Menendang Risma dari Jawa Timur

SEBULAN terakhir ini muncul gerakan-gerakan pendukung Tri Rismaharini,  yang kini Wali Kota Surabaya,  maju menjadi gubernur DKI. Kamis pekan lalu, misalnya, saat membuka pameran lukisan anak berkebutuhan khusus dan anak jalanan binaan Dinas Sosial Pemerintah Kota Surabaya di Bentara Budaya Jakarta, Risma disambut sekitar 20 orang membawa spanduk dan poster yang mendukung ia menjadi calon gubernur DKI. “Bu Mega kami siap menangkan Risma menjadi Gubernur DKI Jakarta,” demikian salah satu bunyi poster itu.

risma
Pemilihan gubernur DKI memang tinggal “dua langkah” lagi. Segera dibuka tahap pendaftaran tahun ini dan kemudian dilanjutkan Pilkada. Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama  akan maju lagi, membuktikan dirinya memang pilihan warga Jakarta dan bukan sakadar mendapat  limpahan “kursi bekas” dari gubernur Jokowi yang kini menjadi  Presiden RI.

Survei membuktikan Ahok memang calon terkuat  -sulit dikalahkan. Gebrakan Ahok, walau ada yang sinis menyebut  peninggalan Jokowi, harus diakui membuat Jakarta berubah:  pegawai disiplin, fasilitas umum bertumbuhan, korupsi PNS tak  terdengar, tanah-tanah DKI yang diduduki orang tak berhak diambil dan dibuat taman-taman, dan seterusnya.

Kelas menengah bisa menilai dengan cepat –tanpa perlu survei- Ahok berhasil membawa Jakarta lebih bagus. Dan satu-satunya yang bisa menghentikan langkahnya, ya kalau dia tersandung kasus korupsi. Misalnya, dalam proyek reklamasi yang kini sudah menyeret  staf khususnya, Sunny Tanuwijaya.

Tapi itu masih belum jelas –dan sejauh ini belum ada bukti Ahok terlibat.

Siapa pun penantang Ahok ia mesti memiliki strategi yang jitu. Ia mesti tokoh yang sangat dikenal dan, tak kalah  penting, massa di bawah yang akan memilihnya harus solid. Tanpa itu sia-sia belaka, menghamburkan duit, membuang energi, sekaligus akan mendapat gelar “pecundang.”

Dan tak mudah untuk hal ini. Sejauh ini Ahok sudah memiliki dua kendaraan untuk maju sebagai calon gubernur, yakni dari jalur independen dan dukungan partai. Partai yang jelas mendukungnya: Golkar, Hanura, dan NasDem. Dengan tiga partai yang memiliki 24 kursi di DPRD, Ahok sudah bisa didaftarkan ke Komisi Pemilihan Umum DKI nanti.

Walau “Teman Ahok” sudah mengumpulkan KTP –kini sejuta lebih- untuk mengusung Ahok menjadi calon gubernur, saya yakin Ahok akan maju lewat  “Jalur Parpol.” Alasan untuk ini  terang benderang: Ahok sosok yang  pragmatis, jalur lewat Parpol tak memerlukan prosedur rumit yang mesti melalui proses klarifikasi KTP  layaknya jalur independen. Di luar itu, dengan sejumlah masalah yang menimpa Teman Ahok, termasuk kasus dugaan  menerima uang dari pengusaha properti Aguan, Ahok lebih punya alasan untuk “meninggalkan” kelompok ini.

Temanahok

Maju dengan kendaraan  parpol adalah pilihan praktis dan pragmatis: Didaftarkan dan mendapat  jaminan dukungan massa dari seluruh plosok DKI. Tentu, konsekwensinya, ada bargaining politik. Bentuknya macam-macam. Bisa tertulis bisa tidak. Bisa dalam wujud,misalnya, wakil gubernur adalah yang pilihan parpol pendukung, atau bisa komitmen bentuk lain.

Partai yang masih terbuka mengusung calon gubernur mereka adalah Gerindra dan PDI Perjuangan. Gerindra tak mungkin bergabung dengan Ahok karena “sejarah sakit hati,” yakni, Ahok dinilai meninggalkan mereka, dan, terutama, kasus reklamasi yang kini menjadikan politisi Gerindra di DPRD, M. Sanusi, menjadi tersangka, serta, kemungkinan besar, menyeret kader Gerindra lain di kantor wakil rakyat tersebut. Gerindra, kemungkinan besar akan mencalonkan Sjafrie Sjamsoeddin, bekas Pangdam Jaya yang juga sahabat pendiri Partai Gerindra, Prabowo Subianto.

Walau Sjafrie sudah beredar dan mengunjungi sejumlah tempat di Jakarta dan diberitakan disambut meriah, saya pesimistis ia bisa mengalahkan Ahok. Banyak kelemahan bekas ajudan presiden Soeharto ini, juga Partai Gerindra,  yang bisa dipakai lawannya mengalahkannya.

Sejumlah survei juga tak menempatkan Sjafrie  pada deretan pesaing berat Ahok. Sampai kini, survei yang muncul, dari yang ada menempatkan dua sosok yang dianggap bisa mengimbangi  -tidak mengalahkan- Ahok, yakni, Yusril Ihza Mahendra dan Risma.  Survei SMRC  di bulan Juni 2016, misalnya, menemukan angka yang menunjukkan Ahok belum mendapat lawan seimbang. Selisih elektabilitasnya dengan saingan terdekatnya masih jauh, di atas 30%.

Sejauh ini juga  tak terdengar lagi Yusril ngotot maju sebagai calon gubernur. Jalur independen tampaknya tak mungkin (karena tak jelas kisah pengumpulan KTP-nya) dan jalur partai belum terdengar satu pun yang mendukung –kendati kabarnya ia pernah ikut  “uji cagub” dari PDIP.

Tinggal Risma memang pesaing Ahok. Tanpa didukung partai lain sekalipun, jika PDIP Perjuangan mencalonkan insinyur arsitektuk dari ITS itu,  “perempuan  baja dari Surabaya” ini otomatis akan maju, bertempur melawan Ahok.

Saya mengharap Risma memang tidak melawan Ahok, tidak maju memperebutkan kursi gubernur DKI. Dan sejauh ini memang Risma tak pernah sekalipun  menyatakan ia ingin menjadi  gubernur DKI. Itu pilihan yang benar.

PDIP kini memang menghadapi dilema dalam pemilihan gubernur DKI: mengeluarkan calon sendiri atau bergabung dengan partai yang ada. Untuk yang terakhir ini, Ketua Partai Golkar,  Setya Novanto, seperti biasanya, lebih gesit:  langsung menempel dan menyatakan mendukung Ahok.

Di sinilah kita melihat bulan-bulan ini angin politik menendang Risma dari Surabaya untuk maju sebagai calon gubernur DKI berembus makin kuat. Banyak kepentingan memang untuk mengeluarkan Risma dari Surabaya.

Risma adalah calon kuat gubernur Jawa Timur. Pada 2018, Jatim akan melangsungkan pilkada  gubernur. Wakil Gubernur sekarang, Saifullah Yusuf, yang juga dikenal dekat dengan banyak pimpinan PDIP,  jelas akan maju sebagai calon gubernur.

Di luar itu, diperkirakan Menteri Sosial yang juga, seperti Saifullah memiliki basis NU kuat di Jatim, Khofifah Indar Parawansa, juga akan maju. Satu-satu pesaing terberat mereka, dan terutama Saifullah adalah Risma, yang namanya demikian wangi dan wangi itu sudah menyebar ke seluruh bumi Jawa Timur. Ya, seperti Ahok, siapa pun tahu Risma sangat berhasil memimpin Surabaya. Yang berbeda dengan Ahok, Risma  tak pernah memaki, bicara kasar –hal yang saya kira akan ditonjolkan jika ia maju dalam pilkada DKI.

Megawati belum menentukan siapa calon mereka untuk gubernur DKI dan di sinilah muncul kelompok-kelompok yang mendesak –secara tak langsung- Mega memilih Risma, seperti terjadi Kamis pekan lalu.  Risma sendiri mengakui ia tak mengenal kelompok di Jakarta yang mengusung-usung namanya. Jika Megawati “termakan” oleh buaian teriakan-teriakan kelompok ini, maka tamatlah Risma, tamatlah PDIP.

Kenapa? Karena jika diperintah Megawati untuk maju melawan Ahok,  saya kira Risma  tak kuasa menolak. Dan ujung dari itu, saya kira ia akan kalah. Kelas menengah Jakarta,  yang kemudian didukung massa  parpol, akan tetap memilih Ahok, sosok  yang sudah jelas kinerjanya,  sudah jelas keberaniannya melawan DPRD, menertibkan pegawai berengsek  dst.

Di Jawa Timur, jika Risma meninggalkan tempat ini, ia akan kehilangan kesempatan menyelesaikan programnya membenahi Surabaya, kehilangan kesempatan memimpin  Jawa Timur  -karena kemungkinan besar ia menang dalam pemilihan gubenur pada 2018, juga kesempatan PDIP bisa meraup suara rakyat Jawa Timur pada pemilu presiden 2019. Dengan Risma sebagai gubernur, tentu gerak politik PDIP di daerah ini lebih cekatan, lebih luwes.

Di atas segalanya, dari sisi pemerintahan daerah, sesungguhnya kita menuju sosok gubernur  di Pulau Jawa yang baik. Gubernur yang memiliki komitmen pada rakyat: Ahok di DKI, Risma dan Ridwan Kamil (kelak) di Jawa Timur, dan Jawa Barat.

Karena itu, memerintahkan Risma maju sebagai lawan Ahok adalah kerugian besar PDIP.

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s