Mengunjungi Tatar, Komunitas Muslim Pertama di Polandia

Terletak sekitar 245 kilometer dari Warsawa, Bialystok merupakan kota terbesar di  Polandia Timur,  Di sini tidak saja terdapat Istana Branicki,  dengan tamannya yang indah, juga, sekitar sekitar setengah jam perjalanan dari sini, terdapat komunitas muslim pertama di Polandia: Tatar.

(Catatan: Tulisan ini  dimuat di Majalah Travelounge -yang tidak dijual dan a antara lain  hanya ada di bandara internasional Soekarno Hatta- edisi Agustus 2015. Di dalam edisi yang sama juga diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris).

Keturunan Prajurit Tatar di Polandia

Keheningan menyergap ketika saya tiba di  Kruszyniany  sebuah desa yang berjarak sekitar 50-an kilometer dari pusat kota Bialystok.  Siang itu, pertengahan  Juni lalu, Polandia memasuki musim panas. Matahari bersinar hangat di daerah yang dikenal sebagai daerah pertama tempat orang islam bermukim di “negeri Lech Walesa” tersebut.

20150823_145321 (1)

Di depan saya berdiri sebuah mesjid yang bisa disebut mungil. Tak terlihat menara menjulang gagah, bedug, apalagi  tulisan “mesjid” di depannya.  Tapi, jika menatap ke pucuknya, dari simbol bulan dan sabit yang terlihat jelas, orang mafhum itu sebuah mesjid.  Siang itu terlihat tukang tengah mengecat dindingnya yang terbuat dari kayu. Dinding yang semula hijau mereka tutup dengan cat dasar putih sebelum nanti dicat hijau lagi.

Inilah mesjid Tatar yang terkenal di seantero Polandia. Tatar –ada juga yang menyerbutnya  Tartar- merupakan  komunitas muslim pertama yang masuk ke negeri yang terletak di tepi laut Baltik itu. Mesjid di  Kruszyniany  bisa disebut mesjid pertama yang ada di Polandia. “Mereka merupakan komunitas yang terus berupaya menjaga tradisi nenek moyang mereka,” kata Magdalena  El Ghamari,  pakar sejarah dan politik dari University  of Bialystok.

Muslim di Polandia sendiri bisa disebut minoritas. Dari jumlah penduduk sekitar 40-an juta, jumlah kaum muslim  tak lebih dari 30-an ribu orang.  Ada pun orang Tatar sekitar 5.000-an. Mayoritas rakyat Polandia Katolik. Kendati demikian, Pemerintah memberi tempat yang sama bagi agama apa pun di sana, seperti Kristen, Yahudi, atau Ortodok. Polandia, seperti Indonesia, merupakan negeri yang tak hanya multi etnis, juga multi religi.

Tatar masuk Eropa tengah sekitar abad 14.  Cikal bangsa ini “mengembara” ke Eropa tak lepas dari Jengis Khan, penguasa dan “Raja Perang” Mongolia yang nyaris seluruh hidupnya digunakan bertempur, meluaskan wilayah kekuasaannya. Tatar adalah bangsa yang tinggal di Gurun Gobi, bangsa yang dikaruniai alam sebagai penunggang kuda yang andal juga pemberani.  Kehebatan mereka bertempur dengan senjata panah membuat Jengis Khan dan keturunannya memasukkan prajurit Tartar sebagai salah satu prajurit andalan mereka.

Di Eropa Timur bangsa ini kini tersebar  antara lain di Rusia, Uzbekistan, Belarus. Di Polandia, para keturunan  Tatar berdomisili di kota-kota besar seperti Warsawa dan Bialystok.  Di Kruszyniany  jumlah keturunan Tatar sendiri jumlahnya bisa dihitung dengan jari. “Menjelang Ramadhan atau Hari Raya, “ mereka akan berdatangan, mengunjungi mesjid ini atau berziarah ke kuburan,” kata Dzemil Gembicki, salah satu orang Tartar yang saya temui di Mesjid Tatar itu. Sekitar seratus meter dari mesjid terdapat pekuburan Tartar. Batu nisannya ada bertuliskan bahasa Arab dan Polandia. Terlihat ada bekas lilin, juga bunga –bekas peziarah-  di beberapa nisan. Makam tertua tercatat 1699.

Kehebatan mereka bertempur  itulah yang juga membuat mereka kemudian dipakai  Raja Polandia, Jan Sobieski III, memerangi pasukan Turki. Atas jasanya, Sobieski, pada abad 17 menghadiahkan tanah kepada pasukan Tatar  di Kruszyniany dan Bohiki yang berjarak sekitar 37 kilometer dari  Kruszyniany. Ada pun yang membangun mesjid adalah serdadu Tatar,  Kolonel Samuel Murza Kreczowski.

20150823_145415

Sejak dibangun warna Mesjid Tatar hijau. Arsitektuknya campuran  gaya gereja barok dan rumah tradisional Polandia. Saat Perang Dunia II mesjid ini pernah dijadikan rumah sakit oleh tentara pendudukan Jerman. Dalam perang Polandia-Jerman orang Tatar ikut barisan tentara Polandia. “Sesuai spesialis mereka, Tatar masuk dalam pasukan kavaleri,” kata Dzemil.

20150610_172448

***

SAYA  masuk ke dalam mesjid  yang beralas karpet merah. Sebuah lampu kristal dan “panggung dengan empat anak tangga,”  tempat imam berkotbah terlihat di dalam. Menurut Dzemil pada saat-saat tertentu di mesjid ini digelar acara berkaitan dengan hari besar Islam. “Orang Tatar yang tersebar di seluruh Polandia akan datang kemari,” kata Dzemil.  Orang Tatar sendiri menyebut Idul Fitri dengan “Hari Ramadhan Bayram.” Bayram berarti “perayaan.”

20150610_171647

Akulturasi budaya terjadi pada masyarakat Tatar ini. Mereka kemudian banyak yang menikah dengan warga setempat yang tentu saja berbeda agama. “Jika anaknya laki-laki, agamanya ikut ayahnya, jika perempuan ikut ibunya,” kata pria yang istrinya beragama katholik ini. Itu juga terjadi pada dirinya. “Anak laki-laki saya beragama Islam, yang perempuan katholik,” kata Dzemil.

Dzemil, keturunan prajurit Tatar

Dzemil, keturunan prajurit Tatar

Sekitar dua ratus meter dari mesjid, terdapat komunitas keluarga Tatar yang juga mengelola rumah makan “Tatarska Jurta.” Di samping rumah makan ini tengah dibangun sebuah tempat yang akan dijadikan semacam pusat kegiatan masyarakat Tatar. Cukup luas dan jika kelak jadi, saya kira akan menjadi salah satu bagian menarik bagi para turis yang mengunjungi tempat ini.

20150610_195918

Bau dan suasana “bangsa Tartar” tercium keras di sini. Sebuah rumah tenda khas bangsa Tartar –dalam ukuran kecil-  berdiri di pinggir jalan. Saya berjalan ke jalan bagian belakang restoran. Dari jauh tampak lapangan rumput seluas lapangan sepak bola.

20150610_195504

 

20150610_183943

Saya menduga lapangan itu tentu dipakai mereka “bersenang-senang” dengan  kuda mereka. Kuda dan Tartar bukankah dua hal tak terpisah?

20150610_195559

 

20150610_192636

20150610_192853

Pengelola restoran Dzenneta Bogdanowicz  merupakan perempuan yang luar biasa ramahnya dan sekaligus pemasak andal  –cepat dan nikmat.  Restorannya penuh dengan pernak-pernik,  tergantung di dinding yang menyiratkan siapa dirinya:  keturunan prajurit Tartar. Ada baju-baju khas Tartar, pedang, juga songkok yang kerap dipakai kaum muslimin.  Pangeran Charles dari Inggris pernah mengunjungi restoran ini.

Bersama Dzenneta

Bersama Dzenneta

Saya menikmati sup kental dengan warna merah  yang saya kira, awalnya,  adalah es campur. Tidak habis karena ukuran mangkoknya yang demikian besar.  Saya hitung ada sedikitnya tiga jenis kuliner yang kemudian dihidangkan Dzenneta, nama  yang  jika dilafalkan berbunyi  “Janet”

20150610_192811

Dzenneta menemani kami makan. Ia lantas menyetel perangkat video yang dihubungan dengan sebuah televisi layar datar di dinding. Terlihat gambar dirinya sedang diwawancarai sebuah wartawan  TV  Polandia. “Janet” bisa disebut salah satu tokoh masyarakat Tartar.  “Itu waktu ada festival Tatar di sini,” katanya terkekeh.

20150610_171400

Ketika meninggalkan tempat itu, saya melihat para pekerja sudah menyelesaikan tugas mereka, mengecat habis seluruh bangunan mesjid.  Beberapa hari lagi, mesjid itu akan kembali ke warnanya: hijau seperti lebih 300 tahun lalu saat ia dibangun. Sejarah memang tak bisa dihapus.  ***

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s