Menulis Jatuh Bangun Mermounc (Merbabu Mountaineer Club)

Akhirnya jadi juga buku ini, 50 Tahun Jejak Langkah Tan Lalana, buku tentang grup pendaki gunung Mermounc (Merbabu Mountaineer Club) yang dilahirkan sejumlah mahasiswa dan pelajar asal Salatiga pada 9 Agustus 1965 di puncak Gunung Merbabu, Jawa Tengah.

20160317_083508

Ini buku terlama yang pernah saya  edit. Sebenarnya tak sekadar mengedit karena saya menulis tiga bab  awal buku ini, yakni menyangkut sejarah kelahirannnya, dan periode-periode jatuh bangun kelompok pecinta alam ini  dari masa ke masa, hingga tahun 2015. Di luar bab itu adalah puluhan komentar dari anggota Mermounc, dari yang paling senior (untunglah masih banyak yang hidup) sampai yang paling yunior, plus sejumlah simpatisan.

20160319_132529

Dihitung-hitung,  penulisannya memakan waktu lebih dari dua tahun. Lama, bukan lantaran saya malas-malasan mengerjakannya (karena menulis  buku apa pun saya tetap serius dan mengacu pada waktu yang saya tentukan),  tapi karena, pada saat-saat akhir harus menampung banyak permintaan, tambahan data, foto,  dari sejumlah orang.  Hal yang kadang membuat kesal, dan untuk ini saya harus angkat topi kepada Pak Imam Tjahjadi, penggagas sekaligus penyandang dana utama buku ini, yang demikian sabar menampung segala macam permintaan yang, kadang, menurut saya, sebenarnya sepele dan amat tak penting.

Sepekan lalu buku ini keluar dari percetakannya, PT Gramedia. Cetakannya  bagus, jenis  kertas yang dipakai matpaper, yang putih mulus, dan terbungkus plastik.Terbilang lux. Foto-fotonya, warna-warnanya  “keluar.” Gramedia benar-benar top, profesional. Sesuai dengan harganya. Senin lalu, dengan Pak Imam, saya mengantar dua buku itu  ke Perpustakaan Nasional. Jadi, kalau di Google, “Buku 50 Tahun Jejak Langkah Tan Lalana,” akan keluar buku ini. Tentu tidak isinya, hanya ikhtisarnya. Siapa pun yang mencintai dunia pendakian,  saya kira layak mengoleksi buku ini  -apalagi kalau anggota atau calon anggota Mermounc. Wajib! Oh, ya buku ini juga memuat rute-rute secara lengkap dan detail jalur-jalur pendakian ke Gunung Merbabu dan Merapi, dua gunung yang sudah “sedarah dan sehati” dengan para anak-anak Mermounc.

Jauh sebelum dicetak, sebelumnya, dengan Pak Imam saya ke Perpustakaan Nasional untuk mendapatkan nomor ISBN buku ini. Di sana, kami sempat bertemu dengan Kepala Direktorat Deposit Bahan Pustaka, Dra Lucya Dhamayanti, H.Hum yang ramah. Kami bahkan sempat diajak ke ruangnya, disuguhi minum dan camilan dan diperlihatkan beberapa lukisan karya bekas ilustrator Koran Bintang Timur (koran yang pada 1965 condong menyuarakan kepentingan PKI) yang baru saja dipamerkan di Perpustakaan Nasional.

Pak Imam dan Ibu Lucya Dhamayanti

Pak Imam dan Ibu Lucya Dhamayanti

Saya ceritakan sedikit tentang Pak Imam. Dia pendiri Mermounc, usianya sudah di atas 70 tahun, tapi penampilannya tetap seperti seorang pendaki: gemar memakai celana gombrong dengan kantong di mana-mana, acap bertopi, tetap gesit, dan selalu bersemangat . Di luar itu, yang paling saya kagumi: kesabarannya.

Sebenarnya Mermounc, mungkin pada ulangtahunnya ke 40 atau 35 (saya tidak tahu) pernah menggagas membuat buku  “sejarah Mermounc.”  Tapi, mungkin, karena yang diberi tugas tampaknya tidak berpengalaman membuat buku  -sesuatu yang terlihat mudah padahal sangat ribet- buku ini tak pernah jadi secara sempurna.

Sampai tiga tahun lalu saya untuk pertamakalinya bertemu Pak Imam, dan begitu tahu saya wartawan dan kerap menulis buku, maka ia langsung “menugaskan” saya menulis “buku Mermounc.”  Momennya memang pas, tahun 2015 HUT Mermounc ke 50. “Harapan saya cuma kamu, kalau kamu ngambek habislah semuanya,” katanya.  Saya tertawa. Saya katakan ke beliau, sebagai anggota Mermounc saya mendedikasikan diri semaksimal mungkin membantu beliau menulis buku ini. “Tidak usah dibayar, Pak Imam hanya membayar untuk teman yang mendesain bukunya  nanti,” kata saya. Saya memang meminta seorang desainer Tempo menggarap cover dan isi buku itu.

Lalu saya mulai mencoret-coret urutan penulisan buku ini, urutan bab-babnya, bagian-bagian apa yang harus ditonjolkan, foto dan dokumen yang diperlukan dan sebagainya. Beruntung  Pak Imam memiliki dokumen berkaitan dengan Mermounc cukup lengkap.

Kami kemudian meminta anggota Mermounc menulis pengalaman mereka selama menjadi anggota Mermounc.  Mereka tersebar di mana-mana: di Batam, Pekanbaru, Jakarta, Yogyakarta, Malang, Denpasar, Lombok dan sebagainya. Seperti saya duga, lebih banyak yang berkata “nanti-nanti” ketimbang yang langsung antusias. Alasannya macam-macam, dan paling banyak, tidak bisa menulis. “Ya menulis apa saja, masak sarjana tidak bisa menulis,” kata saya sedikit kesal. Itu terjadi berbulan-bulan, sementara saya sudah merampungkan bab-bab yang saya tulis dan bersiap mengedit tulisan mereka.

Begitulah, ketika kemudian kami mengunggah cover tentang buku itu, baru sejumlah reaksi muncul. Tampaknya, banyak anggota baru sadar, kali ini pembuatan buku itu benar-benar serius, tidak main-main.

Pak Imam memang tidak main-main menyiapkan “rumahnya” untuk markas kami bertemu, rapat dan menulis. Kami, biasanya saya dan seorang teman lain, Djarot,   bertemu sabtu atau minggu dengan beliau untuk mengerjakan atau berdiskusi tentang buku ini. Ruang kerja yang disediakan Pak Imam untuk kami  tak kalah dengan ruang redaksi surat kabar. Semua ada. Printer, komputer, scanner, infocus, mesin fax, air mineral panas-dingin, sampai organ berikut mik-nya untuk bernyanyi (kalau pengin rileks sebentar) .

Diskusi pembuatan buku

Diskusi pembuatan buku

20151126_113730

20151004_145604

Saya beberapa kali menginap di rumahnya di daerah Jakarta Timur. Di sana ia menyediakan tempat tidur lipat buat kami.  Kue-kue selalu terhidang. Di dekat rumahnya ada warung gulai  sangat enak yang harganya dihitung per daging yang kita ambil. Satu potong kecil, kalau tidak salah,  Rp 6.000. Jadi kalau ambil 5, harganya semangkuk Rp 30.000. Warung pinggir jalan dekat pom bensin yang hanya buka sore hingga malam hari itu sangat ramai.

Lulus dari Fakultas Hukum UGM, Pak Imam kemudian masuk  di TNI Angkatan Udara  sebelum kemudian menduduki jabatan sebagai Kepala Rumah Tangga Kepresiden di era Pak Harto.  Saya kerap bertanya, jika kami hanya berdua, perihal  pengalamannya bekerja dengan Pak Harto atau pandangannnya tentang Pak Harto dan keluarganya.  Ia hanya tersenyum, ”Saya ini hanya jongos, Bas….” Ia tak mau bercerita.  Ia pribadi yang sangat rendah hati.  Pangkat terakhirnya, Marsekal Pertama TNI.

Di kamar kerjanya –tempat saya tidur itu-   tergantung sejumlah fotonya bersama Pak Harto. Ini  beberapa di antaranya.

20151126_113752

20151126_113812

Demikian akhirnya buku ini jadi.  Seorang teman masih ngotot untuk mengoreksi dan memasukkan hal-hal yang menurut saya tidak penting. Saya menolak dan meyakinkan Pak Imam, jika tidak esensial tidak usah.  Untuk kali ini  Pak Imam setuju.  Bersama beliau kami kemudian mendatangi percetakan Gramedia. Nego harga sana-sini, sampai kemudian mendapat didapatlah harga yang pas.

Secara pribadi, setelah membaca banyak dokumen,  mengedit  berbagai tulisan yang masuk, saya menyimpulkan, tanpa saya sadari sebelumnya,  Mermounc, memang luar biasa. Tidak hanya dari sisi umur  (ia termasuk grup pendaki gunung tertua di Indonesia), juga  kiprah alumninya. Anggotanya adalah juga pendiri grup-grup pecinta alam di sejumlah perguruan tinggi di Yogyakarta: Mapagama UGM dan Madawirna “IKIP” Yogyakarta. Grup ini, pada tahun 1970, pernah bekerjasama dengan AKABRI, melakukan pendakian sejumlah gunung di Pulau Jawa.

Anggotanya terlibat dalam banyak kegiatan penyelamatan atau evakuasi  pendaki yang tersesat atau tewas di gunung, melakukan aksi sosial masyarakat pedesaaan dan lain sebagainya. Sejumlah anggotanya dikenal  sangat dekat dengan keluarga juru kunci Merapi, Mbah Marijan.  Bahkan di akhir hayatnya, juru kunci Merapi ini sempat berpesan kepada anggota Mermounc, di mana jenazahnya bisa ditemukan jika Merapi meletus  -hal yang kemudian memang jadi kenyataan dan juga ditulis  dalam buku ini.

Saya pribadi merasa tidak melakukan apa-apa di Mermounc. Di Yogya, dulu,  saya lebih banyak mendaki gunung dengan teman-teman satu  fakultas, baik saat kuliah di UGM, UNS maupun Universitas Atmajaya.  Karena itu, menulis buku Mermounc ini saya anggap sebagai sumbangan saya kepada grup pendaki yang bersemboyan, “Tan Lalana” yang bermakna, “Pantang putus asa,” tersebut…..

 

7 thoughts on “Menulis Jatuh Bangun Mermounc (Merbabu Mountaineer Club)

  1. Dulu sekitar 1988-89 an saya bergabung dengan Mermounc dan dilantik di Puncak Merbabu. Angkatan nya Mas Ibnu, Dwi Harijanto, dan beberapa kali sering kumpul2 ikut acara di mas Uyung, Pak Suadiman, dan di Pengok…Salam kompak selalu TAN LALANA

  2. Terimakasih tambahan infonya, Pak Imam.
    Semoga Pak Imam tetap dilimpahkan kesehatan dan kekuatan dari yang Allah SAW…

  3. Tulisan Baskoro yang menyangkut saya pribadi perlu diluruskan/dikoreksi.Penugasan saya di Rumah Tangga Kepersidenan sejak era Presiden Suharto,Presiden BJ Habi dan kemudian terakhir Presiden Gus Dur yang benar adalah Kepala Biro Umum Rumah Tangga Kepresidenan.Diatas saya adalah Kepala Rumah Tangga Kepresidenan,kala itu di jabat oleh Brigjen TNI Sampoerno (alamarhum).
    Tentang apa tugas Kepala Biro Umum ini pernah ditanyakan oleh almarhumah Ibunda saya apa sih pekerjaaannya.Terus terang susah menerangkanya agar mudah di pahami oleh Ibu kala itu.
    Baru ketika pada suatu kesempatan almarhumah mendampingi Ayah saya yang anggota Perintis Kemerdekaan di undang ke Isatana Presiden Jakarta pada perayaan Peringata HUT RI, saya bisa menejlaskan apa kira-kira yang harus saya dikerjakan di Istana Kepresidenan Jakareta itu dalam jabatan saya tersebut..
    Ketika itu Istana halaman Istana sedang dibersihkan oleh tukang sapu yang jumlahnya cukup banyak, memebrsihkan potongan-potongan rumput yang dipangkas dengan mesin pemotong rumput dan daunan dihalaman tengah Istana.
    Melihat itu kepada Ibunda saya, saya jelaskan bahwa mereka tukang-tukang sapu itu dalah anak buah saya.Mendapat penjelasan itu almarhumah Ibu saya berkesimpulan bahwa gampangnya jabatan saya adalah Kepala Tukang Sapu Istana Prresiden.
    Dan itu mudah dimengerti oleh beliau.Untuk diketahui semasa kecil dikampung halaman saya di Salatiga, sekitar pukul 04.30 pagi setiap hari, saya mesti bangun dan menyapu halaman sekitar rumah yang cukup luas,dilanjutkan meyapu lantai rumah.Baru kemudian mandi untu sekolah.
    Dan Puji Tuhan berkat didikan Ibu, akhirnya dalam perjalanan hidup saya tak terimpikan sama sekali kemudian hari ditugaskan sebagi kepala tukang sapu Istana Kepresidenan seluruh Indonesia.
    Terimakasi Ibu,semoga Ibu “disana” berbahagia di sisi Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang.Amien.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s