Berkunjung ke Museum Peta 2 (Ceritra mantan tentara Peta)

Suaranya masih jelas, pikirannya masih jernih. Pak Imam Soepomo dengan detail menceritrakan bagaimana ia selama sepuluh bulan dilatih menjadi tentara Peta (Pembela Tanah Air)  oleh Jepang.

“Karena saya bagian intel, maka setelah pendidikan empat bulan, kami yang intel mendapat tambahan pendidikan selama enam bulan,” katanya.

20161126_112109

Hari itu, beberapa pekan lalu, saya janjian bertemu dengan Pak Imam di Museum Peta, Bogor. Ia memakai tongkat kendati jika tidak memakai pun, menurut saya,  ia tetap  masih bisa berjalan normal, untuk jarak tertentu.

Pak Imam Soepomo, sang prajurit Peta (kiri)

Pak Imam Soepomo, sang prajurit Peta (kiri) di bawah patung Jenderal Sudirman yang juga alumnus Peta

Pada 1943 Pak Imam, yang saat itu kelas 3 AMS –sekolah setingkat SMA di zaman Belanda-   memasuki pendidikan  Peta di Bogor. Ia masuk angkatan kedua. Ketika itu ia  harus bersaing dengan sekitar 200 pelajar Solo untuk bisa lolos dari tahap pertama di Solo  sebelum kemudian disaring lagi di Yogyakarta. “Dari Solo yang lolos hanya sedikit,” katanya.

Tak sembarangan pemuda Indonesia yang bisa mendaftar menjadi anggota Peta. Bukan harus sehat fisik jasmani, tapi mereka juga mesti dari golongan kelas menengah ke atas:  ningrat, ulama, pamonpraja, dan “kelas sejenisnya.” Orangtua Pak Imam adalah guru  -jabatan yang memberinya tiket untuk ikut tes masuk Peta.

"Tentara Peta" di Museum Peta

“Tentara Peta” di Museum Peta

Senjata anggota Peta yang tersimpan di museum

Senjata anggota Peta yang tersimpan di museum

20161126_112425

Barang-barang peninggalan prajurit Peta yang disumbangkan keluarganya. (Menurut petugas, benda-benda ini disumbangkan sejarawan Himawan Sutanto)

Pak Imam berceritra, selama empat bulan, bersama sekitar 500 pemuda Indonesia ia dilatih di pusat pendidikan Peta di Bogor. Dari Senin sampai Minggu, dan libur hanya  hari Jumat.  “Setelah Jumatan ada waktu kosong, sampai menjelang magrib, itu saat kami bisa santai dan menerima teman-teman yang berkunjung, ” ujarnya. “Tapi tidak boleh keluar asrama, tetap di sini saja.”

Saat berceritra matanya sesekali menerawang ke gedung-gedung yang ada di kompleks museum Peta.  Beberapa diantaranya dulu adalah tempat belajar dan asrama bagi anak muda Indonesia yang mengikuti pendidikan Peta. Mungkin ia membayangkan berpuluh tahun lalu dia pernah berpeluh berkeringat  mengikuti di tempat ini. Atau ia membayangkan teman-temannya yang  sudah gugur….

Asre

Asrama Peta yang dipakai TNI AD hingga sekarang

Para alumni Peta yang masih hidup hingga hari ini  mungkin bisa dihitung dengan jari. Mereka kini berhimpun dalam Yayasan Peta. Di Yayasan ini Pak Imam menjadi sesepuhnya. Pak Imam menyebut sejumlah teman-temannya, sesama mantan anggota Peta yang usianya bahkan jauh di atasnya. “Ada yang 96  tahun,  kapan-kapan nanti kita ketemu dengan beliau,” ujarnya.

Banyak alumni Peta yang setelah Proklamasi Kemerdekaan  kemudian menjadi pejabat penting di negeri, seperti misalnya, Soeharto, Kemal Idris, Ahmad Yani, Sudirman dll   Dan tampaknya sepanjang mereka tidak macam-macam, karir mereka bagus.

Itu  tak mengherakan.  Pertama, karena memang tentara Peta dididik secara profesional. Mereka memiliki ketrampilan militer bagus hasil didikan Jepang. Kedua, para alumninya, seperti kita ketahui, kemudian menjadi petinggi militer. Ini yang kemudian “menarik” alumni Peta lain menduduki jabatan militer begitu Indonesia merdeka. Setelah Proklamasi, untuk mengisi formasi pimpinan TNI tak ada pilihan lain memang selain mengambil alumni Peta itu.

Pak Imam juga memiliki karir militer yang bagus. Ia pernah bekerja di BIN dan kemudian menjadi duta besar di sejumlah negara, antara Papuas Nugini dan Madagaskar. Pangkat terakhirnya  brigadir jenderal. “Menjadi duta besar dulu, seleksinya ketat kalau istrinya dinilai tidak mendukung, tidak kompak, gagal,” ujarnya.  Menurut dia ada tim khusus yang meneliti secara ketat latar belakang calon dubes tersebut.

Kami menelusuri daftar nama para alumni Peta yang namanya terukir di bawah patung Jenderal Sudirman yang juga alumni Peta. Pak Imam menunjukkan sejumlah nama yang dikenalnya –dan mungkin dulu sahabatnya saat pendidikan. “Lihat ini, ini Pak Daryatmo, teman saya di MULO, Solo,” ujarnya menunjuk nama Daryatmo yang kemudian, kelak, menjadi Ketua DPR/MPR pertama dari kalangan militer tersebut.

Menunjukkan nama-nama alumni  Peta yang terukir di bawah Patung Jenderal Sudirman

Menunjukkan nama-nama alumni Peta yang terukir di bawah Patung Jenderal Sudirman

Sebagai  tentara intelijen, Pak Imam berkisah, ia  mendapat pendidikan khusus yang berbeda dengan tentara lain. Misalnya, mengirim pesan-pesan rahasia yang memakai sarana binatang. “Binatang yang bisa digunakan merpati atau kuda,” ujarnya. Untuk merpati, demikian ia berkisah, mereka berlatih di Pelabuhan Ratu, Sukabumi. “Merpati kami lepas, dan mereka bisa mendarat di markas kami, Peta Bogor,” ujarnya.

Pak Imam rupanya demikian dikenal oleh para penjaga museum. Mereka memberi salam takzim, setiap melihat Pak Imam.  Kami juga diberi pinjaman ruang kecil –tampaknya ruang pengurus museum- untuk  berbincang-bincang.   Saya juga memberinya salam yang samaa saat mengantarnya pulang. Dengan mobil kecilnya ia kembali ke Jakarta. Saya berdoa semoga  Tuhan memberinya umur panjang.

 

 

 

 

One thought on “Berkunjung ke Museum Peta 2 (Ceritra mantan tentara Peta)

  1. halo, bisa minta contactnya pak Imam ? kami mau undang untuk acara kantor.. terima kasih. mohon dapat di feedback…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s