Satu Malam di Cafe Singkong Keju D-9 Salatiga

Kami datang ketika jam sudah menunjuk angka sembilan lebih, ketika malam makin menggelayuti kota Salatiga. Jumat malam itu, setelah menaruh barang di rumah yang disediakan kawan saya yang punya hajatan, saya dan teman-teman dari Palangkaraya mengunjungi  Café D-9, café spesialis singkong keju  yang paling top di Salatiga.

Singkong keju D-9 sudah saya dengar setahun belakangan ini. Saya pernah mencicipinya sepotong ketika ada teman kantor membawanya. “Salatiga kini terkenal gara-gara singkong keju ini,” ujar teman saya yang punya bisnis sampingan toko oleh-oleh. Singkong tersebut memang empuk, renyah, dan gurih. Dari baca-baca di internet, rupanya merk D-9 itu adalah nama blok sel empunya, Hardadi, saat mendekam di penjara Solo. Singkong keju D-9 itu memang produksi Hardadi setelah ia  keluar dari penjara dan kemudian harus putar otak mencari penghasilan untuk istri dan tiga anaknya.

Rumah yang menjadi Café D-9 di Jalan Argowiyoto itu,  sudah sepi ketika kami tiba. Terlihat sejumlah rumah di sana kini dijadikan kios toko oleh-oleh –terutama penganan singkong. Saya yakin jika siang atau hari libur gang ini pasti hiruk pikuk. Konon, demikian menurut sejumlah orang, pengunjung mengantri untuk membeli singkong D-9 itu.

Hanya ada dua mobil parkir malam itu dan saya melihat hanya ada tiga tamu yang duduk di sebuah meja. Kami memilih duduk di bangku panjang dan beberapa teman segera memesan “singkong keju.”  Toppingnya macam-macam, ada coklat, keju dll. Untuk minumannya saya memesan wedang uwuh  -minuman khas Yogya yang di dalamnya terendam dengan  damainya berbagai rempah-rempah. Singkong dan wedang uwuh, yang keduanya dinikmati panas-panas,  adalah pasangan abadi yang pas…..

Kami beruntung malam itu  sang bos Singkong Keju D-9, Pak Hardadi,  belum pulang, Ia tersenyum kecil ketika saya mengajaknya duduk bersama kami. Saya kenalkan bahwa kami  dari Bandung, Bogor, dan Palangkaraya.  Saya dan kawan-kawan pun kemudian bertanya segala hal tentang bisnis singkong kejunya. “Ini semua rezeki dari Allah,” katanya. “Memang nama D-9 itu nama blok saya saat saya di penjara selama enam bulan di Solo,” katanya ketika saya tanya apakah benar D-9 itu nama blok sel-nya. “Kasus apa?,” tanya saya lagi. “Narkoba,” ujarnya, perlahan.

Pak Hardadi  berkisah, seusai menjalani hukuman penjara, ia kemudian bekerja apa pun untuk menghidupi keluarganya. “Yang penting halal,” ujarnya. Tempat jualannya antara lain di lapangan, di pinggir jalan. Sampai suatu ketika ia teringat pada makanan singkong keju yang pernah dicicipinya saat bekerja di Jakarta. “Saya memutuskan  berjualan singkong keju.”

Saat kami tanya apakah ia bersedia menjelaskan rahasia singkong kejunya, ia mengangguk. “Singkong itu digoreng dua kali. Yang pertama, setelah digoreng dimasukkan ke dalam bumbu dan kemudian digoreng lagi.” ujarnya

Berdiri sejak 2010, setiap pekan tak kurang 5 ton singkong dikirim dari berbagai daerah di Jawa Tengah ke rumahnya itu. Tidak semua singkong ternyata bisa menjelma menjadi singkong keju yang nikmat. Pak Hardadi menyebut, salah satu jenisnya singkong Gatotkoco  -jenis singkong yang tidak pernah saya dengar di Bogor. “Kebanyakana singkong itu datang dari daerah Wonosobo,” ujarnya.

Pak Hardadi  mengajak kami ke tempat pengolahan singkong kejunya. “Tidak jauh kok, di depan itu,” ujarnya menunjuk sebuah gang di depan kami duduk. Beberapa teman, yang sedang asyik makan singkong keju yang nikmat itu segera menghentikan aktivitas tangan dan mulutnya. “Nanti, habis lihat tempat pengolahan singkong itu, kita makan lagi…” ujar seorang teman sembari  berdiri mengikuti Pak Hardadi.

Setelah melewati sebuah gang sejauh sekitar 20 meter kami sampai ke “pusat” pembuatan singkong keju. Sebuah mobil bak terbuka tengah menumpahkan muatannya yang penuh singkong. Sebagian dimasukkan ke dalam bak air –untuk mencuci sekaligus menjaga kualitasnya. Beberapa pekerja memotong singkong dengan sebuah alat.

 

“Kita lihat ke sana,” kata Pak Hardadi mengajak kami ke sebuah rumah di seberang tempat penampungan singkong.  Inilah tempat penggorengan, penyortiran, sekaligus packaging Singkong Keju D-9. Sejumlah ibu terlihat memilah-milah, memotong, dan memasukkan singkong ke kardus dan plastik. Dilakukan manual tapi terlihat hieginis. Para ibu-ibu tersebut saya yakin pasti warga sekitar.  Singkong di dalam plastik itu, menurut Pak Hardadi, akan tahan lama jika dimasukkan freser. Singkong D-9 memang sudah melanglang ke mana-mana. Bahkan ada agen yang mengirimkannya hingga ke Freeport, perusahaan emas di pegunungan Papua sana. “Pengirimannya harus beku supaya kualitasnya tidak rusak,” katanya.

Jika dulu Pak Hardadi  sendiri yang ke sana- ke mari mencari singkong, kini  ada pemasok yang mengirim singkong secara rutin. Pak Hardadi kini tak sekadar   “menghidupkan” para petani singkong, juga sekitar seratus orang yang bekerja di tempatnya – Café dan “pabrik singkong D-9- di Jalan Argowiyoto tersebut. Ketika saya bertanya, apakah ia bersedia untuk membagi “ilmu persingkongannya”  jika teman-teman saya mengundangnya ke Palangkaraya,  ia menggangguk. “Tentu, saya akan membagi apa yang saya ketahui, tidak ada yang saya rahasiakan,” katanya.

Kami kemudian balik lagi ke café D-9. Beberapa teman sudah tak sabar untuk melahap singkong keju aneka topping yang tadi kami tinggal.

Tapi, lho, meja ternyata sudah bersih. Aneka singkong keju dan minuman yang tadi kami pesan sudah lenyap dengan sukses.  “Maaf saya kira sudah selesai,” ujar seorang pelayan dengan wajah bersalah.  Ya, tadi kami lupa memberi pesan kepada pelayan café,  singkong keju kami jangan diangkut dulu.

Ketika seorang teman meminta agar kami dibuatkan kembali singkong keju seperti yang tadi kami order, jawaban sang pelayan membuat kami tersenyum kecut. “Maaf singkong seperti yang dipesan tadi sudah habis…..”

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s