Rawon di Rumah Makan Handayani Jakarta

Nama restoran  ini Handayani Prima. Dari namanya kita bisa menerka, ini rumah makan dengan menu makanan Jawa.  Letaknya di Jalan Matraman Raya No. 45, Jakarta Pusat, di seberang  toko buku Gramedia.

Sabtu kemarin saya diajak ke rumah makan ini oleh senior saya di Mermounc (Merbabu Mountaineer Club), Pak Imam Tjahjadi, untuk makan di tempat ini. Ini ajakan kesekian yang disampaikan beliau untuk, demikian katanya, “memperingati” rampungnya buku “50 Tahun Jejak Langkah  Mermounc” yang kami susun. “Ngajak kamu sulit sekali sih,” kata Pak Imam di ujung telepon beberapa hari sebelumnya.

20160206_163151

Tentu bukan saya menolak ajakannya. Siapa sih yang menolak jika diajak makan-makan enak.  Hanya karena  mengajaknya hari kerja,  saya  ragu bisa menempati janji. Bisa saja tiba-tiba ada rapat, atau jalanan macet.  Kalau sudah begini, tentu saya akan mengecewakan beliau.

Karena itu saya minta hari Sabtu. Satu lagi yang diajak adalah teman saya, Eko. Karena  Eko pukul 20.00 punya acara rutin, jualan “kopi rakyat,” maka disepakati bertemu di RM Handayani pukul 16.00. Pak Imam yang memilihkan restoran ini. Saya sendiri  tidak pernah ke restoran ini. “Itu restoran terkenal,” kata istri saya setelah sebelumnya terheran-heran melihat saya sabtu-sabtu  bersiap pergi ke Jakarta.

Pukul 16.00 saya sudah di depan restoran ini. Celingukan. Restoran itu tidak buka! Tulisan “Tutup” tergantung di daun pintunya.   Pagar setinggi  hampir dua meter  melintang di depan restoran. Saya agak panik. Jangan-jangan Pak Imam tidak tahu kalau hari ini restoran tutup. Bayangan makan enak  tiba-tiba lenyap.  Kalau tutup, ya lebih baik pulang.

Pak Imam belum muncul. Saya kemudian menelpon dia, saya mau  kasih kabar buruk,  acara makan-makan ini dibatalkan saja.

“Tutup Pak…” kata saya, waktu beliau, dengan suara khasnya  bertanya di mana saya.

“Oh iya, istirahat, nanti jam lima buka lagi,” katanya santai.  “Masuk saja, dorong pintunya, tunggu di dalam…” katanya lagi dengan nada seperti pemilik restorannya

Lho? Jadi restoran ini tidak tutup? Hanya istirahat?

Dan memang benar.  Lewat pagar yang terbuka sedikit, saya mendorong pintu restoran yang tertutup. Seorang pelayan sedang membersih-bersihkan meja. Tidak bertanya apa pun curiga terhadap kehadiran saya. Mungkin dia sudah terbiasa dengan tamu-tamu yang datang “kepetangan” ini.

Menurut dia, restoran ini buka setiap hari, dari jam delapan sampai 10 malam. Hanya setiap hari itu ada jam tutup –untuk istirahat karyawan–  dari pukul 15.00- 17.00. Karena restoran sepi, saya jalan-jalan di  dalam restoran itu. Meja-mejanya besar, ada panggung untuk orang bermain organ dan menyanyi. Restoran ini terdiri dari dua lantai. Dari sisi luas, lantai bawah lebih luas.

***

Rumah makan Handayani Prim , berdiri pada 1987. Menu yang tersedia kebanyakan adalah menu masakan Jawa  dan Sunda. Restoran ini cukup terkenal di kalangan para pejabat atau petinggi Jakarta  terutama, tentu saja,  mereka yang berasal dari Jawa. Ini restoran keluarga. Karena itu kerap dipakai untuk acara keluarga, seperti ulang tahun dan sebagainya. Restoran ini memiliki 55 karyawan dan mereka berseragam batik.

20160206_163030

Di sebuah dindingnya saya memang melihat foto-foto sejumlah pejabat negara. Foto SBY terlihat mencolok berada di antara foto-foto lain. “Beberapa waktu lalu Presiden Jokowi  juga ke sini, tapi pengawal-pengawalnya melarang untuk difoto,” kata seorang karyawan.

20160206_163000

 

Pukul 17.00 restoran dibuka.  Saya, Pak Imam, dan Eko (dua orang ini datang setengah jam sebelum restoran dibuka)  memilih duduk di lantai satu yang ternyata sudah diboking orang. “Jangan khawatir, jam enam kami sudah selesai,” kata Pak Imam dengan gagah saat seorang pelayanan mengingatkan  meja yang kami duduki  sudah diboking orang.

Saya dan Pak Imam memilih rawon, sate ayam, sate kambing, tahu telor dan  es kelapa. Eko memilih kerang yang ternyata kuahnya bisa juga untuk dihirup.

20160206_174548

Saya bukan kuliner sejati. Bagi saya, apalagi kalau perut lapar, semua makanan adalah nikmat.  Tapi sebagai penggemar berat rawon saya menilai daging rawon yang cukup besar itu empuk –bahkan terlalu empuk. Cocok buat orang yang giginya tidak kuat menggigit yang keras-keras atau agak ompong.

Nasi rawon RM Handayani

Nasi rawon RM Handayani

Pukul 18 lewat sedikit acara makan kami selesai. Pak Imam, karena tidak membawa mobil, diantar Eko. Saya menumpang mobil Eko dan turun di Stasiun Jatinegara. Dari sini saya akan naik kereta ke Stasiun Manggarai dan kemudian pindah kereta menuju Bogor.

Saya melambaikan tangan, mengucapkan terimakasih kepada Pak Imam.  Ini bukan ajakan terakhir. Tadi, di restoran Pak Imam sudah punya ancang-ancang lain. “Kapan-kapan nanti kita makan di restoran enak dekat Halim,” katanya. “Tapi restoran itu bukanya hanya hari Rabu, bisakan Bas?”  Nah, lo….

3 thoughts on “Rawon di Rumah Makan Handayani Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s