Cerita Restoran Indonesia di Paris, Cerita tentang Anita Sobron Aidit

Akhirnya sampai juga saya ke sini: Restoran Indonesia, Paris. Dua kata yang mungkin biasa saja bagi orang awam  -hanya sebuah nama-   tapi tidak untuk mereka yang mengalaminya –atau mengetahuinya.

20170211_191624

Ini restoran yang di dalamnya mungkin teraduk-aduk berbagai kisah: kesunyian, kemarahan, keputusasaan, kerinduan yang meluap-luap kepada mereka di tanah air, juga, kemudian,  keberanian menghadapi ketidaktentuan, kesetiakawanan, dan tentang  memelihara dengan segala cinta apa yang disebut “harapan.”

Restoran Indonesia yang beralamat  di-12 rue de vaugirard, Paris,  telp: 01 43257022  (demikian tertera di kartu namanya)  ini didirikan  sejumlah orang Indonesia yang tidak bisa pulang ke Indonesia setelah huru-hara peristiwa G30S –yang dalam sejarah Indonesia Orde Baru disebut peristiswa G30S/PKI.  Mereka tidak boleh pulang, paspornya “dicabut” karena dianggap PKI atau saudara PKI atau alasan lain yang pada ujungnya menyangkut setidaknya dua hal: PKI atau Soekarnois.

Cerita sekitar anak muda Indonesia di Paris yang kemudian membuat restoran ini pula, antara lain, yang diceritakan  Leila S. Chudori  dalam novelnya Pulang. Novel ini sudah diterjemahkan dalam sejumlah bahasa asing. (Kepada saya  Leila bercerita saat membuat novel tersebut  ia beberapa kali mengunjungi Restoran Indonesia  dan mewawancarai sejumlah orang Indonesia di Paris yang dulu di zaman Orde Baru “tidak bisa pulang,”   termasuk  Ibrarruri Putri Alam  (demikian nama lengkapnya) , anak sulung  D.N Aidit, Ketua Partai Komunis Indonesia.).

wpid-pulang-leila-s-chudori

Sejumlah anak muda yang mendirikan restoran itu:  Sobron Aidit, A. Umar Said, Budiman Sudharsono, dan JJ Kusni.  Saat peristiwa berdarah itu meletus Sobron tengah di RRC. Adik D.N Aidit ini  tengah menjadi Guru Besar Sastra dan Bahasa Indonesia di Institut Bahasa Asing Beijing, selain juga menjadi  wartawan untuk Peking Review.  Sobron dikenal sebagai penulis dan sastrawan. Ia menulis sejak usia 13 tahun dan pernah beberapa kali meraih penghargaan dalam dunia sastra.

Begitulah, setelah G30S meletus, dan seluruh anggota PKI seperti sekawanan anak ayam yang tak berdaya dan dikejar di mana-mana, Sobron juga mengalami nasib yang tak kalah tragis  -hal  sama dialami banyak pemuda yang di zaman Soekarno tengah belajar di luar negeri, terutama di negara negara Eropa Timur. Mereka dicap sebagai anggota PKI, paspor dicabut, terlunta-lunta, pindah dari satu kota ke kota lain, dan bekerja apa saja,  demi menyambung hidup.  Sobron sempat berpindah ke sejumlah tempat, termasuk,  Hongkong sebelum kemudian pada 1981 pindah ke Prancis. Ia memiliki dua anak, istrinya meninggal di RRC.

Hal sama  dialami Ibarruri dan adik-adiknya yang saat itu tengah sekolah di Uni Sovyet –Rusia kini. Pasca peristiwa G30S, Ibarruri, yang sejak usia belia dikirim Aidit belajar di Uni Sovyet, kemudian hidup berpindah-pindah di Cina. Tentang  kisah Ibraruri ini, silakan baca buku ini:  Ibarruri Putri Alam.

ibarruri-putri-alam

Di buku ini Ibarruri bercerita banyak tentang sosok ayahnya, D.N Aidit dan juga ibunya, Soetanti, dokter pertama Indonesia yang menekuni  ilmu akupuntur. Soetanti adalah  cucu Bupati Tuban, Koesoemodigdo, bupati yang memiliki perpustakaan terlengkap di antara bupati pada zamannya.

Adapun  Umar Said adalah wartawan Harian Rakyat dan tengah berada di Aljazair untuk mempersiapkan Kongres Wartawan Asia-Afria ke-2 saat peristiswa G30 S meledak.

Kembali ke Restoran Indonesia. Didirikan  pada   14 Desember 1982, restoran ini berbentuk badan hukum koperasi. Modal awalnya, antara lain, dari bantuan Pemerintah Prancis, Belanda, Gereja Katolik,  serta sumbangan sejumlah donatur. Sejumlah tokoh penting pernah singgah di tempat ini, termasuk Presiden Prancis Mitterand dan istrinya, juga tokoh NU, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur.

Semangat pendiriannya, tidak hanya untuk memberi pemasukan, sebagai upaya untuk hidup, para pendirinya , juga mengenalkan budaya Indonesia. Karena itu di Restoran ini pernah digelar pameran atau pun diskusi dengan tema, antara lain, tentang kebudayaan Indonesia.

Sobron, Umar, dan Sudharsono sudah  meninggal. Sobron meninggal pada 2007 dan sobatnya, Umar, menyusul empat tahun kemudian.   Kini yang masih hidup  J.J Kusni.  J.J Kusni atau Kusni Sulang adalah budayawan Dayak dari Kalimantan Tengah. Karena rumah saya di Palangkaraya, saya berharap suatu ketika bisa bertemu pria luar biasa ini. Mudah-mudahan….

Maka, malam itu setelah melihat-lihat gedung Museum Louvre yang di bawahnya ternyata ada mall  -dan lebih ramai dibanding “di atasnya” sampailah kami di Restoran Indonesia. Mulanya saya ragu-ragu, apakah ini Restoran Indonesia yang saya kenal itu. Ketika saya tanya kepada seorang perempuan yang menurut saya “pemilik” restoran itu, apakah ini Restoran Indonesia yang didirikan Sobron Aidit, ia menjawab: “Benar, saya Anita, putrinya Sobron…..”  Anita lah  -ibu dua anak ini yang kini mengelola restoran yang terletak di jalan yang konturnya agak menurun tersebut.

Bu Anita  -ia memiliki darah Aceh-  sangat ramah. Ia senang ketika melihat tamu-tamunya  dari Indonesia. Bahasa Indonesia bagus  -ia menguasai sejumlah bahasa, termasuk Cina dengan sangat baik-  dan gembira ketika saya menyodorkannya  “oleh-oleh”  Majalah Tempo yang kebetulan ada di dalam tas saya. “Salam untuk teman-teman di Jakarta,” katanya. Ketika saya tanya di mana J.J Kusni dan Ibarruri ia menjawab, “Pak Kusni mungkin di Kalimantan  kalau Ibarruri ada di sini, Paris….” Menurut Bu Anita, teman-teman ayahnya sudah jarang datang ke restoran ini. “Mungkin karena mereka sudah tua-tua ya….” ujarnya.

20170211_195733

Walau namanya Restoran Indonesia, tapi pelanggan rumah makan ini banyak orang bule.  Saat saya datang Sabtu awal Februari lalu, seluruh lantai satu dan bawah restoran ini penuh. Menu restoran ini memang masakan Indonesia: ada nasi goreng, gado-gado, juga sate.

20170211_202554

Bahan bumbunya, kata Bu Anita, antara lain dibeli di Belanda  -sekitar empat jam perjalanan darat dari Paris.  Pelayannya, juga juru masaknya adalah pria  -dan saat saya ajak ngobrol, mereka sama sekali tak mengerti bahasa Indonesia. Oh, ya, mungkin karena ini  negeri barat, porsi makanannya pun porsi orang barat. Banyak, dan menyenangkan, khususnya  bagi mereka yang kelaparan…

Koki di Restoran Indonesia, Paris

Koki di Restoran Indonesia, Paris

Masuk ke restoran ini, dari pintu masuk, sudah terlihat “aroma” Indonesianya. Dinding-dindingnya banyak berhiasan gambar-gambar yang berkaitan dengan segala hal yang berhubungan dengan daerah di Indonesia: Jawa, Kalimantan, Sulawesi dll. Saya yakin, mereka yang berrtahun-tahun tinggal di Eropa dan rindu tanah air, pasti seperti menemukan “rumah”  ketika masuk restoran ini.

20170211_194106

Saya dan teman-teman, memilih duduk di lantai bawah. Sebuah ruang yang  cukup luas  untuk menampung sekitar 17-an orang. Dindingnya, seperti di lantai di atasnya, juga berhiaskan pernak-pernik berkaitan dengan nusantara.

 

20170211_193355

 

20170211_192038

Di tengah-tengah kesibukannya menerima tamu-tamu restorannya, Bu Anita menemui kami. “Di sini dulu pernah tinggal Xanana,” katanya menunjuk sebuah sudut di ruang itu. Tentu saat itu Xanana masih berstatus pejuang Timor Leste dan belum menjadi presiden.

Sekitar dua jam lebih kami di restoran ini sebelum kemudian pamit karena harus segera pulang ke hotel untuk bersiap-siap esoknya terbang ke Guyana. Lihat: Melihat Peluncuran Satelit di Guyana

Bu Anita menyalami kami satu persatu. Wajahnya sumringah.  Di atas, restoran itu sudah sesak. Semua kursinya  terisi para tamu yang semuanya berwajah bule. Terdengar denting garpu dan sendok di mana-mana.

Di luar udara sangat dingin, sekitar satu derajat celcius. Hujan mulai menderas. Saya merasa hidung saya sesak  -membeku.  Dari dalam bus yang bergerak perlahan meninggalkan 12 rue de vaugirard tersebut, untuk terakhir kalinya saya menatap tulisan “Restoran Indonesia” yang sudah berumur 35 tahun itu. Restoran ini tampaknya sudah berhasil menjadi “duta kuliner  Indonesia”  -berkat empat anak muda yang “dicap” PKI itu. ***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s