Ahok, Sunny, dan Aguan (1)

Keterlibatan Sunny Tanuwidjaya dalam perkara “suap reklamasi” pasti membuat banyak orang bertanya-tanya: apa sebenarnya peran pemuda berkacamata ini  pada Ahok?

Jika melihat berita yang beredar,bagaimana ia menjalin komunikasi dengan  raja properti ibu kota, Sugianto Kusuma alias Aguan, tentu kita bisa menduga ia juga dekat pengusaha lain  -seperti yang kemudian diakuinya. “Seperti dengan pengusaha-pengusaha lainnya saja, kan kenal. Sama semua juga dekat, sama semua juga baik kok. Nggak ada bedanya,”  jelas Sunny, Senin (11/4/2016)— demikian berita detik.com.

Saya mengikuti berita-berita Sunny itu dengan cermat.  Dalam wawancaranya dengan Tempo, misalnya, ia mengaku pernah berdebat dengan Ahok soal UMR. Dia mengusulkan UMR tak perlu dinaikkan, sementara Ahok justru sebaliknya.  Luar biasa.

20160417_091604

 

Publik bisa menarik setidaknya dua kesimpulan dari pengakuannya.  Pertama di mana keberpihakan Sunny dalam hal UMR, kedua bagaimana kedekatannya dengan Ahok.

Perihal posisi Sunny, setelah KPK mengumumkan keterlibatan Sunny dan kemudian mencekalnya –dilarang bepergian ke luar negeri-  Ahok mengeluarkan sejumlah pernyataan “bertumpuk-tumpuk” tentang posisi Sunny.  Ahok, misalnya, membantah Sunny staf khususnya. Ia menyebut Sunny tak lebih  sedang melakukan magang di DKI, dan kemudian, yang lain, menunjuk Sunny mahasiswa yang  tengah melakukan penelitian seputar dirinya karena ia tengah mengambil program doktor di sebuah universitas luar negeri.

Pengakuan Ahok bisa menimbulkan pertanyaan. Jika ia tak staf khusus, bagaimana mungkin ia bisa begitu sangat dekat –dalam arti fisik juga, dengan Ahok?  Jika ia kemudian sekadar sebagai “maganger” atau  peneliti bagaimana ia bisa menjadi “jembatan” antara pengusaha dan Ahok? Menjalin hubungan dengan para konglomerat properti ibu kota dan menyampaikan pesan-pesan mereka ke Ahok atau menjalin hubungan dengan anggota DPRD?  Jika sekadar anak magang bagaimana mungkin ia bisa berdebat dan mendebat seorang gubernur.  Bukan main.

Tapi, satu hal yang saya salut dari anak ini adalah ketenangan dan keterusterangannya berhadapan dengan media. Ini pula yang ia tunjukkan,  saat ia keluar dari pemeriksaan KPK –setelah diperiksa  berjam-jam Rabu  pekan lalu.

Tak seperti kebanyakan mereka yang diperiksa –memilih tutup mulut, merunduk, atau tergopoh-gopoh ke mobil menghindari jepretan kamera atau pertanyaan wartawan-  Sunny menjawab  pertanyaan wartawan dengan  tenang –menjelaskan apa saja yang ditanyakan penyelidik dan mengakui memang mengenal banyak pengusaha.

***

Saya tak kenal Sunny, tapi, seingat saya, pernah sekali bertemu dengannya saat kami, saya  dan beberapa wartawan Tempo, diundang Ahok makan di rumahnya beberapa waktu silam. https://catatanbaskoro.wordpress.com/2014/09/02/diundang-makan-ahok/

20140302_132237

Saat pertama masuk rumah Ahok, di ruang makan, yang pertama kali saya lihat adalah pria berkacamata mata –yang ternyata bernama Sunny. Ia duduk di seberang meja dan Ahok, kala itu,  belum muncul. Karena saya tidak mengenal dia, maka saya kemudian bertanya kepada dia, apa jabatan dia dalam posisinya dengan Ahok  -karena saya tak melihat ada orang lain satu pun di ruang itu, apalagi sosok yang “berwajah” karyawan DKI.

Ia tak menjawab, tapi justru  menunjuk ke luar –ke teman-teman saya yang  berada  di teras. “Tanya saja ke mereka…” katanya. Saya tersenyum kecut.  Ia rupanya sudah membentengi dirinya…

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s