Cerita Gerhana Matahari Total dari Palangkaraya

Rabu kemarin Palangkaraya benar-benar meriah. Kota yang biasanya sepi ini tiba-tiba semarak. Ribuan orang mengalir masuk “kota cantik” ini. Kota cantik, demikian sebutan ibu kota Kalimantan Tengah tersebuti. Saya sendiri tidak tahu apa yang cantik di kota ini dan sejak kapan –dan siapa- yang menganugerahi sebutan itu. Puluhan tahun silam, waktu saya sekolah di SD dan SMP di sini, kota ini mempunyai julukan “kota pasir,” bukan “kota cantik.”  Itu  karena memang tanahnya berpasir. Di mana-mana, juga sampai sekarang, jika kita berjalan, pasir-pasir putih akan menempel di sandal atau sepatu kita. Kalau sekarang namanya jadi “kota cantik,” ya sudahlah. Anggap saja memang cantik.  Cantik itu bukankah relatif?

20160309_082733

Ribuan orang masuk Palangkaraya karena, apalagi, kalau bukan ingin melihat “gerhana matahari total.” Mungkin, dalam sejarah,  baru inilah kota Palangkaraya diserbu “wisatawan” demikian banyak. Maskapai Lion dan Garuda sepanjang Senin dan Selasa kemarin full berisi  para wisatawan yang datang dengan satu tujuan: melihat gerhana.  Mereka yang tinggal di Banjarmasin, Kuala Kapuas, atau kota-kota sekitar Palangkaraya datang ke Palangkaraya dengan naik mobil yang berisi penuh  sanak saudara mereka. Hotel-hotel, terutama di dekat pusat kota penuh. Sejak Selasa sejumlah orang terlihat sibuk memasang tenda di depan rumah jabatan gubernur yang menghadap Bundaran Besar (inilah “pusat” dari Palangkaraya) dan Lapangan Sanaman Mantikei. Di dua tempat ini akan digelar festival, pameran, memeriahkan “acara” gerhana. Tentu, maksud lainnya, agar para turis mancanegara atau para tamu dari seberang laut mendapat hiburan lain –dan ada yang ditonton-  selain “memburu”  gerhana matahari total yang tak lebih dari 3 menit itu.

*

Saya mendarat di Bandara Panarung, Palangkaraya, Senin, 7 Maret,  sekitar  pukul sembilan malam. Jauh hari saya sudah merencanakan pulang ke Palangkaraya. Tujuannya, pertama melihat rumah dan kebun –yang sukses ikut terbakar dalam tragedi kebakaran hutan beberapa waktu  lalu dan kini “subur” ditumbuhi ilalang—kedua reuni dengan teman-teman SMP Katolik, tempat dulu saya sekolah di ‘kota pasir’ ini. “Awas amun kadak datang… Ikam sendiri  kalok yang punya ide reuni pas gerhana,” (awas kalau tidak datang. Kamu sendiri kan yang mempunyai ide reuni pas gerhana, ” kata seorang teman perempuan di grup WA dalam bahasa Banjar, bahasa “internasional” Kalimantan dengan nada mengancam. Bahasa Banjar memang  banyak digunakan di Kalteng, Kalsel, dan Kaltim sebagai sarana komunikasi.

Di Bandara saya disambut kakak dan adik ipar saya. “Naik odong-odong ya,” katanya tertawa sembari menunjuk motor bebek. Naik motor di Palangkaraya adalah sebuah kenikmatan. Itu karena jalan-jalan di sana rata-rata beraspal mulus dan sepi. Beberapa ruas jalan,  bahkan kiri kanannya masih hutan atau selokan-selokan besar yang masih menyemburkan bau tanah gambut yang segar. Kalau pulang ke Palangkaraya, yang belum tentu dua atau tiga tahun sekali itu, saya selalu menyempatkan diri sehari atau dua hari keliling-keliling naik motor.  Jarak Bandara ke rumah  tak lebih  setengah jam. Sebelum pulang, saya mengajak para penjemput saya makan mie goreng di pusat jajanan Palangkaraya di kawasan Jalan Yos Sudarso.

*

Rumah kami di Desa Bukit Hindu. Seperti namanya, salah satu perintis pembuka daerah ini adalah para orang Bali. Orang Bali memang banyak di sini. Dulu waktu saya kecil, kiri kanan, muka belakang rumah kami dihuni “om-om dan tante-tante” dari  Bali. Jika hari Galungan atau hari raya keagamaan Hindu lainnya, kami kerap dikirimi “om-om dan tanten orang Bali”  aneka makanan khas Bali. Orang Bali adalah pemasak handal, itulah kesan saya sampai kini

Di depan rumah saya dulu ada asrama polisi yang penghuninya  hampir semuanya orang Bali  -kini asrama itu sudah berganti menjadi markas Brimob. Setelah dewasa, saya berpendapat, banyaknya  orang Bali dikirim ke Palangkaraya bukan tanpa alasan. Mungkin karena orang Dayak juga beragama Hindu Kaharingan maka  orang Bali yang dianggap pas “masuk” ke Palangkaraya.  Orde Baru memang memasukkan agama Kaharingan ke “golongan agaman Hindu” walau sebenarnya tak pas. Di Bukit Hindu  ada pura yang terhitung bagus. Seorang teman bercerita, jumlah orang Bali kini semakin banyak dibanding berbelas tahun silam. Ia tak bisa menyebut jumlahnya. Tapi, saya senang mendengarnya, karena, artinya pura yang sejak saya kecil sudah berdiri itu akan terus “hidup.”

Pura di Bukit Hindu

Pura di Bukit Hindu

Selasa kemarin, seperti halnya di Bali  jika menyambut Hari Nyepi,  juga ada pawai ogoh-ogoh. Bagi saya adanya ogoh-ogoh di Palangkaraya merupakan hal baru karena waktu saya SD dan SMP pawai ogoh-ogoh  belum ada. Dari rumah  bunyi gamelan khas Bali sudah terdengar berdentum-dentum. “Cepat, itu sudah mulai,” kata kakak saya. Menenteng tab saya berlari ke pura yang jaraknya sekitar 300 meter dari rumah. Jalanan sudah penuh dengan orang yang menonton. Ini foto-foto “ogoh-ogoh van Bukit Hindu,” itu.

20160308_180105

 

20160308_180446

20160308_180337

 

*

Rabu pukul 05.00 Palangkaraya diguyur hujan lebat. Sehari sebelumnya seorang teman sudah “meramal.” “Kalau hari panas sekali, besok pasti hujan,” katanya yakin. Jika ini terjadi gawat,  fenomena alam yang, menurut para pakar astronomi, baru akan terjadi di “langit Palangkaraya” 350 tahun lagi itu tak bakal bisa kami lihat.

Alhamdulilah, pukul 06.00 hujan mulai reda. Berkendara sepeda motor saya ngebut ke SDN Menteng di Jalan Thamrin, tempat saya akan melihat sejumlah mahasiswa ITB  membimbing anak-anak SD ‘menikmati’ gerhana.  Di Bundaran besar saya dicegat empat polisi. Daerah ini rupanya sudah disterilkan lantaran akan dipakai para pejabat –dan tamu undangan, dan warga Palangkaraya- menonton gerhana. “Kendaraan tidak boleh lewat,” kata seorang polisi sembari menyuruh  memutar balik. Waduh, ini artinya saya akan menempuh jarak lebih  jauh untuk ke SD Menteng. Saya berpikir untuk mencari-cari alasan supaya bisa lewat di jalan  yang dijaga para polisi itu. “Dia baru datang dari Jakarta Pak, nggak tahu jalan,” kata kakak saya, yang berada di boncengan belakang  tiba-tiba –entah dari mana dia dapat ide alasan seperti itu.

Polisi itu memandang saya. “Baiklah, tapi sepeda motornya dituntun,” katanya ramah. Saya menuntun tak lebih seratus meter sebelum kemudian menuju Jalan Yos Sudarso, lalu ke Jalan Thamrin, lokasi SDN Menteng

SD itu sudah ramai. Suara speaker terdengar keras melantunkan  lagu-lagu tradisonal Dayak yang diiringi alat musik khas Dayak semacam kecapi. Puluhan anak-anak dengan baju rapi terlihat membawa kacamata gerhana.  SDN Menteng dijadikan pilihan  mahasiswa astronomi ITB dan mereka yang tergabung dalam Toasti (Tim Olimpiade Astronomi Indonesia) mensosialisasikan  “apa itu gerhana matahari total” untuk anak-anak SD di Palangkaraya. Dari tempat ini pula mereka akan melihat gerhana. Kedatangan para mahasiswa tersebut dikoordinasi  Intan Ophelia Merintan, seorang perempuan Dayak yang memilliki banyak profesi: ya sutradara, astrolog, juga novelis. Pada 16 Maret ini, di Palangkaraya, Intan juga meluncurkan novelnya, “Cahaya dari Utara –kisah Aurora, novel tentang anak Dayak yang mencintai dunia astronomi. Intan juga yang mendatangkan pakar astronomi ITB, Prof. Bambang Hidayat berceramah di SD ini sekaligus menonton gerhana matahari di Palangkaraya. Saya kenal Intan sejak dua tahun lalu, dikenalkan teman SMP.

Mendapat arahan dari Kepala Sekolah SDN Menteng, Erna Watie

Mendapat arahan dari Kepala Sekolah SDN Menteng, Erna Watie

Tapi di mana sang profesor legendaris ini? “Dia tidak melihat gerhana di sini, dia melihat dari SPBU dekat Jembatan Kahayan,” kata seorang perempuan yang saya tanya. Saya kaget mendengar jawabannya. Kalau profesor sekaliber Bambang, yang merupakan orang paling ahli se Indonesia dalam hal astronomi, memilih melihat gerhana dari dekat Jembatan Kahayan,  pasti dia memiliki alasan tertentu. Saya segera mengambil motor saya, ngebut membelah gerimis kecil menuju SPBU. Jalanan sudah mulai ramai dengan mereka yang menuju “titik-titik” tempat  acara “nonton bersama gerhana” digelar.

Di sebuah tanah lapang dekat jembatan saya melihat seorang pria berambut putih dengan dua pemuda berdiri di dekat kamera yang berdiri di atas tripod. Dari lapangan ini, terlihat jembatan Kahayan yang gagah dan cantik. Di atas jembatan sudah menyemut orang menunggu gerhana matahari. Saya mendekati tiga orang itu. Tapi, kok….saya mendengar lamat-lamat mereka berbahasa Dayak Ngaju. Masak Bambang Hidayat dalam sehari bisa mahir berbahasa Dayak?  Saya sendiri belum pernah bertemu Prof. Bambang Hidayat, hanya selintas pernah lihat foto-fotonya.

“Mana ya  profesor Bambang Hidayat?” kata saya kepada salah seorang pemuda itu. Ia berbalik badan. “Itu mungkin,” katanya menuding seseorang. “Yang pakai payung,” katanya lagi.  Sekitar 200 meteran, di areal SPBU, saya melihat seorang pria berpayung membungkuk-bungkuk memasang sesuatu –yang ternyata kemudian kamera. Saya mendatangi. Bajunya rapi, dimasukkan, rambutnya putih, wajahnya segar dan terlihat “wajah orang pintar.” Saya mendekat. “Pak Bambang, saya Baskoro,” kata saya  menyapa.

Pria itu menoleh, lalu senyumnya mengembang. “Hei, saya sudah dengar namamu dari Intan, wartawan Tempo ya, ” katanya sembari menyalami saya. Saya amati badannnya. Dalam usia 80 tahun Prof. Bambang terlihat masih gagah –juga ganteng. “Ini cucu saya,” katanya mengenalkan dua cucunya –satu lelaki masih SD dan perempuan yang kini kelas 3 SMA. “Kami datang berempat,” katanya lagi sambil menunjuk putranya yang kini menjabat salah satu direktur di BPPT. “Bambang Harymurti  juga ke Palangkaraya? katanya menanyakan bos saya, BHM –demikian panggilannya- CEO PT Inti Media yang juga bekas Pemimpin Redaksi Majalah Tempo.

“Nggak Pak, mungkin dia melihat gerhana di Jakarta,” kata saya lagi. “Dulu saya mentor dia waktu dia terpilih menjadi salah satu calon astronot dari Indonesia,” kata Bambang Hidayat. Bersama dua  lainnya, salah satunya Pratiwi Sudarmono, saat masih reporter Tempo,  Bambang Harymurti  terpilih, dari ratusan calon, sebagai  kandidat astronot yang akan  diterbangkan NASA  ke luar Angkasa.  Tapi program ini  gagal menyusul meledaknya pesawat ulangalik AS Challenger.

Pak Bambang menunjuk jembatan Kahayan. “Ini ikon Palangkaraya, jadi nanti kalau memfoto gerhana ikon itu harus masuk,” katanya. https://tekno.tempo.co/read/news/2016/03/09/061752091/begini-cara-unik-profesor-astronomi-itb-berburu-gerhana

20160309_075530

20160309_075305

20160309_075454

Berfoto di tengah gerimis bersama Profesor Bambang Hidayat

Berfoto di tengah gerimis bersama Profesor Bambang Hidayat

Ia lalu bercerita soal kepanikannya yang baru ia alami. “Tadi saya kaget waktu tidak bisa melihat matahari itu, ternyata saya salah pakai, yang saya pakai kacamata baca, hehehe,” katanya terkekeh. Pak Bambang kemudian bercerita lagi  perihal pengalamannya saat Indonesia mengalami gerhana pada 1983. “Dulu Pak Harto melarang itu ada benarnya, takut kalau ada yang buta jika melihat langsung. Hanya ia memakai cara gampang, pokoknya dilarang,” katanya. “Pak Harto sendiri saat gerhana ada di Solo, mungkin ia nonton dari sana,” kata Pak Bambang lagi sembari tertawa.

Pada 1983  Bambang Hidayat melihat gerhana dari Cepu bersama Adam Malik. Di sana berkumpul para peneliti dari berbagai dunia. Menuju ke sana, menurut dia, juga tak mudah. “Mobil saya sempat dilarang masuk tentara, tapi setelah tahu kami peneliti diijinkan jalan,” katanya

Pukul 07.26 gerhana Matahari, di langit Palangkaraya yang mendung, terjadi. Suhu menjadi dingin. Lalu perlahan-lahan, seperti senja yang datang dengan cepat, semua menjadi remang, agak gelap, dan gelap. Gulita.  Yang terlihat titik-titik lampu di kejauhan –entah lampu atau cahaya apa itu. Sungai Kahayan yang sebelumnya jelas terlihat, lenyap, gelap semata. Saya merekam dengan kamera tab saya kegelapan pada Rabu 9 Maret 2016 itu. Gonggongan anjing terdengar dari kejauhan  -mungkin ia mengira hari telah malam. Keajaiban alam, kebesaran Tuhan tengah terjadi. “Pak mataharinya dimakan raksasa,” seorang bocah kecil di sebelah saya berteriak lantang. Suaranya terekam kamera saya.

Menjelang gerhana total: hari menggelap...

Menjelang gerhana total: hari menggelap…

Siangnya saya diundang Intan Ophelia makan di sebuah restoran di dekat Sungai Kahayan. “ Jangan ikam kadak datang,” (Jangan sampai kamu tidak datang), “ katanya. Saya mengangguk ragu-ragu. Sebenarnya ada acara lain, ketemu teman-teman. “Ya ketemu di sana saja, kita pesan meja sendiri,” kata teman saya Mantuh, begitu tahu saya diundang Intan makan siang di rumah makan itu.

Rupaya Intan mengundang “anak-anaknya” para mahasiswa ITB, Prof. Bambang Hidayat, serta Kepala Sekolah SDN Menteng, Ibu Erna Watie. “Pak Bambang ingin makan ikan Jelawat,”kata Intan menunjuk ikan khas dari Kalimantan Tengah yang digoreng renyah di hadapan kami. Selain jelawat ada pula ikan patin goreng dan sayur kelakai. Kelakai adalah tanaman khas Kalteng yang masuk rumpun paku-pakuan. ”Enak ya,” kata Pak Bambang saat menyicipi sayur dari tumbuhan yang banyak terdapat di hutan atau pinggir jalan di sekitar Palangkaraya itu. Saat makan Pak Bambang rupanya sempat memfoto saya. Ini fotonya

Dari kanan. Intan Ophelia Merintan, saya, Avi dan Malika (cucu Pak Bambang)

Dari kanan. Intan Ophelia Merintan, saya, Avi dan Malika (cucu Pak Bambang)

Di rumah makan itu kemudian saya berbaur lagi dengan beberapa teman SMP yang juga menggelar acara makan siang bersama.

*

Malamnya, saya dijemput teman untuk datang ke acara reuni di Kumkum –sebuah tempat wisata yang juga terletak di pinggir Sungai  Kahayan. Tempat ini sebenarnya kalau malam tutup. Tapi, agaknya,  karena pemiliknya “temannya teman-teman” maka kami bisa menggunakan tempat itu. Teman-teman bergantian menyanyi di atas panggung diiringi organ. Seorang teman menuangkan wine ke gelas-gelas kosong. Saya berjumpa dengan beberapa teman yang sudah lebih dari 25 tahun tidak bertemu. Sungguh menyenangkan. Dihitung-hitung, ini mungkin untuk kesekian kalinya, kami membuat acara reuni –walau beberapa di antaranya saya tidak bisa hadir. Di ujung acara, sejumlah teman-teman di Palangkaraya membuat kesepakatan –dan langsung membentuk panitia: akan ada acara reuni lagi pada bulan Juli. Tempatnya di Sukabumi atau Puncak Bogor. Semua tertawa, senang.

Para teman di SMP Katolik St Paulus di Palangkaraya itu.

Para teman di SMP Katolik St Paulus di Palangkaraya itu.

reunikumkum2

reunikumkum3

Tiba di rumah jam 12 malam, saya disambut kakak saya yang rupanya belum tidur. “Ramai acaranya?” tanyanya. “Rame, besok Juli teman-teman mau bikin acara reunian lagi di Sukabumi,” kata saya. Ia mendelik, kaget. “Masak reunian tiap tahun sih? Reunian apaan?” katanya lagi.  Saya hanya tertawa. Benar juga, tapi itulah teman-teman saya….

 

2 thoughts on “Cerita Gerhana Matahari Total dari Palangkaraya

  1. Wah,kenal juga dengan Intan? Kapan2 ketemu ya. salam untuk keluarga….silakan gabung di facebook Rumah Kahayan

  2. Hahaha sempat terbawa suasana jd rindu Palangkaraya, salam kenal mas, sy juga alumni spekat llus 2006. Senang bisa tau Intan dan lihatvftonya, semoga kali wktu bisa bertemu. Palangkaraya skrg mmng cantik, desain kotanya rapi, nuansa Dayak terasa sejak dari Bandara, jalannya lebar, selalu kagum setiap kembali ke Palangkaraya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s