Melongok dan Melongo di Depan Rumah Mewah Bos First Travel

Sabtu pagi kemarin saya mendapat tugas dari fotografer Tempo untuk memfoto rumah pemilik bisnis umrah PT First Travel, Andika Surachman, yang namanya tengah jadi buah bibir orang “se-Indonesia.”

Sebenarnya tentu saja itu bukan pekerjaan saya. Apalagi saya juga tidak punya perangkat fotografi yang canggih. “Rumah Cak Bas kan di Bogor, kan lebih dekat dibanding saya di Jakarta,” kata sang fotografer senior itu dengan  enteng. Ya, sudahlah saya terima perintah agak kurang ajar ini. Maka Sabtu itu saya pun berangkat ke Sentul City, Jalan Venesia, alamat rumah  Andika yang sekarang bersama istrinya menjadi tahanan polisi.

Rumah Andika Surachman di Sentul City, Kabupaten Bogor

Awalnya saya berencana mau naik sepeda motor saja. Pertimbangannya, lebih santai dan juga biasanya kalau hari Sabtu Bogor itu macet. Tapi, lewat mana? Saya tidak menemukan jalan yang dekat. Seingat saya, satu-satunya jalan kalau naik sepeda motor harus melewati daerah Ciluar lalu ke Citeureup, baru belok kanan, masuk Sentul City. Jauh,  bisa 40-an kilometer. Ada pun kalau lewat tol, dari tengah kota Bogor, langsung wuss, lurus sampai. Akhirnya, sembari berdoa  moga-moga Bogor tidak macet, saya putuskan naik mobil.

Masih pagi, sekitar jam 9-an ketika saya memasuki kawasan Sentul City. Oh iya, ini kawasan elite di Kabupaten Bogor. Di sini ada tempat wisata Jungle Land, tempat wisata yang pemiliknya mungkin berkeinginan menyediakan  berbagai wahana permainan seperti  di Dufan, Ancol. Daerahnya berbukit-bukit, masih banyak tanah kosong dan dari jalan kita bisa melihat sejumlah rumah  yang demikian besar bak istana yang mungkin membuat orang setidaknya bertanya:  punya siapa dan harganya berapa ya? Soal yang punya,  jawabannya, menurut orang di sana, “macam-macam. “  Ada jenderal, pejabat, artis, dan pengusaha, ya seperti Andika itu.

Rumah Andika terletak di jalan kiri  pertama cluster Venesia. Jalan yang hanya cukup untuk satu mobil –jika ada dua, satu  menepi dulu.  Saat saya memasuki jalan itu, tak ada satu pun mobil yang lewat. Tak terlihat juga orang atau anak-anak lari-lari seperti di kompleks saya yang gaduh apalagi jika Sabtu dan Minggu –menjadi pasar karena ratusan pedagang, entah dari mana datang berjualan di sana dan Pak Lurahnya hanya melongo-longo.

Letak dan posisi rumah  Andika  memang asyik.  Di depannya ada bebukitan penuh dengan pohon cemara yang segar dan subur. Ada 14 pilar yang menyanggah atap rumahnya yang berbentuk kubah. Di sebelah kanan rumah  ada pula pos satpam.  Rumah yang indah, nyaman, dan tenang.

Luas lahan rumah itu sekitar seribu meter persegi. Kalau harganya rumahnya saya tidak tahu. Ada yang menaksir biaya pembangunannya tak kurang dari Rp 20 miliar. Ada pula yang bilang lebih dari itu.  Yang pasti tiga tahun lalu harga tanahnya saja per meter Rp 2 juta, dan sekarang sudah berlipat dua kali. Sebelumnya di sana memang hanya lahan kosong.

Saya sempat memanjat pagarnya melongok-longok ke dalam –juga keluar- untuk melihat-lihat siapa tahu ada satpam lewat supaya bisa ditanya “ita-itu…” Tapi, tak ada siapa pun. Sampah daun berceceran di beberapa sudut rumah. Dua pintu gerbangnya yang besar mendapat hadiah pita kuning  policeline dari para polisi Bareskrim.

Waktu saya sedang melongok-longok di depan rumah itu, sebuah mobil sedan berhenti. Kepala pengemudinya keluar. “Ini rumahnya bos travel yang menipu jamaah umrah itu ya?” katanya  -juga dengan enteng. Saya melihat di dalam mobil ada beberapa kepala lain.  Pengemudi itu  mengaku datang dari Jakarta.  Rupanya sang pengemudi,  bapak itu,  bersama anak-istrinya sedang “piknik”, seperti saya, melihat “pemandangan”  rumah bos First Travel. Saya  tersenyum kecut mendengar  Ia menekankan kata “menipu” itu.

Waktu pulang saya mampir ke rumah Pak RW, Wishnu Soehardjo  yang letaknya sederetan dengan rumah Andika. Pak Wishnu sebelumnya RT di kompleks itu. Menurut dia, Andika tinggal di sana sejak 2014-an. “Orangnya sih baik, nggak ada masalah di sini,” kata Pak Wishnu.  Pak Wishnu bercerita, pernah ketika acara 17-an, Andika menyumbang sekitar Rp 15 juta. “Kalau sekarang ya nggak, kan dia kena masalah,” katanya sembari tertawa kecil  waktu saya singgung apakah untuk 17-an kali ini Andika masih sempat ikut nyumbang duit.

Saya berterimakasih kepada Pak Wishnu yang memberi saya sejumlah informasi yang saya perlukan untuk penulisan kisah bos  First Travel  itu. Sebelum pulang, saya mendapat oleh-oleh mengejutkan dari Pak RW ini. Olala, ternyata beliau, selain pengusaha, dosen, dan entah apalagi, juga penulis. Ini bukunya….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s