Meriahnya Wisuda ITB

Tak terasa Bagas telah lulus dari ITB. Serasa waktu begitu cepat dan masih terbayang di kepala saya sekitar bulan Agustus 2013 silam. Rame-rame saya, istri bersama dua adiknya mengantar dia ke tempat kosnya di daerah Cisitu Lama dengan segala tetek bengek perlengkapannya sebagai anak kos-kosan. Dari sarung bantal, selimut, rak sepatu, kotak buku, hingga segala perlengkapan mandinya.  Setelah itu kami sesekali menengok dia. Kadang saat di Bandung, apalagi tahun-tahun pertama kuliahnya, ia seperti demikian sulit untuk jalan bersama lantaran kesibukannya yang “aneh-aneh”: ikut futsal, ikut orkestra,  latihan menyelam, dan entah apa lagi.

Pintu masuk menuju Gedung Sabuga ITB

Sabtu kemarin sebagai orangtua, saya diundang untuk menghadiri acara wisudanya di Gedung Sabuga, gedung pertemuan ITB yang letaknya di belakang kampus ITB  yang kedua tempat ini dihubungi  terowongan yang “membelah” jalan Dayang Sumbing. Kami menginap di Hotel Patra, yang letaknya di Jalan Dago dan tak jauh dari kampus Ganesha itu.  Walau acara  dimulai jam delapan pagi, Bagas, yang malam itu ikut menginap bersama kami, mewanti-wanti  berangkat pagi. “Paling lambat setengah tujuh sudah di sana, pasti macet kalau lebih dari itu,” katanya.

Pagi itu setelah breakfast, kami meluncur ke Sabuga. Benar juga, suasana sudah ramai. Tukang foto menjeprat-jepret (tanpa kami minta) dan pedagang kembang, yang menggelar dagangannya sepanjang jalan, tak henti-hentinya menawarkan dagangannya. Tukang foto yang muncul dalam acara wisuda rupanya, di abad digital dan HP ini, tetap ada  —seperti zaman saya puluhan tahun . Yang tak ada di zaman saya adalah “tradisi” memberi kembang itu. Tradisi memberi kembang kepada wisudawan setidaknya saya lihat di kampus UI juga. Mungkin juga di kampus lain. Setidaknya ini juga menambah matapencarian orang –para penjual kembang dadakan.

Pedagang memenuhi pelataran Gedung Sabuga

Wisuda ITB Oktober kemarin merupakan wisuda ke tiga tahun ini  -terakhir tahun ini. Untuk Oktober ini, wisuda, karena banyaknya diwisuda berlangsung tiga kali, Kamis, Jumat, Sabtu. Sabtu kemarin selain Fakultas Bagas (Teknik Sipil dan Lingkungan), juga yang diwisuda lulusan Fakultas Teknik Mesin, Sekolah Binis Managemen (SBM), Fisika, dan Seni.

Suasana Wisuda dalam Gedung Sabuga

Acara wisuda berlangsung efektif, dari pukul 08 sampai 12. Dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya yang diikuti semua yang ada di dalam ruang dan juga mengheningkan cipta yang diiringi lagu “Mengheningkan Cipta.” Suasana khidmat menyergap di gedung yang cukup megah yang dibangun di era rektor Wiranto Arismunandar  -yang saat itu juga hadir dan diperkenalkan oleh Pak Rektor ITB.

Tamu istimewa wisuda adalah duta besar Prancis untuk Indonesia yang juga diberi kesempatan oleh Rektor ITB Prof. Dr. Ir. Kadarsah Suryadi memberi sambutan. Para orangtua duduk di tribun dan wisudawan di bawah. Paduan suara mahasiswa ITB plus  grup mahasiswa yang memainkan musik angklung ikut mengisi acara wisuda yang diiringi jeda sekitar setengah jam itu.

Sebelum pembacaan nama para wisudawan, Rektor ITB membaca sejumlah prestasi mahasiswa ITB, para dosen,  mulai Juli (saat wisuda terakhir) hingga Oktober ini. Baik prestasi internasional  maupun nasional. Saya mendengar sedikitnya ada 50-an berbagai prestasi internasional yang diraih para dosen maupun mahasiswa dalam waktu beberapa bulan itu. Tidak mengherankan memang jika melihat reputasi ITB. Rektor memberi pesan tantangan para wisudawan dalam melihat perkembangan dunia masa kini, yakni menyangkut tiga hal penting, antara lain  energi dan pangan.

Tapi Pak Rektor, yang saya kira pribadi humoris itu,  tak hanya membaca prestasi yang berkaitan dengan “otak”  saja. Para tamu tertawa saat Rektor menyebut prestasi belasan dosen ITB yang berhasil menyelesaikan lari marathon Jakarta-Bandung selama sekitar 25 jam. Suasana riuh dan tepuk tengan membahana saat ia  menyebut nama dosen itu satu persatu dan meminta mereka berdiri dan wajahnya,  sembari cengar-cengir, muncul di layar lebar yang terpampang di depan para wisudawan dan undangan.

Yang lucu adalah saat pembacaan kesan dan pesan yang disampaikan para wisudawan. Rupanya ITB meminta para wisudawan yang lulus cumlaude dan yang lulus dengan masa belajar terlama  menulis kesan dan pesan yang kemudian secara acak dipilih. Yang membaca bukan para wisudawan tapi pembantu rektor.

Kesan dan pesan yang disampaikan mahasiswa cumlaude itu, misalnya, mereka mengaku di ITB tidak ada perbedaaan apa pun. Suasana belajar yang nyaman. Teman dan dosen yang dalam pergaulan tak ada perbedaan.  Ada yang mengaku menghabiskan waktu mereka selain belajar, olahraga, dan juga kuliner. (yang terakhir ini membuat para tamu tertawa). Ada yang terus terang mengaku sebal karena menjumpai dosen resek. “Saya ingin cepat lulus karena tak ingin ketemu dosen resek itu,” tulisnya yang membuat para tamu terbahak-bahak. Lalu sang mahasiswa itu  mengusulkan agar perpustakaan buka 24 jam (ini juga membuat para tamu tertawa).

Soal permintaan perpustakaan buka 24 jam ini menurut saya serius. Para mahasiswa ITB, seperti yang saya lihat dari  Bagas, banyak mendapat tugas, apalagi di akhir-akhir kuliah.  Di perpustakaan mereka bukan hanya bisa belajar dengan tenang, mencari buku yang diinginkan, juga ada akses internet.  Saya kerap menelpon Bagas malam-malam dan mendapat jawaban ia dan teman-temannya sedang  di sebuah café atau  Mc Donald untuk mengerjakan tugas kuliah. Pilihan tempat itu karena satu alasan: ada internet gratis dan tempat yang mendukung untuk belajar.  Biasanya kalau ia menjawab sedang di café atau Mc Donald adik-adiknya langsung teriak…”Enak…..banget…” Ada pun Bagas menjawab. “Kami hanya pesan minum, irit yang penting ada internet…..”

Ada pun mahasiswa yang lulusnya terhitung lambat menulis kesan yang intinya mengakui kesalahannya:  tahun pertama, kedua, ketiga ia mengaku sibuk berbagai kegiatan. Setelah itu sadar diri temannya sudah banyak yang lulus.  Acara wisuda itu sendiri kemudian ditutup, setelah dengan cepat para wisudawan dipanggil ke depan untuk bersalaman dengan Rektor, dekan dan ketua jurusan, dengan pembacaan doa. Bagas, alhamdullilah,  lulus dengan predikat cumlaude.

Bersama tantenya.

 

Dengan Lintang

Wisuda memang berlangsung cepat. Yang justru  lama adalah acara “wisuda versi mahasiswa.”  Saya kira ini uniknya acara wisuda ITB. Para mahasiswa mengawal kakak angkatan  yang baru wisuda melalui lorong dari Gedung Sabuga menuju gedung perkuliahan ITB dengan yel-yel yang diperagakan di mulut lorong keluar menuju kampus ITB. Ini bukan acara spontanitas. Ada panitianya, ada pengatur, seksi pengamanan,  dan masing-masing jurusan diberi waktu sekitar 15 menit untuk beorasi, berteriak-teriak, menari-nari dan seterusnya. Lucu, liar, mengharukan, juga menggetarkan.

Di sebuah  tembok, tepat di atas mulut lorong tempat “munculnya” para wisudawan, saya melihat poster  menyambut  tiga wisudawan lengkap dengan fotonya. Di bawahnya tertulis: “Ikatan Mojang Bandung mengucapkan selamat atas diwisudanya….” Lalu di sebelahnya gambar wajah gadis-gadis bohai, entah siapa mereka, tersenyum genit…

Teknik Kelautan

Fakultas Seni dan Desain

“Seragam” hula-hula melepas rekan….

Bersiap mengantar rekan mereka yang diwisuda.

Para wisudawan yang diantar adik (atau juga kakak angkatannya yang belum lulus) berdiri di belakang bendera raksasa panji-panji  simbol Fakultas dan jurusan mereka. Dari  semua pawai  jurusan itu, satu yang sama: mereka mengakhiri ritual itu dengan tangan mengepal dan meneriakkan yel-yel jurusannya dengan semangat. Saya pikir, kebersamaan semacam itulah, yang dibentuk, dan  berlangsung bertahun-tahun, membuat mahasiswa ITB itu memiliki ikatan kuat dengan almamaternya, dengan rekan-rekan mereka.

 

Saya menikmati pawai itu –yang seumur hidup belum pernah saya lihat: ratusan mahasiswa teknik mesin dengan wajah coreng moreng mengawal dan melepas rekan mereka yang diwisuda  -dan dengan  pekikan  membahana.

Teknik Mesin

Demikian yang dilakukan para mahasiswa Teknik Sipil, Teknik Kelautan, hingga Jurusan yang termasuk  baru kemarin meluluskan wisudawan mereka: Teknik Sumber Daya Air. Lain daripada lain adalah wisudawan SBM, School of Business and Management ITB  yang uang kuliah dan masuknya paling mahal se-ITB. Para wisudawan perempuan tampil cantik, berkebaya, dan wangi.  Di tengah pawai, sejumlah wisudawan menyebar duit  -focopian- lima puluh ribu rupiah. SBM memang  identik dengan calon “pencipta duit.”

Rombongan SBM

Saya tidak menonton habis acara itu karena hujan turun dengan deras. Hujan turun persis ketika giliran tampil rombongan Teknik Kelautan, rombongan Bagas. Saya tidak tahu bagaimana akhir pawai yang belum selesai itu. Bagas sendiri, setelah acara pawai itu, masih ada acara lain di jurusannya.  Kami segera pulang ke hotel.

Malamnya sekitar pukul 21.00 Bagas muncul di hotel, masih memakai jas yang dipakainya wisuda. Ia menjinjing sebuah tas yang isinya aneka macam benda. “Hadiah dari  teman-teman,” katanya. Saya lihat: ada coklat, berikat-ikat kembang, boneka beruang mungil, kue, permen, helm proyek dengan simbol laut di depannya, bantal leher,  jam weker  dll. Semuanya disertai tulisan di secarik kertas yang mengucapkan selamat atas kelulusan Bagas.  Kini  dunia lain sudah menunggu dia. Dan semoga tercapai apa yang dia angankan.

 

5 thoughts on “Meriahnya Wisuda ITB

  1. Selamat buat anaknya Baskoro yg telah sukses menempuh kuliah di perguruan Tinggi ternama ITB bandung .
    Semoga Bagas akan jadi anak yang sangat berguna bagi semua nya dan sangat membanggakan tentunya buat orang tua nya …aamiin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s