Menonton Debat Pilkada DKI di Tempo

Debat Pemilihan Gubernur  DKI Jumat malam kemarin kemeriahannya juga muncul di kantor saya, Tempo. Itu lantaran teman-teman redaksi Tempo.co menggelar  acara  nobar –nonton bareng- plus menghadirkan empat “orang luar” untuk mengomentari dan berdiskusi  soal   penampilan dan materi ke tiga “paslon”  -ini akronim yang aneh juga, kenapa tidak “pascal” misalnya?, Agus Yudhoyono ,  Basuki Tjahaya “Ahok” Purnama, dan Anies Baswedan. Para “orang luar itu,” adalah: pengamat kota Elisa Sutanudjaja, pengamat sosial budaya JJ Rizal, pengamat lingkungan Emmy Hafild,  dan pengamat ekonomi Sri Palupi.

debat1

Walau acaranya dimulai bertepatan dengan debat di Gedung Bidakara (tempat para “paslon” berdebat), toh persiapan di kantor Tempo sudah heboh sejak pagi: ruangan  dibersihkan, kursi-kursi sudah diatur, kamera-kamera  dipasang, juga sejumlah teman-teman ke sana- ke mari menenteng-nenteng perangkat pembuat kopi.

debat3

Oh ya, soal kopi ini,  di Tempo  ada komunitas yang menamakan dirinya “Ngopi di Kantor.”   Kelompok ini benar-benar para pecinta kopi sejati yang bisa jadi akan memeloti kita, jika kita, misalnya,  membuat kopi dicampur gula pasir. Kelompok ini rajin menyeduh kopi di kantor dengan rentetan “ritualnya” yang mungkin membuat kita yang biasa minum kopi  cap Kapal Api, dan “sekelasnya” geleng-geleng kepala.

Anggota “Ngopi di kantor” itu  mendatangkan biji-biji kopi pilihan dari sejumlah tempat, menggilingnya dengan  alat khusus, memasaknya dengan suhu khusus, dan menyaringnya dengan kertas khusus. Semua serba “khusus.”  Lalu, memang,  jadilah kopi dengan rasa dan aroma yang sedap bukan kepalang.  Kelompok Ngopi di kantor ini kerap mendedikasikan diri mereka  -maksudnya menyediakan kopi mereka yang sedap itu dengan gratis-  pada  acara-acara di Tempo, seperti misalnya, debat kemarin itu. Penampilan mereka pun bak barista hotel berbintang.

Perihal adanya kamera yang dipasang, kalau yang ini kerjaan dari teman-teman Tempochannel, divisi lain Tempo yang bergerak dalam pembuatan video komersial.  Acara kemarin itu memang disiarkan langsung lewat tempochannel.com  yang juga bisa dilihat melalui  tempo.co. Karena acara ini disiarkan live dan disebarkan melalui medsos, maka sepanjang acara itu, para penonton,  sebagian besar para karyawan Tempo, bisa melihat dan membaca berbagai komentar orang  lewat twitter yang ditayangkan di layar.

crew tempochannel

Seperti di Bidakara,  acara nobar debat  yang berlangsung di lantai V Gedung Tempo itu juga meriah. Teriakan-teriakan “hidup Agus, ”hidup Ahok,” hidup Anies” sesekali terdengar dari kursi penonton.  Saat kamera , dari kameraman Tempochannel,  menyorot mereka yang duduk di kursi, spontan teman-teman  berteriak sambil mengangkat tangan.  Karena saya datang terlambat,  awalnya saya heran kenapa mereka demikian “histeris,” –padahal sebelumnya diam.   Rupanya ada  yang memberi aba-aba, mereka mesti heboh jika kamera sedang  “menyapu”  mereka. Ada-ada saja…  “Kita kayak anak alay di TV yang setelah itu dibayar gocap ya,” ujar seorang teman yang menemani saya duduk di belakang  sambil tertawa.

Saya tidak lama menonton acara nobar  itu.  Nobar dengan jumlah “peserta” terbatas juga terlihat di ruang redaksi, di ruang perpustakaan, dan ruang kendali berita. Di sini penontonnya lebih santai dan jumlahnya tak banyak. Mereka bergerombol di depan TV.  Ada yang selonjoran di kursi, ada yang kakinya di atas meja, ada yang nonton sambil mengetik berita, memijati teman di depannya dll.  Saya menonton, lebih banyak, di dalam ruang saya yang kiri-kanannya, penghuninya sedang keluar.

Kesan saya tentang debat ini, Ahok muncul dengan santai dan terkesan tanpa problem. Ibaratnya, ia bak tengah bertemu dengan seorang teman, dan bercerita apa saja yang ia lakukan. “Silakan, percaya boleh, tidak juga tidak apa-apa…”  kira-kira begitu.   Anies terkesan berupaya menggugat Ahok, “menyerang”  Ahok,  karakter yang selama ini, setidaknya bagi saya, “bukan karakter Anies”,  karena persepsi kita soal Anies adalah pribadi  santun, lembut. Ada pun Agus, tidak menyerang,  tapi menjual program, dan terutama menjanjikan pemberian duit  tunai.  Sesuatu yang mungkin menarik buat masyarakat bawah.

Para paslon itu jelas sudah bersiap diri, sudah berlatih, sebelum muncul.  Ini pertarungan politik, dan wajar mereka melakukan apa pun, tentu sepanjang tidak melanggar etika politik.  Ahok muncul dengan santai, penuh senyum, bisa jadi  karena  sadar posisinya: yang terjepit, sudah di demo di mana-mana, sedang menghadapi sidang pengadilan, dan bisa jadi, seperti banyak dikatakan orang,  tak akan terpilih lagi. Menurut saya Ahok seperti  nothing to lose  dan itu  justru membuat ia nyaman, tanpa beban,  menjawab sindiran atau gugatan  paslon lain. Ia tinggal mengeluarkan data, menyebutkan apa saja yang telah ia lakukan untuk Jakarta.  Tampil seperti itu, menurut saya, justru membuat ia unggul.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s