Serabi Enak di Bandung

Di manakah surabi yang enak di kota Bandung? Kemarin saya mengantar kakak saya yang ingin berburu surabi di kota kuliner Jawa Barat, Bandung.

Di Bandung khususnya, makanan yang saya kenal dengan nama “serabi” ini namanya memang adalah “surabi.”

Saya pernah tinggal di Yogya dan Solo. Di dua kota ini juga ada sejumlah penjual serabi yang sangat terkenal. Dari segi banyaknya penjual, menurut saya sih, lebih banyak penjual serabi di Solo ketimbang Yogya. Di kota Bengawan ini,  di pagi hari, penjual serabi sudah mengipas-ngipas arang di tungku untuk memasak serabi  -hal yang dulu tidak pernah saya lihat di Yogya.

Nah, di Bandung ada sejumlah tempat surabi yang katanya enak. Dua diantaranya ada di Cihapit  -dan dikenal dengan nama “surabi Cihapit,”  dan satunya lagi di Jalan Setiabudi, jalan arah Lembang.

Yang di Setiabudi ini namanya Dapoer Ndeso  -nama warungnya yang lebih pas disebut “cafe.” Dulu saya pernah ke sini waktu menginap di sebuah hotel yang letaknya sekitar 20 meter dari tempat ini. Saat itu saya penasaran, kok ada café rame. Saya mampir, dan masuk. Ternyata warung serabi….

Kemarin itu, malam-malam, kami mencari-cari  serabi Cihapit itu. Sesuai namanya, letaknya memang di Jalan Cihapit, dekat kawasan Jalan Riau  -jalan yang dikenal sebagai “jalan factory outlet” lantaran di sinilah pertamakali  bertumbuhan  factory outlet sebelum kemudian menjamur ke mana-mana.

Dari jalan Riau, Jalan Cihapit ini kemudian berbelok ke kanan dan ke kiri. Saya ambil yang kiri, ternyata keliru. “Yang jualan surabi yang jalan arah ke kanan itu,” ujar seorang pria yang sedang asyik nonton TV yang menyiarkan pertandingan sepakbola antara Persib dengan kesebelasan dari Kalimantan. “Namanya surabi tradisional,” katanya lagi.

Wah berarti memang terkenal. Buktinya dia juga tahu.

Saya balik arah, dan akhirnya ketemu juga. Ya, sekitar 100 meter jika kita belok kanan dari arah Jalan Riau. Ternyata hanya gerobak saja, dan satu bangku. Ini gerobaknya yang saya foto malam-malam. Benar, nama aslinya “Surabi Tradisional.”

20150926_193529

Tiga pria muda yang melayani pembeli  surabi Cihapit ini. “Kalau pagi sampai antri,” katanya. Berbagai macam “toping” ditawarkan sebagai “atasan”  dan “campuran” surabi ini. Saya hitung lebih dari 13 varian…..Busyet. Ada surabi oncom, surabi keju,  surabi susu, surabi daging ayam dll. “Ada surabi jengkol?” saya bertanya. Penjualnya ketawa…..

Pemiliknya ternyata orang dari Medan. Dia sudah 20 tahun berdagang surabi. Cara memasaknya tidak di atas tungku dan adonan surabi dimasukkan dalam tempat yang terbuat dari tanahliat (tembikar),  tapi di atas sebuah tempat dari semacam lempengan besi yang sudah dibuat berbentuk cetakan serabi yang kemudian dihubungkan dengan tabung gas.

20150926_191202

Ya, surabi ini dimasak dengan kompor gas. Praktis memang. Harganya rata-rata sekitar Rp 6.500. Saya membeli surabi oncom, yang, menurut penjualnya,  paling disukai pembeli.

Saat pulang iseng-iseng saya bilang, beli oncomnya lima ribu, eh ternyata ditanggapi serius. Dibungkusi oncom dalam sebuah kertas pembungkus. Di hotel oncom itu saya jadikan teman makan nasi goreng tenyata memang enak.

Malam itu, kami juga mendatangi lagi Serabi Dapoer Ndeso itu. Harus pekan-pelan karena jalan Setiabudi menuju Lembang ini jika sabtu, pasti macet-cet. Tapi, demi menemui si surabi,  ya apa boleh buat.

Setelah putar arah dan parkir di pinggir jalan, kami masuk ke café surabi ini. Penuh sesak.  Berbeda dengan di Cihapit, serabi di sini dimasak memakai  arang dan tempat memasaknya dari tanah liat. Asap ke mana-mana.

20150926_203629

Saya duduk persis berhadapan dengan sejumlah pria yang bertugas memasak surabi itu. Saya hitung lebih dari 8 karyawan di dalam café ini. Meja-meja penuh. Puluhan motor berjejer di depan warung ini.

Cafe Dapoer Ndeso

Cafe Dapoer Ndeso

Di sini juga beraneka ragam variannya. Cuma harganya memang “harga gaul.”  Dari Rp 5 ribu sampai ada juga yang di atas Rp 12.000.  Jadi, lebih mahal  ketimbang di Cihapit. Pembelinya, ada yang datang dengan keluarga, ada yang sendirian, ada juga yang berpasangan.  Jumlah variannya juga tak kalah dengan yang di Cihapit. Di dalam cafe ini ada panggung kecil.

Sambil duduk di kursi kami mendiskusikan rasa surabi Setiabudi dan Cihapit ini. Kesimpulannya surabi Setiabudi terkesan lebih kenyal, sedang  di Cihapit lebih lembut. Surabi setiabudi lebih tebal, sedang Cihapit lebih tipis.

Saya bukan penggemar berat surabi. Tapi, saya merasa surabi di Cihapit lebih enak dan wangi ketimbang surabi di Setiabudi ini.

Waktu pulang menuju hotel, saya teringat perkataan salah seorang karyawan surabi Cihapit yang menyebut, tepung yang mereka pakai surabi itu ditumbuk dan bikinan sendiri bosnya. Saya berpikir, mungkin itu salah satu rahasia surabi Cihapit…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s