Pelatihan Anti Hoaks di Cimahi Bersama Tempo Institute

Di zaman now ini setiap orang bisa membuat berita dan menjadi “kantor berita.”  Dengan gadget di tangan  -berapa pun  harganya: puluhan juta atau seratus ribu rupiah-  seseorang bisa membuat orang lain terkejut, gembira, sedih, marah, atau juga menjadi  anarkis. Luar biasa yang terjadi di kita dan sekeliling kita. Maka yang paling penting untuk ini semua: pikirkan sebelum menulis atau mengirimkan apa pun berita dan informasi untuk orang lain. Baik yang engkau ciptakan atau kau dapatkan.  Pikirkan, terutama, dampaknya.

Itu inti “ceramah” super singkat saya pekan lalu di depan sekitar 500 mahasiswa, pelajar dan pramuka di gedung pertemuan di Kampus Universitas Achmad Yani, Cimahi, Jawa Barat.

Sabtu pekan lalu itu saya diminta Tempo Institute, lembaga pendidikan jurnaslitik Tempo yang dipimpin Mardiyah  -yang kadang-kadang saya candain dengan menyebutnya “rektor seumur hidup”- untuk menyampaikan materi seputar hoaks dan bagaimana media melakukan verifikasi atas berita-berita yang berseliweran di mana-mana. “Intinya yang 5 W dan 1 H, itu cak,” ujar  Dahlia, salah satu staf Tempo Institute menyebut prinsip kerja jurnalistik saat menghubungi saya untuk memberi materi di acara yang berlabel “Tempo Goes to Campus” tersebut.

Acara Pembukaan: main angklung bersama pembicara lain, panitia dll

 

Dengan Tempo Institute saya  sudah tak terhitung –tepatnya lupa me- berapa kali kerja sama, diminta, untuk “mengajar.” Baik di luar kota maupun di kantor Tempo sendiri  -sejak lembaga itu berdiri yang praktis tanpa dimodali empunya kecuali modal percaya diri Bu Rektor tersebut.  Biasanya materi yang kerap saya bawakan: membuat opini, menulis artikel di media massa, rambu-rambu hukum jurnalistik,  dan sejenisnya. Ada pun yang soal hoaks atau berkaitan dengan hoaks  -dengan Tempo Institute- ya baru kali ini.

Ini materi asyik, juga kotanya, Cimahi, kota yang belum pernah saya datangi. Secara pribadi saya pernah beberapa kali menyarankan Mardiyah, agar lembaganya tersebut lebih kerap  datang ke kota-kota kecil, bukan hanya  “kota-kota mainstream” atau ibu kota provinsi saja,  seperti Medan, Makassar, Surabaya, Pontianak. Kota kecil juga banyak perguruan tinggi, dan soal penggunaan gadget, dalam kaitan materi melawan hoaks seperti yang kini sedang menjadi progam Tempo Institute, tentu mahasiswa dan pelajar di sana tak kalah “sigapnya” dengan mereka yang tinggal di kota besar –sekaligus dampak-dampaknya.

Demikianlah, Sabtu pekan lalu itu, saya utarakan kepada para mahasiswa dan pelajar dari kota-kota di Jawa Barat itu,  bagaimana posisi Indonesia dalam bermedia sosial. Misalnya, ada 130 juta orang Indonesia yang aktif bermedsos, Indonesia pemakai Facebook terbanyak ke empat di dunia atau juga rata-rata setiap orang Indonesia setiap hari berinteraksi dengan medsos selama tak kurang tiga jam.

“Dan bukan berarti setiap berita yang muncul di media online itu benar,” kata saya. Saya terangkan bahwa membuat media online itu gampang, tapi tidak semua media online itu sesungguhnya  media yang benar.  “Mungkin saja itu media abal-abal yang dibuat dengan tujuan tertentu, dan kalian sebagai generasi milineal harus kritis soal ini. Jangan setiap informasi dikira benar dan langsung diforward.”  Saya tekankan, media abal-abal tidak akan pernah dibela Dewan Pers karena sesungguhnya media yang benar memiliki kriteria-kriteria yang sudah digariskan oleh UU Pers dan Dewan Pers. Karena  baru saja ramai peristiwa kerusuhan di Markas Brimob yang menyebabkan sejumlah anggotanya  tewas, saya tekankan juga bahwa pasti  berita-berita seputar peristiwa itu akan berseliweran di medsos selama pekan-pekan ini . “Nah, hati-hati, kritis dan jangan asal forward jika berita itu tidak benar atau meragukan.”

Tidak hanya saya yang diminta Tempo Institute untuk bicara pada hari itu. Selain saya ada pemateri lain dari ICT Watch dan Mafindo. Saya mendengar materi keduanya yang juga penting  itu.

Acara yang dimulai pukul 13.00 itu selesai sekitar pukul 18.00. Dua jam terakhir digunakan para peserta untuk diskusi kelompok membahas bagaimana mereka menangkal dan menyikapi hoaks. Hadiahnya lumayan membuat mereka antusias. Juaranya akan diundang ke kantor Tempo, mengikuti acara tahunan yang akan digelar Tempo Institute.

Diskusi ini seru juga. Saya berkeliling mengamati bagaimana para peserta berbaur dari sebelumnya tak kenal menjadi akrab dan berdebat bagaimana menemukan strategi yang pas untuk menangkal hoaks. “Perlu dideklarasikan seluruh pelajar dan mahasiswa Cimahi untuk melawan hoaks,” ujar seorang peserta yang menamakan grupnya Paha –ia menyebutnya akronim “Pemuda Anti Hoaks” bersemangat. Seru, ramai, dan kadang diiringi gelak tawa dalam celotehan dengan logat sunda yang kental. “Kapan-kapan nanti abang saya undang untuk beri kami pelatihan jurnalistis ya,” kata seorang mahasiswa sembari meminta nomor WA saya. Saya mengangguk.  (Beberapa hari kemudian, memang ia  menghubungi saya.)

Tak seperti panitia yang menginap, malam itu juga saya pulang ke Bogor. Seperti berangkatnya, pulangnya, mobil travel  saya melalui jalur Puncak –jalur yang selama sepuluh tahun (atau lebih) tidak pernah saya lewati karena biasanya saya memilih “jalur Cipularang.” Hasilnya memang menyedihkan. Jalur itu macet total. Jadi, memang benar kata orang, libur atau menjelang hari libur, jalur puncak selalu padat, bahkan kemacetan itu sampai ujung menjelang masuk Cianjur.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s