Mengenang Kawan yang Pulang Terlalu Cepat

Tak ada firasat apa pun ketika saya, malam, Senin lalu itu menyusuri  lorong sekitar sepanjang 75 meter menuju jembatan penyeberangan Stasiun Palmerah. Jam menunjukkan sekitar setengah  sembilan lebih. Saya pulang lebih cepat karena ada sesuatu yang mesti dikerjakan di rumah.

Ini jalan yang biasa kami, para karyawan Tempo  pengguna kereta,  gunakan jika menuju atau pulang kantor. Sepotong jalan yang kiri kanannya penuh berbagai macam toko kelontong,  penjual gorengan, penjual pisang,  warteg, hingga daging bebek.  Jalan pintas para pengguna kereta menuju Jalan Palmerah Barat. Dari sini, kami kemudian bisa naik angkot ke kantor.

Juga tak ada firasat sedikit pun ketika saya melihat beberapa orang bergerombol dan lamat-lamat saya mendengar mereka membicarakan ada orang ditabrak kereta. “Di sebelah sana,” saya melihat seseorang menudingkan tangannya ke selatan.

Saya bergegas berjalan, bukan untuk mencari tahu, tapi karena tak ingin ketinggalan kereta. Menyeberangi jembatan, tiba di lantai dua Stasiun Palmerah –sebelum kemudian turun menuju peron- saya berhenti sejenak. Dari atas stasiun saya melihat sekitar tiga petugas kereta tengah membawa sesuatu yang dibungkus koran. Beberapa diantaranya memakai kaos tangan, dan masker. Dari jauh saya melihat beberapa lembar koran  digeletakan seperti menutup sesuatu. Jarak mereka sekitar 50-an meter dari ujung peron. Stasiun sudah sepi. Saya tak melihat ada teman Tempo yang lain  -yang biasa saya jumpai  jika pulang kerja. Selintas saya ingat pembicaraan di jalan kecil yang saya lalui tadi.  Jadi, ini kecelakaan yang mereka maksud itu.

Saya bergegas turun ke peron ketika kereta saya, jurusan Stasiun  Tanahabang, datang.  Palmerah-Tanahabang tak lebih dari 15 menit. Tidak melewati satu stasiun apa pun. Dari Tanahabang saya akan berganti kereta menuju Bogor.  Di Tanahabang saya bertemu dengan teman kantor, Ngarto Februana dan Bagja Hidayat. Rupanya keduanya tidak naik kereta dari Palmerah, tapi  naik angkot langsung dari depan kantor hingga Stasiun Tanahabang. Sejumlah teman, karena “mengejar” kereta biasanya memang memilih naik dari angkot langsung ke Stasiun Tanahabang. Ongkosnya Rp 5000, lebih mahal dua ribu dibanding jika  turun di Pasar Palmerah dan kemudian dilanjutkan ke Stasiun Palmerah itu.

Kepada keduanya, saya bercerita perihal “ada orang ditabrak”  kereta tadi. Bercerita selintas saja karena Ngarto kemudian bercerita lebih banyak tentang  pengalamannya mengabadikan sejumlah peristiwa kecelakaan kereta yang pernah dia lihat. Kami, seperti biasanya, saling menimpali, juga saling tertawa. Pembicaraan ngalor ngidul itu baru terhenti kala kereta kami, jurusan Bogor datang. Kami berlompatan, berlomba dengan penumpang lain, untuk mendapat tempat duduk…

TIBA di rumah dengan tubuh letih dan mata mengantuk sekitar pukul 24.00, saya terkejut kala mendapati sebuah pesan masuk ke WA saya. Pengirimnya Agus Darmawan  –teman satu kantor.  Ia menulis bahwa Rina, istri Komkom, resah karena suaminya belum pulang. Komkom –nama lengkapnya Raja Komkom Siregar-  adalah karyawan Tempo. Ia tinggal satu RT dengan Ngarto. Ada pun Agus satu wilayah dengan keduanya. Mereka sama-sama tinggal di Citayam, desa  yang berimpitan dengan Kota Depok. Rina mengenal Agus  karena Rina sebelumnya  pernah bekerja di Tempo.

Saya tidak tahu kenapa Agus mengirim pesan kesaya. Saya menduga, mungkin ia telah berkomunikasi dengan Ngarto dan Ngarto bercerita perihal kecelakaan yang saya sampaikan di stasiun. Beberapa saat kemudian, seorang teman lama, Fajar, menelepon saya. “Cak apa benar tadi melihat ada orang kecelakaan? Ciri-cirinya bagaimana?” katanya.

Fajar tinggal dekat Komkom. Rumah mereka, kalau tidak salah, hanya berselang satu rumah. Saya jawab, memang benar saya melihat seperti ada orang kecelakaan di dekat stasiun  Palmerah. Tapi saya tidak tahu persis apa yang terjadi.  Ia kemudian bercerita perihal  Komkom yang belum pulang.

Saya mulai tidak enak. Lewat WA saya minta teman-teman untuk mencari informasi ke Polsek Palmerah atau Stasiun Palmerah. Agus Dermawan kemudian memberitahu bahwa Komkom memakai baju biru. Informasi itu disampaikan Handy  Dharmawan, atasan Komkom. Senin itu Wawan, demikian kami memanggilnya, sempat berbincang dengan Komkom sebelum kemudian Komkom pulang sekitar pukul 18.00.

Saya kemudian menelepon juru bicara Commuterline Eva Chairunissa. Saya berpikir, mestinya Eva memiliki informasi tentang kecelakaan kereta di wilayahnya. Tidak diangkat.  Saya mencari nomor telepon Polsek Tanahabang di internet –karena kecelakaan yang terjadi di Palmerah menurut sejumlah teman  -yang sudah saling sahut menyahut di WA-  tidak ketemu.

Saya kemudian menelepon beberapa kantor polisi yang tertera di kartu nama narasumber polisi yang saya miliki.  Juga tidak diangkat. Barulah ketika saya menelpon nomor polisi Polres Jakarta Pusat, di ujung sana seseorang mengangkat.  Ia memberi sebuah nomor dan kemudian segera saya hubungi nomor itu.

Di ujung telepon, seseorang yang mengaku petugas jaga Polsek Tanahabang mengangkat. Saya katakan, saya dari Tempo dan meminta informasi tentang kecelakaan yang terjadi di Palmerah. “Ini teman-teman bapak masih di dalam, sedang bertanya juga,” katanya juga. “Identitas korban ada?” saya bertanya. “Tidak ada, tidak ditemukan,” katanya. “Ciri-cirinya Pak, bajunya,”  saya bertanya lagi.  “Baju biru, celana jeans,” katanya. Saya menutup telepon. Saya merasa…. Sekitar sepuluh menit telepon berdering. “Tas Komkom ditemukan cak,” kata Fajar. Saya masuk kamar dan berbaring.  Tak lama kemudian hp saya berdering lagi. Saya melompat, keluar kamar mengambil hp saya. Istri saya yang terbangun, ikut-ikutan keluar. “Benar Cak, itu Komkom, kakaknya sekarang di RSCM,” di ujung terdengar suara Fajar. Itu dini hari sekitar pukul 01.10.  Yang saya cemaskan kini menjadi kenyataan.  Inalillahi wainalilahi rojiun. Komkom, teman kami itu, sudah meninggal. Ia “pulang”  lebih dulu dari kami.

20151209_164032

***

Selasa kemarin kami memakamkan Komkom setelah sebelumnya mensholatkannya di mushala dekat rumahnya di Jalan Mirah, Permata Depok. Kuburannya, yang terletak tak jauh dari komplek rumahnya, berada  di sebuah bukit yang di bawahnya mengalir sungai Ciliwung. Tenang dan teduh. Tamu yang melayat banyak, juga dari teman-temannya di Tempo. Istrinya berjalan didampingi anak lelakinya yang kini duduk di klas III SD. Adapun anak perempuannya digendong seorang wanita  –mungkin keluarganya.

20151208_120911

Mas Bambang Harymurti (BHM)  mewakili Tempo memberi sambutan. “Dia karyawan yang baik, kita semua kehilangan dia, ” demikian antara lain yang saya dengar.

Saat pemakaman sejumlah kenangan bersama Komkom seperti melintas pelan-pelan. Bertahun-tahun saat kami masih berkantor di Kebayoran Lama (belum pindah ke kantor sekarang di Palmerah), saya kerap pulang bersama dia. Bahkan kami  kerap pulang rame-rame dengan teman-teman lain yang sama-sama ke arah Bogor. Pulang rame-rame ini yang membuat saya kemudian membuat grup WA bernama “Roker Tempo.”   Roker,  kependekan  “rombongan kereta.” Anggotanya para karyawan Tempo pengguna kereta.

Saat pulang bersama-sama itu (ft: Irfan Budiman)

Saat pulang bersama-sama itu (foto: Irfan Budiman)

Saat pulang berdua biasanya kami saling bercerita apa saja. Jika sudah kelelahan bercerita, saya memilih tidur sedang Komkom  selalu mengamati gadgetnya. Belakangan saya tahu, rupanya ia sedang bekerja, mengamati penampilan fitur Tempo.co yang menjadi tanggung jawabnya.

Suatu ketika, di Stasiun Kebayoran Lama –saat menunggu kereta menuju Tanahabang–  saya bercerita tentang novel Laskar Pelangi karangan Andrea Hirata. Komkom menyahut cepat. “Di kampung saya juga banyak seperti itu,” katanya.  Ia bercerita tentang kampungnya di Padangsidempuan. “Kalau ada mobil datang kami lari-lari menyambutnya dan mengantarnnya pergi, ” katanya menggambarkan, mungkin, demikian terpencilnya kampungnya dan demikian suka ria anak-anak di sana jika melihat mobil.

Saya tidak tahu itu benar atau tidak. Tapi, tentang kegigihan, setidaknya dirinya, saya percaya. Ia bercerita ketika lulus SMA ia bertekad masuk ITB. Jelas bukan hal mudah buat anak dari  kampung seperti dia  menembus institut yang dikenal paling “gila-gilaan” persaingan masuknya itu. Ia belajar mati-matian untuk bisa lolos. “Setiap hari latihan mengerjakan soal,” katanya.

Kerja kerasnya berhasil. Tes di Sumatera Utara, Komkom  diterima di Jurusan  Geofisika  ITB. “Ini istilahnya BTL, batak tembak langsung,” katanya saat itu dengan tertawa.  Ia menyusul dua kakaknya yang sebelumnya juga  kuliah di ITB.  Salah satu kakaknya kemudian menjadi dosen di ITB. Di ITB Komkom senang berkutat di laboratorium komputer, sesuatu yang membuat dia menguasai bidang itu  dan terjun ke dunia IT.

Suatu ketika saya melihat Komkom membawa  bungkusan. “Apa itu?” kata saya. Dia tertawa. “Bisnis isteri,” ujarnya. Ia bercerita istrinya kini berbisnis baju-baju muslim secara online. Pembelinya dari mana-mana. “Ada juga dari Thailand, lumayanlah,” katanya sumringah. Ia kemudian mencatatkan ke buku saya facebook toko online istrinya itu: Abidjar Giffari Siregar. Karena itulah jika kami sama-sama berangkat ke kantor, dan dia membawa bungkusan lalu turun di Stasiun Sudirman, tidak ikut ke Tanahabang,  saya mahfum. Komkom akan ke JNE atau jasa pengiriman dulu untuk mengirim barang pesanan pembeli toko online istrinya.

PULANG dari pemakaman Komkom, setelan pamitan dengan Rina, dengan kereta, saya meluncur ke Tanahabang dan kemudian Stasiun Palmerah. Di Stasiun Palmerah saya mencari-cari siapa pun yang pernah melihat Komkom di hari-hari terakhirnya.   Saya bertemu dengan tukang pel yang melihat Komkom berada di Peron Dua (jurusan Tanahabang) dan juga menemui Kepala Stasiunnya di ruang kerjanya di lantai dua. Pak Okky, demikian nama Kepala Stasiun Besar Palmerah ini, terkejut waktu saya katakana  Komkom karyawan Tempo. “Saya ikut berduka cita,” katanya. Ia menyalami saya.

Pak Okky bercerita saat peristiwa itu ia berada di ruang kerjanya. “Saya pulang jam sepuluh malam, sekitar jam delapan hingga sembilan sejumlah polisi ke sini memeriksa sepanjang rel di stasiun ini,” katanya. Ia tidak turun ke lokasi kejadian. Anak buahnya mengirimkan sejumlah foto-foto peristiwa itu. Pak Okky membuka HP-nya dan memperlihatkan foto-foto di dalamnya. Saya menghitungnya. Ada lebih dari sepuluh foto. “Terimakasih, cukup,” kata saya. Ia kemudian menunjuk foto lain. Kali ini sebuah gundukan dan terlihat di dekatnya seorang marinir berdiri. “Ini foto tadi pagi, sejumlah barang atau benda yang berkaitan dengan almarhum kami makamkan di ujung peron, dekat wessel,” katanya. Dari Pak Okky saya mendapat nama masinis kereta, nomor kereta, dan petugas keamanan yang sempat berbicara terakhir kalinya dengan Komkom. Malam harinya saya menemui petugas itu.

*

RABU  petang kemarin, selepas magrib, membawa dua bungkus kembang mawar,melati, dan kenanga, saya mendatangi Stasiun Palmerah. Di sana saya mencari-cari Kusno, pegawai pemeriksa rel yang bersama beberapa marinir, Selasa pagi, menemukan serpihan –mungkin bagian tubuh Komkom- dan memakamkannya di ujung rel.

Hari sudah surup ketika saya diantar pemuda berkacama itu melintasi rel, berjalan ke tempat paling ujung peron arah Kebayoran Lama dan kemudian melompat ke bawah. Ada gundukan tanah yang sudah agak rata dengan  batu sebagai penandanya. Kusno bercerita, ia juga menemukan potongan-potongan celana dan juga potongan rambut. “Saya membungkus  semua yang kami temukan itu dengan kain putih,” katanya. “Kalau keluarga nanti mau ambil, tinggal bilang kepada Kepala Stasiun,” katanya.

20151209_184301 (1)

Saya menaburkan bunga di sana, juga melakukan hal yang sama di sepanjang rel yang menurut Kusno tempat ditemukannya Komkom. Hari sudah gelap. Sebelum pulang saya berdoa di tempat itu, semoga arwah Komkom tenang di sana. Semoga ia tahu, teman-temannya di Tempo begitu mencintainya…

 

 

7 thoughts on “Mengenang Kawan yang Pulang Terlalu Cepat

  1. Temas sekelasku yg senang sekali dengan pelajaran fisika. Orangnya sederhana sekali. god bless you friend. Allohummaghfirlahu warhamhu…

  2. Innalillahi wa innailaihi rojiun..turut berduka cita..semoga alm.khusnul khotimah dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan kesabaran..Aamiin..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s