Buni Yani Tak Mampir di Tempo

Selasa kemarin Buni Yani tak jadi datang ke Tempo. Berangkat ke kantor  agak pagi dengan harapan bisa mengikuti pertemuan dengan Buni Yani,  selarik pesan masuk ke WA di tengah mata yang masih mengantuk di dalam kereta yang AC-nya tepat di atas kepala. “Buni Yani tidak jadi datang, acara batal,” bunyi pesan itu.

Sehari sebelumnya beredar pengumuman,  Buni Yani akan datang ke Tempo, memenuhi undangan teman-teman.  Inisiatif teman-teman mengundang dia bagus. Kesediannya datang, lebih bagus. Ya, masak hanya mau datang ke Indonesia Lawyers Club, doang….

buni-yani

Buni Yani kini  bak jadi selebritis. Namanya jadi pembicaraan di mana-mana. Penyebab utamanya, lantaran ia disebut punya andil besar membuat umat  Islam berang terhadap Basuki Tjahaja Purnama  -Ahok-  yang puncaknya  Jumat, 4 November lalu, meledak  unjuk rasa besar-besaran di depan Istana Presiden. Itu lantaran Ahok dituding melecehkan surat Al Maidah ayat 51 saat berbicara dengan sejumlah warga  Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, Jakarta Utara.

Video bagaimana Ahok menyinggung Al Maidah itu muncul di Youtube. Buni Yani kemudian mentranskrip kata-kata Ahok itu dan menyebarkannya lewat media sosial. Transkrip itu ternyata  tak utuh.  Detik.com  menulis:  Di video itu, Ahok tidak ada menyebut  ‘dibohongi Surat Al Maidah’, namun ‘dibohongi pakai Surat Al Maidah’. Tapi oleh Buni Yani, di Facebook-nya, ia menulis caption potongan video pidato Ahok dengan kalimat ‘dibohongi Surat Al Maidah’.  (http://news.detik.com/berita/d-3337770/buni-yani-akui-salah-transkrip-kok-saya-yang-dikambinghitamkan)

Buni Yani mengakui kesalahannya. Ia mengaku mentranskripnya tidak dengan earphone. Tapi ia menolak jika terjadinya reaksi umat Islam  yang luar biasa  terhadap Ahok  hanya gara-gara transkripnya. Perihal apakah Ahok menista agama Islam atau tidak, urusan itu  sudah ditangani polisi. Karena ini negara hukum, biar hukum yang memutuskan: ucapan Ahok itu  tindak pidana penistaan agama atau tidak.

***

Sejak dulu, sejak ia menjadi wakil gubernur DKI Jakarta, saya pribadi sudah “terkagum-kagum” dengan “ledakan-ledakan” kalimat Ahok  -ucapannya- juga keterusterangannya berbicara menanggapi sesuatu.  Saya juga sangat kagum terhadap energi keberangannya yang seperti tak pernah berkurang  sedikitpun jika bertemu hal-hal yang menurut dia tidak benar. Itu baik saja saja, sebenarnya.  Masalahnya, kata-kata yang dipakainya, sebagai komentar atas ketidakbenaran tersebut,  mungkin terdengar kasar bagi telinga pihak-pihak tertentu, dan itu  bisa berakibat lain.

Saya, dan beberapa teman Tempo, pernah diundang Ahok makan di rumahnya beberapa waktu sebelum Jokowi maju dalam  pemilihan presiden.   Kami saat itu bicara, dan diskusi panjang lebar tentang sejumlah masalah di Jakarta. Juga kalau ia menjadi gubernur menggantikan Jokowi.

Di rumah Ahok, 2015

Di rumah Ahok, 2014

Dengan  menjadi gubernur, semua akan berbeda. Jika sebagai wakil gubernur apabila ada sesuatu  Jokowi  yang menjadi bumpernya, maka kelak itu tak akan  ada lagi. Dan bahaya untuk Ahok bukan tindakannya, tapi, seperti yang saya tulis,  ucapannya. Kata-katanya  bisa menjadi bumerang.   Baca: Diundang Makan Ahok

Yang saya khawatirkan  kini  menjadi kenyataan.  Ahok  menghadapi perkara hukum yang berpangkal dari lidahnya, dan perkara hukum yang sama juga, kini menimpa  Buni Yani.

Buni Yani, nah ini dia, ternyata juga “menyeret-nyeret” Tempo. Itu lantaran ia menerangkan  pernah bekerja di Tempo. Pengakuannya pernah pernah di Tempo dikatakannya di acara ILC  dan juga muncul di sejumlah media. Lihat: Siapa Buni Yani?

Teman-teman di Tempo banyak yang terkejut  dengan “kabar”  Buni Yani  “pernah menjadi wartawan Tempo” itu. “Kapan dia jadi wartawan ya, saya kok nggak pernah ketemu,” ujar seorang teman wartawan yang terhitung senior.  “Saya juga tidak pernah melihat tulisannya. Yang saya tahu dia pernah nulis surat pembaca, jangan-jangan dengan surat pembacanya dimuat di Tempo itu ia merasa sudah menjadi wartawan Tempo,” kata seorang teman lain terkekeh.

Saya juga tidak kenal Buni Yani, juga tidak pernah melihat  “orang seperti Buni Yani” selama saya bekerja di Tempo. Saya masuk Tempo pada 2001 saat Majalah Tempo membuat Koran Tempo dan saya ditunjuk membentuk jaringan koresponden Tempo seluruh Indonesia, plus men-set up (demikian istilah  kerennya) sekretariat redaksi yang akan mengurus ratusan awak Koran Tempo dan Tempo News Room (TNR) sebelum kemudian dipindah ke Majalah Tempo. Tapi, saya tidak pernah menemukan nama Buni Yani, juga sosok raut wajahnya seperti yang kini terkenal. Kalau dia bekerja di Koran dan Majalah Tempo, pasti saya mengenalnya.

Rabu kemarin, saya mencari tahu  bagaimana hubungan Buni Yani dan Tempo ini. Saya pribadi yakin, ia tidak berbohong. Tidak mungkin sosok intelektual seperti Buni Yani  (ia lulusan S2 dan kini tengah menyelesaikan studi S3-nya di Belanda) berbohong.  Dunia akademis kan tidak pernah mengajarkan civitas akademisnya  untuk menipu…

Saya melihat rekaman acara ILC dan dari sana terpetik pengakuan Budi Yani pernah bekerja di Tempo pada 1996-an. Itu berarti dua tahun setelah Majalah Tempo dibredel.

Dimotori oleh Yusril Djalinus (almarhum) dan Toriq Hadad,  Tempo, pada 1996, memunculkan  www. tempointeraktif.com yang kini menjadi http://www.tempo.co. Sejumlah awaknya direkrut dari kalangan mahasiswa.  Tempointeraktif.com juga “bergaya” majalah.  Artinya beritanya tidak tiap saat  ganti, tapi, bahkan seminggu sekali.  Di sinilah rupanya Buni  “meniti” karirnya sebagai jurnalis.

tempointeraktif-com-snapshot1

Di Tempo, kini,  hanya tinggal beberapa gelintir  “sisa-sisa laskar pajang” Tempointeraktif itu.  Mereka:  Ali Nur Yasin, Mustafa Ismail, Hadriani Pudjiarti. Ada pun beberapa lainnya yang juga saya kenal sudah keluar, antara lain,  Bina Bektiati dan Wens Manggut.

Dari semua nama itu satu-satunya yang bergabung dari awal berdirinya tempointeraktif.com adalah Hadriani Pudjiarti. Hani, demikian panggilannya, rupanya masih mengingat  Buni Yani. “Dia masuk mungkin setahun setelah Tempointeratif.com muncul,” kata Hani saat saya temui di meja kerjanya Kamis kemarin.  Buni, demikian kata Hani, selalu tampil rapi, kerap memakai baju lengan panjang yang dikancing ujungnya.  Ia lebih banyak mengerjakan tulisan-tulisan yang cenderung berdasarkan riset, bukan reportase  lapangan. “Tulisannya sering dikritik waktu kelas evaluasi,” kata Hani.

Menurut Hani salah satu tulisan Buni yang ia ingat mendapat kritikan keras dari Yusril Djalinus adalah soal  mobnas –mobil nasional. “Seperti di Majalah Tempo, kami setiap minggu selalu ada kelas evaluasi,  evaluatornya biasanya Mas Toriq atau Pak Yusril,” kata Hani.

Bang Yusril, demikian saya memanggilnya, memang sangat pedas jika mengkritik tulisan reporter yang dianggap meleset dari angle yang disepakati. Saya cukup dekat dengan  dia saat saya bekerja di Majalah Forum Keadilan. Menurut Hani, Buni tidak lama di Tempointeraktif. “Mungkin sekitar empat bulanan, dia keluar, dan kemudian saya ketemu dia, dia sudah bekerja di sebuah media bahasa Inggris,” ujarnya.

Saya menemui Ali Nur Yasin, “generasi” kedua wartawan rekrutan Tempointeraktif.  Ali kini menjadi redaktur Kompartemen Ekonomi dan pernah menjadi Kepala Biro Tempo DIY dan Jawa Tengah.

Ali berceritra dulu ia bergabung di Tempointeraktif sebagai reporter magang, lantaran masih berstatus mahasiswa. Saat ia masuk, Buni Yani sudah ada. “Seingat saya, ia tidak ke lapangan, seperti korektor bahasa. Buni Yani, seingat Ali, juga bukan karyawan tetap. “Setidaknya ia belum berstatus karyawan,” katanya. “Mungkin dia di Tempointeraktif sekitar enam bulan,” lanjut Ali.

Ali mengenang sebuah peristiwa yang terjadi antara Buni Yani dan seorang atasannya. Suatu  ketika  atasannya mengeritik tulisan Buni yang dinilai  salah dari sisi bahasa  jurnalistik. Buni mendebat dan keduanya saling beradu argumentasi. Atasannya kemudian mengambil sebuah majalah dan menunjukkan “seperti ini bahasa jurnalistik” itu. “Beberapa waktu kemudian Buni Yani diperintahkan turun ke lapangan, menjadi reporter, tapi tidak lama kemudian dia keluar,” kata Ali.

Dengan penjelasan dua mantan generasi awal Tempo.co itu,  wajar memang generasi wartawan Tempo  yang bergabung dengan  Majalah Tempo, Koran Tempo, www.tempo.co di atas tahun 2000  tidak  kenal Buni Yani. Saya melacak ke Pusat Data Analisa Tempo apakah ada tulisan-tulisan Buni Yani yang masih tersimpan, staf PDAT menyatakan tidak ada. “Mungkin tulisannya ada dalam kliping-kliping Tempointeraktif.

Dengan waktu yang demikian singkat di Tempointeraktif, menurut saya Buni Yani belum banyak mendapat ilmu jurnalistik Tempo. Di kami seorang reporter,  baru menjadi karyawan jika ia berhasil melewati  masa percobaan minimal sembilan bulan. Selama itulah dia digelontori berbagai hal berkaitan dengan jurnalisme:  kode etik wartawan, hukum pers, teknik wawancara, cara menembus sumber, menulis feature,  dan lain-lain. Selama itu ia turun ke lapangan, diputar-putar di berbagai pos: politik, hukum, ekonomi, metro dan sebagainya.

Etika jurnalistik  itu termasuk pula di dalamnya  kejujuran melakukan wawancara berikut men-transkrip hasil wawancara. Akurasi dalam penulisan, termasuk akurasi  mentranskrip wawancara adalah wajib hukumnya. Itu karena akurasi adalah mahkota bagi seorang wartawan.

Jika wartawan menghilangkan dengan sengaja pendapat atau kalimat penting seorang narasumber, ia telah melakukan kesalahan besar. Di kami, Tempo, sengaja atau tidak sengaja, itu mendapat sanksi –selain mesti meminta maaf pada narasumber.

Budi Yani tak lengkap mentranskrip kalimat Ahok  -hal yang diakuinya. Ia melewatkan –atau tidak mendengar-   kata “pakai” yang diucapkan  Ahok.

Biar polisi yang mengusut ini. Biar para hakim  –jika perkara ini ke meja hijau- yang memutuskan  apakah perbuatan Buni merupakan perbuatan  pidana atau tidak. ***

 

5 thoughts on “Buni Yani Tak Mampir di Tempo

  1. informasi menarik … namun perlu juga saya sampaikan bahwa saya tidak melihat postingan video BY, tapi dari salah satu grup dan gak baca transkrip tulisannya, cuma lihat dan dengar … saat itu juga saya berpikir .. ini bakal jadi kasus yang ramai .. soalnya “dibohongi pakai surat al maidah ayat 51” itu semantiknya adalah : Surat Almaidah ayat 51 merupakan alat kebohongan yang digunakan oleh sebagian orang. Ini benar-benar suatu pernyataan yang fatal kesalahannya. Sehari kemudian saya baru lihat di twitter ada tagar #SaveBuniYani .. baru saya tau kalau BY ada kasih transkrip teks “Dibohongi [tanpa pakai] Surat Al Maidah Ayat 51″… kalau secara subjektif .. saya kurang suka lihat ekspresi BY tapi itu gak adil juga kan 😀

  2. Yang saya tahu kasus Ahok ini bukan hanya perkara salah mentranskrip video. Lebih dari itu ini adalah soal karakter pribadi seorang Ahok yang banyak orang menganggap arogan , tidak punya etika dan toleransi, lebih condong ke pemodal dan bukan rakyat dan bahkan seorang Rizal Ramli yang saya baca mengkritiknya sebagai sumber kekacauan.

  3. komen di bawah di copas dari akun FB Rahmat Hidayat

    Buitenhof adalah acara politik di TV yang berpengaruh yang tayang tiap hari Minggu di salah satu stasiun terkemuka Belanda. Acara ini menghadirkan politikus, saintis, artis, pengambil kebijakan, wakil dari buruh dan serikat pekerja, pendek kata mereka yang berpengaruh secara politik. Hari Minggu kemarin Buitenhof mengundang Henk Schulte Nordholt sebagai salah satu panelis. Ia diundang terkait dengan buku terbarunya dan demonstrasi besar di Jakarta 4 November silam.

    Bagi para Indonesianis dan mahasiswa Leiden berikut alumninya, Nordholt tak asing lagi. Ia professor sejarah Indonesia. Ia kerap muncul di seminar dan simposium tentang Indonesia. Beberapa kali saya melihatnya berbicara di forum. Ia tajam, agak saklek. Reputasinya sebagai ahli sejarah Indonesia tak diragukan lagi. Ia ketua IIAS (International Institute of Asian Studies) dan sekretaris di EuroSEAS (European Association for Southeast Asian Studies).

    Di acara itu ia bicara tentang demo 4 November dan Ahok. Tak banyak hal baru yang ia kemukakan di dalam segmen 7 menit ini. Ia menyebut Ahok, penyebab demonstrasi, sebagai kasus yang unik. Gubernur kristen, cina dan tidak korup. Ia memuji Ahok sebagai gubernur yang bekerja dengan baik, ia bahkan menggunakan kata geweldig dua kali. Ia menekankan kata tidak korup. Si pembawa acara, Pieter Jan Hagens, mengulanginya dengan sedikit tertawa. Saya kira mereka berdua maklum dengan budaya korupsi yang berakar di Indonesia.

    Ia menyebut kerja Ahok yang baik, salah satunya bahwa Ahok sibuk membangun proyek infrastruktur buat Jakarta, di mana tentunya tak semua orang terlibat.

    Yang menarik bagi saya adalah saat Hagens mengungkit salah satu pemicu demonstrasi ini. Ia bertanya ke Nordholt, Anda kenal salah satunya. Nordholt menjawab ya. Ia mahasiswa PhD yang ditempatkan dengan saya di sebuah proyek penelitian, jelas Nordholt. Hagens mengejar, namanya siapa. Nordholt menolak menyebutkan. Katanya, tidak, saya kira namanya tak penting. Ia tidak seharusnya mendapat perhatian dan terkenal dengan cara semacam ini. Ia berprestasi terlalu sedikit, tidak menulis dan kami sudah memutuskan untuk tak lanjut dengan dia.

    Ia melanjutkan dengan kisah yang sudah sama kita tahu. Buni Yani yang mengupload video Ahok di Pulau Seribu yang sudah diedit dan membuat transkrip yang tak lengkap yang lalu dianggap melecehkan Quran.

    Hagens, setelah mendengar pemaparan Nordholt, mengulangi: jadi ini tentang mahasiswamu yang malas, yang tak mau mendengar professornya, yang memanipulasi video, memostingnya di facebook dan menyebabkan demonstrasi ini. Nordholt mengiyakan, lalu kemudian menambahkan bahwa ini tak sepenuhnya tentang Islam, dan berlanjut tentang masalah yang dihadapi Ahok sebagai gubernur saat menangani banjir dan membersihkan daerah bantaran sungai.

    Oya, buku-buku Nordholt di tahun 2016 adalah Citizenship and Democratization in South East Asia dan Een geschiedenis van Zuidoost-Azië.

    link acara televisi:
    http://www.vpro.nl/speel~POMS_AVRO_5891410~machtsstrijd-in-jakarta~.html

  4. BY sudah di’keluar’kan oleh Leiden karena tidak berprestasi dan malas… hal ini dijelaskan oleh pembimbingnya dr leiden dalam acara televisi politik belanda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s