Kos Mahasiswa Universitas Indonesia (2-Keluyuran di UI)

SEJUMLAH teman di Tempo anaknya diterima di Universitas Indonesia. Tentu membahagiakan dan juga membanggakan. Ya, di zaman persaingan masuk perguruan tinggi negeri yang makin ketat, di zaman kuliah yang tentu biayanya tidak sedikit, siapa tidak senang anaknya diterima di universitas negeri. Saya termasuk  yang tentu saja senang. Sejak awal, saya tidak berani membayangkan bagaimana jika anak saya tidak diterima di universitas negeri. Tidak mungkin saya bisa mendaftarkan ke universitas swasta yang bagus, yang pasti puluhan atau bahkan ratusan juta biaya masuknya.

Saya merasa bersyukur ketika Lintang diterima masuk Fakultas MIPA Jurusan Kimia tanpa tes.  Sepekan setelah ia dinyatakan diterima, saya dan istri juga anak saya yang bungsu iseng-iseng jalan-jalan ke UI. Siang itu matahari benar-benar menyengat. Kami bertiga berjalan menyusuri jalan UI yang lengang. Iseng-iseng yang membuat kaki pegal, tak terlihat ojek melintas, apalagi angkutan umum.

Di saat jalan tertatih-tatih itulah tiba-tiba ada mobil berhenti. Dari dalamnya melongok seraut wajah teman sekantor, Mas Sapto, redaktur bahasa. Lho kok ada di sini? “Anak saya keterima di Psikologi,” katanya. Rupanya ia tengah mencari alamat asrama mahasiswa. Saya menyalami anak dan istrinya, mengucapkan selamat.

Beberapa pekan kemudian di kantor saya mendengar dua teman saya lain, Uuk dan Ngarto Februana anaknya juga mendaftar masuk UI. Mereka memakai jalur ujian SBPTN yang tentu saja persaingannya sangat ketat. “Saya doakan keterima anak-anakmu dan jangan lupa mentraktir sate kalau keterima,” kata saya yang disambut anggukkan cepat Uuk. “Doakan ya, supaya anak-anak kita bisa kuliah sama-sama,” kata Uuk. Saya memang mendoakan mereka karena saya juga memahami bagaimana kecemasan orangtua jika anaknya masuk perguruan tinggi negeri.

Begitulah, ternyata Tuhan mengabulkan doa dan harapan teman-teman kami. Putra Uuk diterima di MIPA Jurusan Statistik dan putri Ngarto di MIPA  Jurusan Geografi.  Uuk menepati janjinya mentraktir saya sate kambing di depan kantor. “Sebelum buka pengumuman saya minta anak saya berdoa terus menerus,” kata Ngarto dengan wajah  sumringah. Saat hari “H” pengumuman, Ngarto tak muncul di kantor. “Mungkin dia sedang merayakan kebahagiaan dengan makan-makan di luar,” kata Uuk serius.

Di Gedung Rektorat UI

Ini mungkin jarang terjadi. Ada empat wartawan Tempo secara bersamaan  anaknya diterima di UI dan tiga diantaranya semua di MIPA. Maka kami pun sepakat, untuk bertemu di UI   pada  hari pertama penerimaan  mahasiswa baru.

Begitulah, pada hari yang ditentukan saya ke UI bertemu dengan teman-teman dan keluyuran di UI. Di antara kami bertiga, Uuk-lah yang paling tahu medan UI karena dia pernah kuliah di Jurusan  Bahasa Indonesia UI. “Teman saya banyak jadi dosen di UI,” katanya mengajak kami menengok teman-temannya  -ajakan yang tidak bisa dipenuhi lantaran  itu pasti  mengganggu teman-temannya.

Berempat kami menyusuri UI, melihat mahasiswa baru dan mencari di mana masing-masing anak kami. “Padahal mereka sendiri pasti nggak mau kalau dilihat bapaknya,” kata Sapto sambil tertawa. Dan memang,  mencari empat anak di antara ribuan mahasiswa UI bukan hal gampang. Saya sendiri khawatir jangan-jangan mereka sebenarnya melihat kami, yang mengelilingi mereka, tapi mereka sengaja menyembunyikan mukanya.  Anak-anak zaman sekarang, tentu beda dengan generasi kami. Maka kami pun membuat acara sendiri: foto-foto dan minum-minum di salah  satu café di samping gedung MIPA.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s