Berkunjung ke Museum Peta 1 (sejarah Peta dan alumninya)

Kalau liburan ke Bogor jangan hanya mencari Kebun Raya, atau hanya kuliner.  Cobalah, apalagi jika membawa anak, mampir dan melihat-lihat  Museum Peta.

Ya, siapa orang Indonesia yang tidak kenal Peta? Setidaknya saat kita di bangku sekolah, kita mengenal kata “Peta”  -Pembela Tanah Air itu-  berkaitan dengan Supriyadi.  Supriyadi dan Peta tak terpisahkan. Kita mengenalnya sebagai: “Pemimpin tentara Peta yang memimpin pemberontakan terhadap Jepang di Blitar….”

Bendera Peta dan Supriyadi

Bendera Peta dan Supriyadi

Nah, di Bogor itulah tempat pendidikan para anak muda Indonesia untuk menjadi tentara Peta. Letaknya di Jalan Panglima Sudirman, sangat strategis, karena itu jalan utama masuk ke “mulut”  pintu Istana Bogor.

Tentara Peta adalah bentukan Jepang. Ini cara Jepang mengambil hati bangsa Indonesia dengan mendidik mereka menjadi tentara, walau sebenarnya itu dibutuhkan Jepang untuk menghadapi musuh mereka, yakni,  Amerika, Belanda, dan Inggris.

Sebenarnya cikal bakal Peta adalah di Tangerang. Ketika itu, pada Januari 1943  Jepang membuat pendidikan militer untuk anak-anak Indonesia yang disebut Pusat Latihan Pemuda atau Seinen Dojo. Di sinilah sejumlah anak muda Indonesia seperti Supriyadi (yang kemudian memimpin pemberontakan di Blitar), Daan Moogot, Kemal Idris, Amir Machmud dididik. Jadi, mereka bukan tentara hasil didikan Peta, Bogor.

Nah, sukses dengan pendidikan di Tangerang itu, Jepang lantas membuka Peta yang berpusat di Bogor. Itu terjadi pada Oktober 1943.  Permintaan pendidikan tentara itu juga diajukan  oleh sepuluh ulama  -antara lain K.H.Mas  Mansur. Alasannya diperlukan Barisan Penjaga  Islam untuk menjaga pulau Jawa.

Jepang mengabulkan, tapi dengan nama PETA  bukan Barusan Penjaga Islam. Ada pun identitas islam muncul dalam panji-panji Peta, yakni bulan bintang di tengah matahari yang dibuat oleh Mutakat Hurip, alumni Seinen Dojo Tangerang.

Jepang selektif dalam menerima mereka yang masuk Peta. Rakyat kebanyakan sulit masuk . Maka yang menjadi siswa Peta adalah putra bangsawan, ulama, guru, pamongpraja,  dan sejenisnya. Mereka dididik selama empat bulan dan setelah itu dikembalikan ke daerah asalnya dan di sana membentuk batalyon. Mereka inilah yang kemudian setelah Indonesia merdeka menempati pucuk-pucuk pimpinan TNI, seperti Ahmad Yani, Soeharto (Presiden), Sarwo Edhi Wibowo, Kemal Idris, dan Daryatmo (bekas Ketua DPR/MPR) dll.

Beberapa pekan lalu saya main ke tempat pendidikan Peta yang kini  menjadi “MUSEUM PETA” itu. Saya ada janji dengan seorang bekas tentara Peta yang menjadi  juga menjadi sesepuh pengurus Yayasan Peta, Pak Imam Soepomo.

Di pintu gerbang Museum berdiri patung Supriyadi  dengan tangal mengepal ke atas. Heroik, sekaligus indah.

Pintu Gerbang dengan Patung Supriyadi

Pintu Gerbang dengan Patung Supriyadi

Gerbang masuk ke asrama Peta ini, demikian menurut Pak Imam, tidak berubah. Tetap seperti tahun 1944  saat dia di sana dididik bersama ratusan teman-temannya dari berbagai daerah di  Pulau Jawa.

Begitu kita melewati “lorong pintu” gerbang kita disambut Patung Jenderal Sudirman, “alumni” Peta, yang berdiri  anggun.

peta-sudirman

Ada relief  yang menggambarkan bagaimana anak-anak muda Indonesia dididik menjadi tentara Peta. Yang menarik di situ  juga tertulis nama-nama mereka yang pernah mendapat pendidikan dan kemudian ke mana mereka ditempatkan. Jadi, jika Anda memiliki kakek, atau eyang buyut yang pernah dilatih menjadi tentara Peta, cobalah cari, siapa tahu namanya ada di sana.

peta-relif

 

20161126_113657

 

Di kompleks ini bangunan-bangunan tempat aktivitas pendidikan Peta masih berdiri tegak dan  masih difungsikan. Memang, Museum ini hanya bagian dari Kompleks yang kini dijadikan Pusat Pendidikan Zeni TNI AD.

Museum Peta menempati dua gedung. Di dalam museum yang diresmikan pada 18 Desember 1995 ini  terdapat berbagai hal yang berkaitan dengan sejarah Peta: misalnya pedang, seragam Peta, senjata, dll. Ada 14 diorama yang menggambarkan berbagai hal yang berkaitan dengan Peta.

20161126_134100

20161126_134120

Menyusuri tempat ini,  memandang Pernik-pernik Peta,  terbayang wajah-wajah anak-anak muda Indonesia yang demikian semangat,  bergairah belajar berbagai ilmu kemiliteran untuk memerdekakan negeri mereka: Indonesia.

Karena itu, kalau ke Bogor, cobalah mampir ke museum ini. Gratis, tidak bayar masuknya, dan areal parkirnya lapang.

20161126_135419

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s