Rumah Prof. Bambang Hidayat

Ke Bandung jangan di  long weekend, kecuali memang mencintai kemacetan, demikian ujar seorang teman yang sudah berbelas tahun tinggal di Bandung, setengah meledek.

Saya percaya benar nasehat, atau tepatnya peringatan itu. Maka sebelum libur panjang empat hari minggu kemarin yang bikin macet alang kepalang seperti beritanya bisa kita lihat di layar TV, sepekan sebelumnya saya lebih dulu “berlibur”  ke Bandung. Bertiga saja, karena Lintang, yang duduk di kelas dua SMA itu, tidak bisa ikut lantaran harus pentas tari. “Kalau nggak ikut, nggak dapat nilai,” ujarnya, yang kemudian hanya mengirim fotonya setelah dirias lewat WA dan dikomentari adiknya, juga lewat “WA Family,” “Mbak Tang kok kayak nenek sihir…” Padahal, sebenarnya, tentu saja jauh dari itu.

Di Bandung hari pertama kami  menginap di Hotel Malaka yang untuk ke sananya melalui Jalan Buah Batu yang, alangkah kroditnya,  itu. Hotel ini dekat Jalan Lodaya, tempat seorang teman membuka bisnis sop buah. Sayang, akibat  lama tersendat di Jalan Buah Batu,  kami baru sampai hotel petang hari dan tak sempat mencari café sop buah itu. Apalagi, hujan turun deras dan  baru reda menjelang lepas isya.

sensa

Esoknya, kami  pindah ke Hotel Sensa. Ini Hotel  berada di lingkungan Citiwalk –pusat perbelanjaan-  di Jalan Cihampelas. Jadi begitu turun dari lift, jlek… berada hanya tiga meter dari kawasan Citiwalk. Di sini anak saya yang sulung, Bagas, yang kuliah di Teknik Sipil ITB  baru bisa bergabung.

Ia sedang flu. “Banyak tugas, mana ujian lagi, teman-teman banyak yang tumbang,” katanya. Seperti biasa saya hanya memberi komentar pendek dan standar.  “Makan yang banyak, bergizi, dan jangan lupa minum jus…” Dan seperti biasa, begitu melihat adiknya yang jaraknya memang jauh ia langsung mengajak bergumul. Lalu tempat tidur pun menjadi arena “perkelahian…”

Bagi saya, ke Bandung kemarin itu  yang paling utama adalah mengunjungi Profesor Bambang Hidayat  sekaligus menyerahlkan  Novel Pulang titipan penulisnya, Leila S. Chudori yang juga rekan sekantor.  Lewat email beberapa hari sebelumnya Pak Bambang  sudah menulis, “Bung Baskoro, jangan lupa datang ke rumah saya,….” Sembari menulis alamat  rumahnya di kawasan Dago Giri lengkap dengan telepon, arah jalan, plus  catatan,  “Jalannya jelek berlubang-lubang….” Sebelumnya lagi, teman saya, seorang gadis Dayak Ngaju, yang juga penulis novel, Intan Ophelia Binti,  sudah wanti-wanti. “Jangan sampai tidak mengunjungi Pak Bambang…inya kena sarik (nanti dia marah), alamatnya kan sudah lengkap….”

***

Saya belum lama mengenal Pak Bambang  -walau namanya sudah saya kenal sejak saya SD. Kami bertemu pada 9 Maret lalu di Palangkaraya waktu gerhana matahari. Sejak itu kami beberapa kali email-emailan.  https://catatanbaskoro.wordpress.com/2016/03/11/cerita-gerhana-matahari-total-dari-palangkaraya/

Di Palangkaraya, 9 Maret 2016, dengan Pak Bambang Hidayat

Di Palangkaraya, 9 Maret 2016, dengan Pak Bambang Hidayat

Di manakah Dago Giri? Yang saya tahu hanya Dago Pakar, arahnya dari  Jalan Dago alias Jalan Juanda,  terus ke “atas.”  Jadi satu-satuya pegangan saya adalah keterangan detail dari email Pak Bambang itu.

“Sudah di Bandung, ke rumah kan? Saya tidak jadi jadi membesuk keluarga saya yang sakit,” begitulah Sabtu malam pekan lalu Pak Bambang menelepon.

Lagi-lagi Bandung diguyur hujan, dan Cihampelas tertutup rapat kendaraan. Sejak awal saya sudah tetapkan, akan naik motor Bagas saja ke rumah Pak Bambang. Ya, mencari alamat yang belum pasti paling praktis naik motor. Kalau salah tinggal memutar….

Maka, Sabtu malam itu, begitu hujan tinggal menyisakan rintiknya, saya ngebut mencari Dago Giri: melintasi Jembatan Pasupati, menelusuri Jalan Dago, terus ke atas, melewati terminal Dago, belok kiri, menerjang jalan berlubang tak berlampu, tanya beberapa orang di pos satpam, “Di mana rumah Pak Bambang Hidayat ahli astronomi”  (dan semuanya menunjuk jalan ke arah atas)…. dan hup sampailah saya di rumah Pak Bambang.

Pak Bambang menerima saya dengan senyum lebar. Rumahnya benar-benar di pinggir jalan.  Tidak begitu besar, penuh kembang, dan terlihat asri.  Jelas di waktu malam atau subuh rumah ini pasti dingin. Lokasi rumahnya persis di  salah satu “puncak” dari Jalan Dago Giri.

Saat itu Pak Bambang sendirian di rumah. Saya diajaknya keliling ruang-ruang di dalam rumahnya. Ruang makan, ruang tidur, ruang kerja, dan melongok  taman kecil di belakang rumah. “Dari sini saya bisa melihat  bulan,”ujarnya menunjuk meja kerjanya yang di depannya terbentang jendela.

Bambanghidayat3

Kami berbincang di ruang tamu –apa saja. Pak Bambang menceritrakan pengalamannya saat dirinya bersama dosen-dosen ITB, antara lain dengan Wilmar Witoelar,  diberi penataran P4.  “Diakhir acara. kelompok kami memberi hadiah penatar botol kecap hehehe,” katanya tertawa.

Merasakan Kopi buatan Pak Bambang..

Merasakan Kopi buatan Pak Bambang..

Tak  jarang di tengah perbincangan, Pak Bambang tiba-tiba berhenti mengobrol,  kemudian berjalan ke rak buku mengambil buku yang temanya sedang kami bicarakan –buku dalam bahasa Inggris atau bahasa Belanda.  “Waktu saya mau belajar ke luar negeri saya dihadiahi Pak Roeslan Abdulgani buku ini,” ujarnya menunjukkan buku “Di Bawah Bendera Revolusi” -nya Bung Karno.  “Buku Sarinah saya  dipinjam orang dan tidak kembali,” ujarnya menyebut salah satu buku Bung  Karno  yang lain. Saat saya tawari apakah dia mau saya beri buku Sarinah milik saya, ia menggeleng.

Bambanghidayat2

 

bambanghidayat4

Hampir semua ruang di rumah Pak Bambang dipenuhi buku. Tidak berserakan tapi tersusun rapi. Pak Bambang tak pernah ketinggalan berita. Ia  mengikuti pemberitaan terbaru lewat internet. Ia rajin berkomunikasi lewat internet dengan para sahabatnya  yang tersebar di mana-mana, di dalam dan luar negeri. Saya pikir ini pula yang membuat ia selalu segar dan semangat menjalani hidup.

Tiba-tiba saya ingat pesan teman saya, “Pak Bambang biasa tidur pukul 20.00 lho..” . Dan sekarang sudah lebih  dari pukul itu walau agaknya ia masih ingin berbincang lebih lama. Saya segera minta diri. “Saya memang biasa tidur pukul delapan, bangun pukul tiga pagi, dan jam empat olahraga,” ujarnya ketika saya tanya perihal kebiasaannya berangkat tidur. “Dulu begitu bangun, semua jendela saya buka, tapi ditegur tetangga, katanya berbahaya, bisa mengundang maling…. hehehe,” katanya terkekeh.

Ia mengantar saya sampai teras rumahnya. Saya pamit dan berjanji kalau ke Bandung kelak akan mampir lagi.

Advertisements

3 thoughts on “Rumah Prof. Bambang Hidayat

  1. Saya juga menziarahi Pak Bambang Sabtu lalu. Senang sekali berbual dengan orang yang berpandangan luas dan banyak pengalaman sepertinya. Saya juga berharap dapat memiliki buku yang banyak seperti beliau.

  2. Mas Baskoro,

    Bisakah saya dikirimkan no. HP dan no tlp rmh dari prof. Bambang Hidayat? Saya teman diskusi lama dari pak Bambang, namun krn HP saya hilang dan juga pindah rmh saya kehilangan kontak dgn beliau. Trmksh sebelumnya dan wassalam wr. wb.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s