Cerita Hantu Kampus IPB (3-bagian terakhir)

Salah satu ruang yang kini tidak pernah dipakai lagi adalah ruang , yang konon, dipakai untuk laboratorium kimia. Letaknya di sudut paling belakang, di lantai dua.  Saya mengajak dua mahasiwa itu ke sana. Mereka  mengaku pernah ke sana. “Tapi kalau sendirian apalagi malam, saya nggak mau, takut,” katanya. Saya mengangguk. Siang hari pun, kalau sendiri saya juga tidak mau. Menuju tempat itu, pertama  kita menyusuri koridor sepanjang  50 meter yang lengang.

ipb-lorong

Benar-benar sepi walau koridor ini bersih. Sebelum belok ke kiri menuju ruang laboratorium itu, di sebalah kanan, saya  menemukan lift yang disebut mahasiswa itu. Modelnya benar-benar lift zaman dulu.  Keterangan dalam tombolnya hanya menunjuk “tiga tujuan lift” itu.  Lantai 1 (ya lantai tempat saya berdiri), lantai bawah, dan kemudian bunker.  Menurut informasi,  gedung ini memiliki tiga lift semacam. Semuanya sudah tidak bisa dipakai.

Lift kuno tak terpakai

Lift kuno tak terpakai

Kemudian saya berjalan ke kiri, menuju sebuah lorong yang kumuh, dan jelas, dari penampakannya saja, jarang dimasuki orang. “Ayo ini tempat bagus untuk foto-foto,”  kata saya kepada dua mahasiswa di belakang saya.

Lorong menuju ruang laboratorium

Lorong menuju ruang laboratorium

 

Pelan-pelan saya menyusuri lorong itu, dan kemudian, sampailah  pada sebuah ruangan yang agak porak poranda: bangku-bangku tua yang teronggok, botol-botol berdebu tebal  (mungkin tempat bekas tempat cairan kimia) yang diletakkan di lantai, jejeran kayu-kayu di dinding (mungkin tempat meletakkan gelas atau botol kaca untuk praktikum, dan sampah-sampah, entah sampah apa. Ruangan yang sama sekali tak terurus.

Saya melihat sebuah kalender tergantung. Saya amati  tahunnya: 1996. Jika ruangan ini dipakai terakhir pada 1996, berarti sudah 20 tahun ruangan ini tidak dipakai.

20170108_103317 20170108_104147 20170108_103345

Kanan pojok, pintu menuju ruang lain

Kanan pojok, pintu menuju ruang lain

Tapi, rupanya di pojoknya ada semacam pintu yang menghubungkan dengan ruang lain. Ruang apa lagi itu…

Saya berjalan ke sana, melongok, dan, sebuah ruangan yang lebih porak poranda terlihat di depan mata. Jelas dua ruang ini sama-sama merupakan dua ruang laboratorium yang mempunyai fungsi berbeda. Ruangan yang terakhir ini langit-langitnya lebih rendah. Benar-benar terpencil.  Ruang ini, memang cocok untuk dijadikan arena “uji nyali.” Saya merasa bulu kuduk saya berdiri. Bisa jadi ruang ini, selama belasan atau mungkin puluhan tahun tidak pernah dimasuki seorang pun. Saya melihat berbagai kotoran, mungkin kotoran burung ada di atas sejumlah meja yang sudah digayuti sarang laba-laba. Tempat ini mengingatkan saya ruang-ruang seperti dalam film drakula.

Ruang itu...

Ruang itu…

20170108_103709

Menjadi sarang laba-laba

20170108_103605

Baju pratikum yang tertinggal

20170108_103803 20170108_103951

 

Saya membayangkan berapa puluh, atau ratus mahasiswa IPB dulu silih berganti pernah melakukan praktek di laboratorium itu. Memakai baju lab warnah putih (saya menemukan satu, entah punya siapa di situ), mungkin dari pagi hingga malam untuk menjadi ahli pertanian. Ahli pertanian yang akan membangun Indonesia seperti  diharapkan Presiden Soekarno dalam pidatonya yang diberinya judul  “Soal Hidup atau Mati”  saat peletakan batu pertama pembangunan kampus ini pada tahun  1952

Dari ruang ini,  ada ventilasi  untuk melihat ke luar, ke bagian belakang kampus. Tapi, tetap saja jika ada apa-apa, pintu keluarnya adalah melalui lorong yang saya lewati tadi. Bau pengab dan membayangkan berbagai macam yang bisa jadi ada di ruang ini, membuat saya segera  meninggalkan ruang itu.

Keluar dari dua ruang terpencil  itu, menyusuri koridor yang pertama saya lewati, ada sebuah lorong lain ke kiri. Seseorang duduk  di sana.  Namanya Dadang dan mengaku sebagai petugas kebersihan sebuah lembaga milik IPB. Sudah enam tahun ia bekerja di tempat ini.  Saya tanya dia tentang ceritra seram di kampus ini.  “Saya juga sering mendengar ceritra-ceritra seram gedung ini, tapi bagaimana lagi, saya kan harus kerja,” katanya. Dadang tinggal di Bantarjati yang terletak sekitar satu kilometer dari kampus IPB.

Di depan ruang lembaganya rupanya ada lift yang bentuknya persis seperti lift yang pertama saya lihat. Berarti ini lift kedua.

“Benar lift ini turun sampai bunker?” tanya saya.  Dadang mengangguk. “ Ruang paling bawah itu isinya sebenarnya instalansi listrik, ini katanya lift yang ada paling pertama di Bogor, “ katanya lagi.

“Kenapa nggak berfungsi?” tanya saya.

Dadang mengelus tombolnya yang berkarat.

“Dulu katanya ada orang Belanda yang pakai lift ini, tapi terkunci dan mati di dalamnya.  Sejak itu, lift ini tidak dipakai. Itu yang saya dengar dari para petugas di sini yang sudah bekerja lebih lama dari saya,”  ujarnya lagi.

Dadang dan lift kuno

Dadang dan lift kuno

Saya mengangguk-angguk dan minta diri. Jam sudah menunjuk hampir pukul 10.30. Hampir dua jam lebih saya keliling-keliling di kampus tua ini, kampus yang dari rahimnya keluar banyak orang-orang hebat yang namanya waktu SMP dan SMA sering saya dengar: Prof.  Doktor Andi  Hakim Nasution,  Prof.  Dr Sjamsoe’oed Sadjad, dan lain-lain. Orang-orang hebat itu, dulu mungkin menghabiskan waktunya siang malam di kampus ini.

 

 

 

One thought on “Cerita Hantu Kampus IPB (3-bagian terakhir)

  1. Lab kimia organik dan kimia fisik. Kimia 38 masih ngelab di sini. Penelitian skripsi saya di kedua lab ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s