar ke mana-mana. Di kota ini, sempat juga kami menonton Polish Baltic Philharmonic.

Saya sangat merasa beruntung selama di Polandia bertemu dengan para guide yang dengan baik menjelaskan hal-hal yang saya tidak tahu. Yang membuat saya terkesima, mereka demikian hidup menceritakan semua hal itu. Anna yang berhari-hari menemani kami, misalnya, menjawab apa pun yang saya tanyakan. Anna juga membawa temannya yang bernampilan rocker.  Berjalan bersama mereka, serasa berjalan bersama teman. Walau kadang bercanda, tapi mereka profesional.  Mereka menjawab semua pertanyaan yang saya ajukan dengan detail.

Kiri ke kanan: Anna,  Janet (Pemilik restoran Tatar) dan Agnes, teman Anna

Kiri ke kanan: Anna, Janet (Pemilik restoran Tatar) dan Agnes, teman Anna

Apa boleh buat, walau ini perjalanan undangan dari Pemerintah Kedutaan Besar Polandia, dan bersama saya ada wartawan lain, saya tetap saja merasa berkewajiban untuk membuat laporan tulisan yang menarik untuk Tempo. Karena itu,  sebelum berangkat saya sudah menyiapkan apa saja dan siapa saja yang akan saya wawancarai –juga difoto.

Inilah yang membuat kadang, sesekali,  saya memisahkan diri dari rombongan, mewawancarai beberapa orang, bangun pagi-pagi untuk tanya “itu-itu” kepada petugas hotel dll. Sejumlah tulisan tentang Polandia itu sendiri  kemudian dimuat di Koran Tempo Minggu, Tempo.co,  selingan yang cukup  panjang di Majalah Tempo, juga rencananya di Travelounge, majalah tentang wisata yang peredarannya hanya  ada di bandara di bawah Manajeman Angkasa Pura II, misalnya, terminal internasional di bandara Soekarno Hatta.

***

Di  bekas benteng Hitler, dekat Gdanks, “Benteng Wolf’s Lair,” seorang  pemandu wisata, Maria, dengan suaranya yang tinggi dan nyaring bercerita tentang benteng Hitler yang penuh jebakan. Maria berumur 60-an tahun. Ia sesekali menyenandungkan lagu-lagu tentang Hitler sambil berlari-lari kecil.  Ia bercerita dengan semangat dan riang gembira. Kami terpesona dengan cara ia menceritakan perihal benteng Hitler tersebut.

Saya bayangkan jika saja guru sejarah kita bercerita tentang kehebatan Majapahit, Sriwijaya, Panglima Sudirman dll, pasti banyak anak-anak sekolah kita yang sangat menghargai dan kagum dengan sejarahnya. “I hate Hitler,” kata Maria. “Ada cerita  Hitler itu salah minum Viagra, sehingga yang tegak itu tangannya,” katanya terkekeh-kekeh.

Sang Pemandu di Benteng Hitler                                                                                                             Sang Pemandu Benteng Hitler

Waktu saya ajak berfoto ia memeluk saya. “Bye…bye,” katanya saat tugasnya sebagai pemandu selesai.  Ia lalu lenyap dengan payungnya entah ke mana-mana. “Saya ini juga guru balet,” ujarnya setengah berbisik sebelum pergi. Oh pantas, demikian energik dan ramping tubuhnya.

Sebelum pulang ke Tanah Air, kami sempat bertandang ke rumah Duta Besar Indonesia untuk Polandia yang  juga dikenal sebagai pemusik dan penggagas Java Jazz, Peter F. Gonta. Pagi-pagi kami sudah berada di rumahnya. “Mau nasi goreng?” katanya yang kemudian disambut teman-teman dengan anggukan cepat.

Peter bercerita banyak tentang posisinya sebagai Dubes, juga ide-idenya bagaimana memajukan wisata di Indonesia. “Mestinya yang dijual adalah Indonesia yang aman, yang hotelnya bagus, ada wifi, bukan keprimitifan,” katanya. Ia menunjuk sejumlah hiasan dari tanahair yang sudah ia modifikasi sehingga terlihat modern.

Saya kira pendapat  Pak Peter benar. Bukan zamannya, wisata kita identik dengan “eksotika” Papua, Komodo, wayang dll”  Daya tarik yang digenjot adalah:  gampangnya menuju ke Indonesia, hotel yang aman dan nyaman, dan semua fasilitas yang dibutuhkan turis. Wayang dan hiasan bali yang itu-itu saja lama-lama membosankan. Mungkin Departemen Pariwisata perlu bekerjasama dengan seniman atau penggiat wisata bagaimana memajukan wisata kita, memoles patung dan wayang agar penampilannnya tak “itu-itu” saja.

Di rumah Peter F Gontha

Di rumah Peter F Gontha

Pagi itu setelah kenyang makan nasi goreng yang demikian supercepat dimasak oleh para stafnya yang semuanya pria, kami sempat berfoto-foto bersama Pak Peter. “Kalau ada mahasiswa Indonesia mau sekolah tentang teknologi, ke sini , ini tempatnya, saya akan berusaha membantu,” katanya. Lalu, ia menekan handphone di tangannya, suara empuk  Tulus bergema di seluruh ruang. “Cukup dari sini saya menghidupkan musik,” ujar Peter sembari tertawa…

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s